Sep 19th, 2008
Berita Dari Kawan
Kurang jelas, sejak kapan si kawan jadi tukang adu domba. Tapi, mungkin itu tak penting. Sebab, mungkin, justru memang harus seperti itulah konsumen yang aktif. Modalnya, katanya, cuma ini: mangkel. Ia sudah mempraktekkannya dan berhasil. “Korban”-nya, Musik+.
Bermula dari kabar tentang Beirut. Di Jakarta, waktu itu, cuma ada di Aksara. Harganya bikin mangkel si kawan. Lalu, ia mencet 081648xxxx. Ini, katanya, nomor orang yang dipasrahi oleh ”si om & tante” itu untuk mengelola Musik+. Setelah cengengesan sebentar ia langsung to the point.
”Bos, Beirut asyik lho. Kalau gak percaya, silakan lihat resensinya di Allmusic.com. Kalau Musik+ bisa ngimpor, asyik juga lho,” katanya. Tak lupa ia juga melempar jurus ini. “Saya sudah keliling-keliling. Di Jakarta belum ada. Padahal kelihatannya banyak yang nyari lho”.
Kira-kira 2 minggu setelah itu, HP si kawan berdering. Dari 081648xxxx yang mengabarkan Beirut sudah ada di Musik+. Tapi harganya malah makin bikin si kawan tambah mangkel. ”Mahal banget? Ternyata di Aksara ada, Bos. Berarti selisihnya 30%, lho”, katanya sambil menyebut harga Beirut di Aksara.
Si 0812xxxx lalu memberi penjelasan panjang lebar, mengapa Beirut di Musik+ bisa lebih mahal. Harga dari sononya, katanya. Lalu, si kawan melempar jurus lagi. ”Wah, berarti Beirut di Aksara akan tambah laris dong, ya?”.
Entah bagaimana critanya, yang pasti, beberapa hari kemudian si kawan beroleh kabar, bandrol Beirut di Musik+ malah dipasang lebih murah Rp 5,000 ketimbang di Aksara. Sampai hari ini. Mangkel membawa nikmat, katanya.
Tapi, menurut si kawan, tetap saja masih ada hal yang tak mengenakkan. Masing-masing toko CD tak pernah saling melirik bandrol yang mereka pasang. Tak ada patokan. Celakanya, harga yang dikerek tinggi pun masih ada konsumennya. Terlebih lagi konsumen yang bangga bisa beli CD mahal.
Ah, mosok to, ada konsumen yang kayak gini?