Archive for the tag 'aksara'

Bah Reggae

Berita Dari Kawan

Kurang jelas, sejak kapan si kawan jadi tukang adu domba. Tapi, mungkin itu tak penting. Sebab, mungkin, justru memang harus seperti itulah konsumen yang aktif. Modalnya, katanya, cuma ini: mangkel. Ia sudah mempraktekkannya dan berhasil. “Korban”-nya, Musik+.

Bermula dari kabar tentang Beirut. Di Jakarta, waktu itu, cuma ada di Aksara. Harganya bikin mangkel si kawan. Lalu, ia mencet 081648xxxx. Ini, katanya, nomor orang yang dipasrahi oleh ”si om & tante” itu untuk mengelola Musik+. Setelah cengengesan sebentar ia langsung to the point.

”Bos, Beirut asyik lho. Kalau gak percaya, silakan lihat resensinya di Allmusic.com. Kalau Musik+ bisa ngimpor, asyik juga lho,” katanya. Tak lupa ia juga melempar jurus ini. “Saya sudah keliling-keliling. Di Jakarta belum ada. Padahal kelihatannya banyak yang nyari lho”.

Kira-kira 2 minggu setelah itu, HP si kawan berdering. Dari 081648xxxx yang mengabarkan Beirut sudah ada di Musik+. Tapi harganya malah makin bikin si kawan tambah mangkel. ”Mahal banget? Ternyata di Aksara ada, Bos. Berarti selisihnya 30%, lho”, katanya sambil menyebut harga Beirut di Aksara.

Si 0812xxxx lalu memberi penjelasan panjang lebar, mengapa Beirut di Musik+ bisa lebih mahal. Harga dari sononya, katanya. Lalu, si kawan melempar jurus lagi. ”Wah, berarti Beirut di Aksara akan tambah laris dong, ya?”.

Entah bagaimana critanya, yang pasti, beberapa hari kemudian si kawan beroleh kabar, bandrol Beirut di Musik+ malah dipasang lebih murah Rp 5,000 ketimbang di Aksara. Sampai hari ini. Mangkel membawa nikmat, katanya.

Tapi, menurut si kawan, tetap saja masih ada hal yang tak mengenakkan. Masing-masing toko CD tak pernah saling melirik bandrol yang mereka pasang. Tak ada patokan. Celakanya, harga yang dikerek tinggi pun masih ada konsumennya. Terlebih lagi konsumen yang bangga bisa beli CD mahal.

Ah, mosok to, ada konsumen yang kayak gini?

Bah Reggae

Indie Kok Masokis

Kecil itu indah. Itu kata E.F Schumacher. Tapi kecil bisa pula kejam. Tanya saja Aksara. Bukan buku, tapi perlakuannya atas CD dagangannya. Pesta diskon CD (30%-70%) itu, semingguan berakhir 24 Agustus lalu, hanya ditulis di kertas kecil yang dipasang di pintu masuk toko. Mirip cara Cik Hwa-hwa jualan katok di Mangga-2.

Itu saja belum cukup. Masih ada kekejaman lain di Aksara. CD-CD itu dibiarkan “mati”. Pasalnya, CD-CD itu indie. Dari sononya minim promosi. Awam jarang tahu. Tahu-tahu, blegedeg, sekian artis asing ada di depan mata. Mereka ditaruh di kotak. Lalu di cangkang CD ada potongan harganya. Sudah begitu aja.

Akan OK jika mas dan mbak di situ bisa njawab pertanyaan konsumen tentang para artis asing diskonan itu. Mirip siapa, musiknya gimana dll. Tapi, kalau njawab ngawur saja gak bisa, gimana coba? Memang, CD-CD itu bisa dicoba. Tapi mana ada kuping tahan nyoba lebih dari 2 CD dengan headphone yang super apa-adanya.

