Archive for the tag 'bi'

Headline Kompas hari ini seperti itu mungkin karena wartawannya salah mengambil angel saja atas pernyataan Boediono. Dikabarkan Boediono meminta masyarakat mau melepas dolar-nya. Ini perlu agar cadangan devisa aman. Selain itu, masyarakat juga (sudah) untung banyak jika dolarnya dilepas sekarang.

Tapi mosok to bos otoritas moneter jadi terkesan putus asa begitu? Sudah tak adakah cara lain sampai-sampai harus meminta-minta seperti itu? Benarkah semua jurus sudah dikeluarkan dan tinggal masyarakat saja yang belum rela melepas dolar?

Atau, jangan-jangan, dengan pernyataan pilu itu, Boediono sebenarnya hendak menyatakan sesuatu yang lain? Tapi, apa ya?

Bagaimana jika dengan pernyataannya yang mengharukan itu Boediono sedang menyasar sejumlah BUMN yang bukan saja tak mau melepas dolar, tapi juga terus berburu dolar?. Memang, untuk keperluan saat ini dolar mereka cukup. Tapi mereka harus beraga-jaga untuk keperluan mendatang. Jadinya dolar terus diburu.

Lho, bukankah keperluan dolar BUMN dikontrol BI? Justru di situlah letak soalnya. Bagaimana kalau dengan pernyataan itu Boediono hendak menyatakan bahwa kontrol itu tak efektif? Atau lebih serem lagi, sekalipun sudah dikontrol, saat ini juga marak pasar gelap dolar yang jadi alternatif untuk mendapatkan dolar. Dan berapa pun harganya dibeli.

Atau, lewat pernyataan itu, Boediono sedang menawarkan solusi terkait dengan cadangan devisa yang tak lagi dianggap cukup? Akan ada langkah drastis? Rezim devisa bebas berakhir? Boediono sedang berubah? Terlebih lagi, apakah itu bukannya malah akan semakin membahayakan cadangan devisa?

Atau, untuk mengamankan devisa, selain perlu stand by loan yang sekarang sedang diburu SBY ke para mitranya di G-20, ada pula keinginan untuk mengundang kembali IMF dengan suntikan utang untuk memperkuat devisa? Taruhlah IMF masuk lagi kesini tanpa LoI. Apakah ini tak membuat SBY seakan menjilat ludahnya sendiri?

Pasalnya, SBY sudah mengusir IMF. Beberapa waktu lalu, utang negeri ini ke IMF semua sudah dilunasi oleh SBY. Padahal belum waktunya jatuh tempo. SBY dan banyak orang memaknai pelumasan itu sebagai simbol kemandirian. Lalu, di KTT Asem kemarin, SBY bilang, silakan negara lain minta bantuan ke IMF. Tapi Indonesia nggak.

Ah, moga-moga saja headline Kompas hari ini keliru. Boediono sebenarnya nggak ngomong apa-apa. Atau, kalau pun ngomong tak seperti yang dikutip Kompas.

Bah Reggae

Akrobat SBY di G-20

Dikabarkan G-20 tak akan menghasilkan kesepakatan bulat gimana menjinakkan krisis global. Gara-garanya, AS dan UE berbeda pendapat. UE menyalahkan AS sebagai penyebab krisis. UE juga ingin ada sistem baru. AS ngaku pemerintahnya salah sehingga ada krisis. Tapi AS (Bush) tak ingin ada sistem baru.

Gimana kita? Bisa dibilang, sikap negeri ini lebih dekat ke UE. Tapi, selain itu, ada kabar – utamanya dari media lokal — usulan RI beroleh keplok di G-20. Menurut Indonesia, krisis global bikin susah banyak negara berkembang. Padahal mereka tak salah. Sudah hati-hati mengelola perekonomian, tapi toh tetap kena imbas juga.

Karenanya Indonesia usul, gimana G-20 membantu “negara tak bersalah” itu. Lalu, apakah hanya gara-gara mengusung usulan “mulia” itu saja Sri Mulyani dan SBY datang ke G-20? Untunglah, mereka tak senaif itu. Pasalnya, menurut mereka, “negara tak bersalah” itu (salah satunya) adalah Indonesia.

****

RAPBN 2009 kelar medio Agustus lalu. Berapa pemasukan, pengeluaran, dan berapa defisit rapi disusun. Defisit dibiayai utamanya dengan jualan obligasi. Sisanya, ditutup utang luar negeri (LN). Dasar penusunan APBN itu adalah sekian asumsi. PDB sekian, inflasi, sukubunga, harga minyak sekian dll. Rapi jali.

