Nov 27th, 2008
Mas Bardji
Di toko CD jarang ada yang seperti ini. Konsumen dibiarkan mengamati barang dagangan yang ada di situ tanpa “direcoki” penjaga toko. Barangkali inilah bedanya toko CD dan “toko” burung. Manuk (bhs Jawa). Di toko manuk, bukan penjaga yang ngoceh, tapi dagangannya sendiri yang langsung bicara ke konsumen.
Jadinya, kalau dilihat dari niatnya untuk tak mengganggu konsumen, toko manuk tampaknya lebih beradab. Disitu, konsentrasi konsumen ke dagangan lebih terjamin. Sementara pedagangnya sendiri lebih mirip “regulator”. Praktis ia “hanya” menyediakan tempat dan pasang bandrol. Selebihnya terserah konsumen.
Di kawasan Pondok Gede, mungkin Mas Bardji bisa disebut sebagai salah satu contohnya. Dan tokonya, tak jauh dari per3an Bojong itu, laris manis. Lewat penerapan ketat prinsip regulator, di situ ada kenyamanan, yang seolah bisa mengusir rasa watir akan “flu burung”. Di sebelah-sebelahnya memang banyak toko lain yang jauh lebih besar. Tapi soal laris, sejauh ini, belum ada yang bisa ngalahin tokonya Bardji.
Barangkali ini bisa jadi pelajaran bagi Yusuf Kalla dan Sofyan Djalil. Gimana berperan sebagai regulator yang baik. Pasalnya, belakangan, ke-2nya tak ubahnya pedagang CD. Ngrecokin, bahkan ngarah-arahin konsumen, untuk membeli dagangannya.
Kalau memang manuknya perusahaannya Aburizal Bakrie bagus, tak usah disuruh-suruh, maka BUMN pasti akan mau beli Bumi Resources Tbk.