Mungkin syarat masuk ke situ konsumen wajib punya HP yang bisa nginternet. Jadi, ketika mau tahu artis ini-itu, ia bisa langsung browsing ke allmusic dll. Kalau benar seperti ini, semestinya di pintu toko sekalian saja ditulis: HP NDESIT, NO! Ini jelas jauh lebih asyik daripada Aksara sendiri menyediakan 1 atau 2 PC bekas yang bisa internet.

Beruntunglah di kotak itu ada Bruce Springsteen, Joan Baez, Paul McCartney dan Interpol. Tapi kalau cuma ini, di tempat lain juga ada. Lalu buat apa ke Aksara. Sudah repot, apalagi Kemang, ternyata di situ masih disiksa pula. Iming-imingnya, diskon gede. Benar-benar masokis. Ryan aja mungkin nggak gini.

Bah Reggae

Cas Cis Cus

Kalau saja ia tak sering-sering pakai seragam Musik+, anak muda ceria yang lebih banyak ada di konter Sarinah Thamrin ketimbang di konter lainnya itu bisa terkesan sebagai pengamat musik mumpuni. Panggilannya Jo, kependekan dari Johan, entah Johan siapa, atau siapa Johan.

Yang jelas, jika saja mbak dan mas di toko-toko CD “kualitas”nya bisa mirip si Jo ini, konsumen tentunya akan banyak terbantu. Ada juga 2-serangkai Hari dan Heri di Duta Suara. Tapi, selain sama-sama pendiam, ke-2nya juga sering pindah konter. Sabang, Taman Anggrek atau Sogo. Nggak tentu.

Mereka-mereka itulah sebenarnya ujung tombak toko. Mereka diharapkan untuk tak sekadar ramah ke konsumen — atau ngomong “bisa dibantu”, “cari apa” dan sekian klise lainnya – tapi harusnya juga bisa cas-cis-cus ngomong tentang artis yang CD-CDnya didagangkan di situ.

Misalnya soal asal si artis, pecahan dari band apa, pernah kolaborasi dengan siapa, warna musiknya seperti apa/siapa, instrumen apa yang dominan dst. Pasalnya, begitu banyak artis baru. Yang lama pun banyak yang tetap ngotot berkarya. Reuni-reunian, nggandeng artis-artis muda, atau lewat karya-karya lama yang di-“remastered”.

Jaman memang sudah tak seperti beberapa tahun lalu, dimana konsumen terkesan “di-disain” untuk hanya mengenal beberapa artis tertentu. Sekarang ini, konon, kuping konsumen berubah. Ia tak hanya haus karya artis tertentu, tapi juga artis lain yang sangat boleh jadi, baru ketika di toko CD itulah ia pertama kali mengenal (karya) si artis itu.

Too Much Information? Itu kan kata band polisi itu. Persoalannya, haruskah semua informasi tentang artis sudah kita peroleh jauh sebelum masuk ke toko CD? Kuping cuma dua lembar. Memori otak pun terbatas. Juga keuzuran. Belum lagi soal kantong kere, yang mengandaikan adanya akrobat agar yang lain tak terganggu. Nasi, bensin, viagra dll.

Beberapa toko membolehkan dagangannya bisa dicoba dulu. Ini bagus. Mungkin kita nggak perlu mas/mbak yang cas-cis-cus. Tapi, seberapa kuat kuping kita? Nyoba 5 biji pun sudah pengeng. Padahal, masih banyak yang belum dicoba. Apalagi, jika di Aksara (Citos/Kemang), yang nggak kira-kira artis-artis barunya.

Memang sih ada nasehat “ojo kemaruk”, selektif dll. Tapi, nasehat itu milik konsumen. Dan tak semua berkantong kere. Lebih lucu lagi, jika nasehat itu dipakai para pedagang CD untuk menasehati dirinya sendiri tapi melalaikan kewajibannya untuk mengupgrade mbak-mbak dan mas-mas-nya agar menjadi cas-cis-cus.

Next »