Wartawan itu labil. Kadang nggenah. Tapi lebih sering gendeng. Mungkin ini karena dagangan mereka anjing. Anjing khusus lagi. Bukan anjing biasa. Bukan anjing penggigit orang, tapi anjing yang digigit orang. Bagaimana anjing bisa sebodoh itu? Itulah gendengnya wartawan. Anjing gombal kok jadi dagangan.
Kegendengan wartawan itu, misalnya, dirayakan Kompas hari ini (28 Juni 2008). Jadi headline lagi. Mosok krisis listrik karena konsumsi. Ini aneh. Umumnya perusahaan bungah jika konsumen menggilai produknya. Berarti produk itu laris. Tapi ini laris malah krisis. Laris menyebabkan krisis. Laris bukan berkah, tapi bencana. Luar biasa aneh.
Kalau itu menimpa perusahaan gombal-gombalan, bisa saja keanehan itu terjadi. Tapi ini PLN. Monopoli lagi. Absurd. Monopoli, berarti produknya di pasar tanpa saingan. Lalu produk itu laris. Tapi kelarisan itu kemudian dikutuki. Lalu, konsumen disalahkan. Mereka dianggap meminta terlalu banyak. Piye to iki?
Tapi, dasar wartawan gendeng. Jauh lebih mending pedagang ”seng-su”. Mereka ini masih selektif memilih anjing yang hendak didagangkan. Anjing sakit, anjing gombal, atas nama kesehatan konsumen seng-su, pasti disortir. Tapi wartawan? Apalagi wartawan gendeng? Justru anjing gombal yang didagangkan.
****
Untungnya kesehatan konsumen umumnya terjaga. Ini lebih karena akal sehat. Berdasarkan rahmat pemberian Tuhan itu – dan ini yang menjadi pembeda dengan anjing sehat, anjing gombal dan binatang lainnya – konsumen sudah lama tahu, krisis listrik sudah terjadi sejak lama. Dan itu terjadi lebih karena pasokan seret.
Sejak awal, beberapa saat setelah SBY-Kalla nangkring sebagai bos baru negeri ini, mereka sudah berkoar hendak mengakhiri pasokan seret listrik PLN itu. Salah satunya, yang dahsyat, membangun puluhan PLTU baru milik PLN berbahan batubara. Untuk membangunnya PLN kemudian diharapkan menggandeng investor swasta.
Darimana dananya? Porsi terbesarnya disediakan sendiri oleh si investor. Tapi banyak investor ragu dengan PLN. Gimana jika nantinya PLN tak punya uang untuk mengganti uang swasta itu?
Pemerintah lalu ngeluarin jaminan. Dengan jaminan itu, jika proyek batal di tengah jalan, ada (dana) kompensasi. Kompensasi juga disediakan jika publik nantinya membayar lebih rendah dari harga yang seharusnya atas produk PLTU itu.
Yang lebih hebat lagi, pemerintah juga nanggung utang PLN. Tak cuma utang PLN ke investor. Tapi juga utang PLN lainnya agar tak mengganggu kelancaran pembayaran utang PLN ke investor. Investor mana yang tak terkiwir-kiwir?
Masalahnya kemudian adalah siapa investor swasta yang jadi mitra PLN? Yusuf Kalla konon punya calon. PLN juga punya calon sendiri yang berbeda dengan calon Kalla. Sampai kini udreg-udregan soal itu masih berlangsung. Pembangunan PLTU-batubara molor. Realisasi menutup seretnya pasokan listrik jadinya molor pula.
****
Maka kemudian muncul kembali isu krisis listrik itu. Tapi yang diblow-up – dan jadi headline berkat wartawan gendeng — bukan pasokan seret dan kegagalan SBY-Kalla dkk mengatasinya, melainkan gombalnya konsumen yang minta terlalu banyak. Konsumen jadi tertuduh. Monopoli, produknya laris-manis, tapi konsumen disalahkan.
Kalau saja Kotler – yang diekori teman-teman lokal itu – berkenan membuang sedikit saja akal sehatnya, bisa jadi dalam waktu dekat akan terbit buku barunya yang membahas keanehan itu. Tapi, isinya, berani bertaruh, dari awal sampai halaman akhir cuma ini: ”Ha-ha-ha”. Atau, ”Asyuuuu…”, kalau Kotler kebanyakan tinggal di Yogya.