Jan 13th, 2008
Pada Mohamad Sobary
Bung, sejak kapan Bung berubah menjadi tergesa-gesa ketika bicara tentang sesuatu, apalagi penelitian, seperti yang Bung tulis (“Sikap Ilmiah Vs Pokrol Bambu”) di Kompas Minggu hari ini (13/1/2007, hal 12)? Suatu ketergesaan yang hanya menjadikan Bung ikut-ikutan terjebak di “sebagian” kehebohan riset itu.
Yang saya lebih prihatin lagi, Bung menganggap kehebohan itu sebagai konter atas kerja ilmiah tim peneliti UGM & UI. Bagaimana mungkin kerja yang Bung sebut sebagai “keroyokan pokrol bamboo” itu kemudian Bung sejajarkan dengan kerja ilmiah? Sejak kapan, Bung, kerja ilmiah cemas terhadap hal-hal yang non-ilmiah?
Bahwa Tempo/Koran Tempo bereaksi keras lewat berita-beritanya dan pilihan narasumbernya yang terkesan mengkonter, mungkin juga malah mendiskreditkan penelitian itu, memang memprihatinkan. Tapi mengharapkan mereka agar melakukannya secara ilmiah, menurut saya, jelas itu sangat berlebihan.
Dan, menurut saya, akan menjadi tambah sangat berlebihan lagi jika Bung cemas bahwa kerja non-ilmiah – yang Bung sebut sebagai pokrol bambu – itu akan membahayakan kerja ilmiah. Pasalnya, masing-masing punya aturan dan prinsip kerja sendiri-sendiri. Buat apa dipertentangkan.
Jika yang mempertentangkan itu bukan Bung, saya mungkin masih bisa maklum.Tapi ketika Bung juga ikut-ikutan mempertentangkannya, saya benar-benar prihatin, Bung. Pasalnya, dengan itu Bung telah merelakan diri Bung untuk hanya melihat “sebagian” saja dari persoalan yang ada di sekitar riset itu.
Selain itu, entah atas nama apa namanya, Bung hanya melihat riset sekadar terkait dengan soal teori dan metodologi. Penelitian tak lebih dari “latar belakang teori, asumsi-asumsi dasar, metode dan instrumen penelitian” atau sekadar soal “apakah itu tergolong konvensional dan penganut aliran positivis …. atau pemberontak kristis terhadap kemapanan ilmiah”.
Lebih parah dan ndagel lagi, ing atase Mohamad Sobary, Bung beranggapan, sekiranya tak ada pelanggaran atas hal-hal di atas, maka sahlah penelitian itu. Tak ada persoalan lagi. Memang Bung, saya setuju, bahwa validitas penelitian sudah dianggap cukup jika memenuhi sejumlah hal itu.
Tapi, Bung, itu (soal validitas) hanya “sebagian”. Pasalnya, penelitian tak dilakukan di ruang hampa. Karenanya, persoalan penelitian tak cukup jika hanya terkait dengan kaidah-kaidah validitas. Jika ia sudah memenuhi kaidah-kaidah itu, maka secara otomatis ia tak akan ada persoalan lagi.
Menurut saya tak demikian, Bung. Soal kepantasan, misalnya, yg diangkat Ariel Heryanto — “Etika Penelitian”, Kompas Minggu (6/1/2007, hal 12) — tak bisa hanya mengandalkan validitas yang Bung bangga-banggakan itu. Memang seperti apa ukuran normatif kepantasan itu sejauh ini belum ada. Tapi, Bung, soal kepantasan itu kiranya bisa ditimbang dari sejumlah fakta-fakta ini.
Awalnya adalah pemberitaan di Tempo (Majalah & Koran) soal kasus dugaan penggelapan pajak Asian Agri. Asian kemudian menggugat Tempo karena berita Tempo itu mereka anggap belum-belum sudah memvonis Asian bersalah. Padahal kasus pidananya masih berlangsung dan belum ada kata putus.
Di tengah situasi seperti itulah ada penelitian tim UGM & UI. Penelitian yang dibayari Asian untuk meneliti sesuatu yang sedang dipersengketakan – lewat gugatan Asian Agri pada Tempo — antara Asian Agri dan Tempo tentang pemberitaan Tempo itu.
Saya sepakat penuh, Bung, bahwa penelitian itu (mungkin saja) sudah memenuhi kaidah-kaidah validitas. Saya juga OK, penelitian pesanan bukanlah haram hukumnya. Tapi bahwa penelitian itu dilakukan di tengah persengketaan hukum, dibayari oleh salah satu pihak yang bersengketa, dan meneliti hal yang dipersengketakan pula? Luar biasa, Bung.
Sekiranya tim itu adalah pengacara Asian, jelas tak ada masalah. Tapi semua orang tahu tim itu bukan pengacara. Mereka adalah sekumpulan orang yang “hanya” terbiasa dengan persoalan validitas. Padahal, soal kepantasan, seperti saya singgung di atas, sama sekali tak ada hubungannya dengan validitas.
Hanya soal validitas itulah yang selama ini digembar-gemborkan. Gombalnya, seperti yang Bung lakukan, soal (validitas) keilmiahan itulah yang diharapkan juga dipertimbangkan oleh mereka yang Bung sebut sebagai pokrol bambu di Tempo (Majalah/Koran) yang terkesan mendiskreditkan riset itu.
Begitulah Mohamad Sobary. Penelitian sekadar soal validitas! Masyaallah! Saya yakin, sekalipun masih trauma dengan gempa besar tempo hari, sebagian teman-teman di Mbantul sana tentunya akan serta merta ngelus dada ketika membaca artikel Sampean itu.