Archive for the tag 'aburizal bakrie'

Bah Reggae

Mas Bardji

Di toko CD jarang ada yang seperti ini. Konsumen dibiarkan mengamati barang dagangan yang ada di situ tanpa “direcoki” penjaga toko. Barangkali inilah bedanya toko CD dan “toko” burung. Manuk (bhs Jawa). Di toko manuk, bukan penjaga yang ngoceh, tapi dagangannya sendiri yang langsung bicara ke konsumen.

Jadinya, kalau dilihat dari niatnya untuk tak mengganggu konsumen, toko manuk tampaknya lebih beradab. Disitu, konsentrasi konsumen ke dagangan lebih terjamin. Sementara pedagangnya sendiri lebih mirip “regulator”. Praktis ia “hanya” menyediakan tempat dan pasang bandrol. Selebihnya terserah konsumen.

Di kawasan Pondok Gede, mungkin Mas Bardji bisa disebut sebagai salah satu contohnya. Dan tokonya, tak jauh dari per3an Bojong itu, laris manis. Lewat penerapan ketat prinsip regulator, di situ ada kenyamanan, yang seolah bisa mengusir rasa watir akan “flu burung”. Di sebelah-sebelahnya memang banyak toko lain yang jauh lebih besar. Tapi soal laris, sejauh ini, belum ada yang bisa ngalahin tokonya Bardji.

Barangkali ini bisa jadi pelajaran bagi Yusuf Kalla dan Sofyan Djalil. Gimana berperan sebagai regulator yang baik. Pasalnya, belakangan, ke-2nya tak ubahnya pedagang CD. Ngrecokin, bahkan ngarah-arahin konsumen, untuk membeli dagangannya.

Kalau memang manuknya perusahaannya Aburizal Bakrie bagus, tak usah disuruh-suruh, maka BUMN pasti akan mau beli Bumi Resources Tbk.

Bah Reggae

Che Bakrie, Bob Bakrie atau John Bakrie?

Setiap jaman punya bintang. Tapi “icon” lebih dari sekadar bintang. Ia melewati jaman. Maka ada Che Guevara, Bob Marley dan John Lennon, misalnya. Dan anehnya, di pasar pop, memang hanya mereka-mereka itulah yang paling sering muncul. Coba, mana ada stiker atau poster Adam Smith atau John Maynard Keynes.

Agus Suwage di Nadi Gallery beberapa saat lalu, dalam pamerannya yang berjudul “I/Con”, juga hanya memunculkan Thom Yorke, Peter Gabriel, Tracy Chapman atau Jaco Pastorius.

Barangkali karena “pasar yang kejam” itulah maka PKS yang menjadikan Soeharto pahlawan dikecam banyak pihak. Iklan kampanyenya yang memuat gambar Soekarno juga bikin (sebagian) pasar PDIP gusar. Pasar, memang, ya itu tadi, kejam. Apalagi menjelang pemilu begini. Rebutan ikon – juga koin (?) — jadinya kenceng.

Tapi, selain pasar yang kejam, tak setiap orang mau jadi ikon. Bob Dylan, misalnya. Ia menolak jadi ikon kaum hippies. Malah tak cuma menolak, ia juga meledek habis mereka yang hendak mengikonkannya di Stuck Inside of Mobile With The Memphis Blues Again (Blonde on Blonde, 1966). Dylan menyebutnya sebagai para gembel yang tak tahu apa-apa. Entah itu karena Dylan lagi sok “anti-hero” atau apa, yang jelas katanya,

Oh, the ragman draws circles/ Up and down the block/I’d ask him what the matter was/But I know that he don’t talk/And the ladies treat me kindly/And furnish me with tape/But deep inside my heart. I know I can’t escape/Oh, Mama, can this really be the end/To be stuck inside of Mobile/With the Memphis blues Again.

Dan mungkin, sampai batas tertentu, hari-hari ini, Aburizal Bakrie juga sedang menolak jadi ikon. Karena itu ia memperkarakan majalah Tempo yang terkesan hendak menjadinya ikon negeri ini akibat krisis global, lewat PT Bumi Resources Tbk. Padahal, di Koran Tempo, bisa dibilang Bakrie sukses jadi ikon lumpur Lapindo.

Bah Reggae

Bakrie Mundur, Rizal Ikutan

Seolah baru kemarin. Ia, berdesakan dengan tamu lain yang umumnya wartawan, khusyuk mendengarkan paparan para menteri tentang RAPBN. Tempatnya di aula Depkeu. Biasanya siang hari, 15 (atau pertengahan) Agustus, beberapa saat setelah Presiden menyampaikan RAPBN itu ke DPR.

Begitulah kebiasaan Aburizal Bakrie di jaman Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri jadi Presiden. Duduk, sesekali bertanya, juga terlihat mencatat sesuatu, lalu pulang sambil menggembol beberapa buku tentang RAPBN. Persis yang dilakukan audiens lainnya. Hampir setiap tahun selalu begitu. Dan itu baru berhenti ketika SBY jadi Presiden.

Tapi berhentinya kebiasaan Bakrie itu tak akan lama. Mungkin setelah pemilu, sekalipun SBY tetap jadi Presiden, Bakrie akan kembali lagi berdesakan, siang-siang, di aula Depkeu. Pasalnya, setelah pemilu itu ia tak ingin jadi menteri lagi. Siapa pun presidennya.

Mengapa harus setelah pemilu? Mengapa tak sekarang aja? Entahlah.

Yang jelas, beberapa jam setelah Bakrie menyatakan wegah jadi menteri lagi, Rizal Mallarangeng juga mundur sebagai Capres. Padahal sebelumnya ia masih terlihat antusias ketika bicara iklan barunya, yang katanya akan lebih dahsyat dan lebih di mana-mana ketimbang iklan sebelumnya.

Mundurnya Rizal pasti akan mengurangi suara mereka yang katanya hendak memanfaatkan fenomena Obama. Suara memelas tapi gagah – Kita harus berkata kepada para senior tersebut, we respect you, Sir and Madam. But please give some space to our new generation – mungkin tak akan terdengar lagi.

Juga tak akan lagi ada “patun berbalas patun” bak Yang Hujan Turun Lagi itu. Ketika Bill Liddle teman baiknya bilang, The time is not yours yet. You don’t have any chance whatsoever”, Rizal membalasnya dengan, If there is a will, there is a way. The “will” is here, and I am working out the “way”.

Luar biasa. Tapi semua itu tiba-tiba saja dengan begitu cepatnya menjadi “dulu”. Duyu, kata Project Pop. Itu dulu sebelum Bakrie menyatakan diri wegah jadi menteri lagi.

Siapa lagi menyusul setelah Rizal? Kabarnya, Golkar pun sekarang-sekarang ini juga lagi menghitung ulang koceknya.

Lha gimana Bakrie gak “mutung” jika semua pihak cuma mikirin kocek? Lho, emangnya Bakrie gimana? Lapindo bisa masuk APBN dan kemasan asyik buy-back saham BUMN yang boleh jadi isinya PT Bumi Resources Tbk itu apa? Hus! Kata Basiyo, “Wong urip iku bak-buk”.

Next »