Itu yang dimintakan persetujuan DPR. DPR dan pemerintah kemudian terlibat mengatik-utik angka-angkanya. Lagi asyik-asyik kutak-kutik, gak taunya ada krisis. Gimana ini? Padahal, RAPBN itu harus segera jadi UU. Kalau nggak, UU APBN 2008 yang akan dipakai. Gawat?

Nggak juga. Tenang. Maka, seperti yang kita tahu, disahkanlah UU APBN 2009 (plus asumsi) dengan angka-angka yang sangat optimistik. PDB, misalnya, tetap tinggi (6%). Kurs Rp 9.400/dolar, sububunga 7,5%, dan inflasi 6,2%. Enjoy aja. Defisit juga tetap aja sebagian besar akan dibiayai dengan obligasi. Pendeknya, business as usual.

****

Orang bilang krisis akan lama. Lalu, gimana mungkin SBY dkk berani mematok PDB, kurs Rp dan inflasi seoptimistik gitu? Juga soal penutupan defisit. Apakah obligasi kita akan laku? Pasalnya, untuk nutup krisis, AS juga jualan obligasi. Apakah kita bisa ngalahin daya tarik AS? Kalau bisa, berapa bunga yang harus kita patok. Apa nanti kita kuat mbayarnya?

Hus! Mari kita putar aja Numb (Zooropa, 1993). Di situ U2 mengajari segala macam don’t. Don’t think, don’t move, don’t ask, don’t worry, don’t crawl, don’t move, don’t eat, don’t spill …

Lalu, setelah ngantuk bersama grenengan The Edge itu, mari kita lihat akrobat ini. Di UU APBN 2009 ada klausul “stand by loan”. Ini utang LN baru. Dadakan. Besarnya sekitar US$ 2 milyar. Ini bukan utang LN yang sebelumnya sudah dianggarkan untuk menutup sebagian defisit. Karena dadakan, maka jelas belum ketahuan darimana utang itu bisa didapatkan.

****

Yang pasti, stand by loan itu baru akan dipakai jika, antara lain, “terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi makro lainnya yang menyebabkan turunnya penerimaan negara dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan…”

Artinya, sekian ke-optimistik-an itu bisa dikatakan semu belaka. PDB 2009 dipatok 6,0%, gak pa-pa. Kurs Rp 9.400/dolar dan inflasi 6,2% juga tak soal. Toh kalau meleset masih ada stand by loan. Akrobat tampaknya memang perlu. Apalagi di tahun pemilu.

Maka demi beroleh stand by loan itulah SBY dan Sri Mulyani harus datang ke G-20.

Boediono? Seharusnya ia juga datang. Tapi mungkin ia lagi sibuk meyakinkan pasar bahwa cadangan devisa di BI masih OK buat nglayani pemburu dolar. Menurut detik.com (mengutip situs BI), per Oktober 2008 cadangan devisa “tinggal” US$ 50,580 miliar. Padahal September masih US$ 57,108 milyar. Berarti dalam sebulan turun US$ 6,528 miliar gara-gara setan dolar.

Selain itu, sangat boleh jadi, kesibukan Boediono belakangan makin tambah lagi karena tugas GubBI ternyata bertambah satu. Dan lumayan serem. Yakni, menangkap penyebar rumor rush di Bank Century dan bank-bank lain yang nyata-nyata (bukan rumor) sedang dilanda kesulitan likuiditas.

Bah Reggae

SBY di Publik. SBY di Rumah

Bukan SBY kalau tak bisa ngomong seperti itu. Apalagi pemilu tinggal sekedipan mata. Saya sedih. Tapi hukum harus ditegakkan. Saya tak boleh mengintervensi. Begitu katanya di depan publik mengomentari ditetapkannya Aulia Pohan, besannya, sebagai tersangka kasus “dana BI”.

Tapi, ketika di rumah, apakah SBY juga ngomong seperti itu? Bisakah dengan itu – sedih, hukum harus tegak dan tak ada intervensi – keluarga, utamanya keluarga Aulia jadi tenang? Padahal sudah pasti keluarga by default nanti akan milih SBY. Artinya, mereka ini bukan sasaran kampanye SBY.

Karenanya hampir mustahil, di depan keluarga, SBY akan ngomong seperti yang ia sampaikan di depan publik. Jika ini benar, lalu, kira-kira apa yang diomongkan SBY di depan keluarga?

Benar, Aulia – juga Burhanudin Abdullah dkk — tersangkut duit Rp 100an miliar. Benar pula di situ ada soal penyalahgunaan wewenang, korupsi dan sogok menyogok. Tapi mungkin bukan itu yang akan disampaikan SBY di depan keluarga, melainkan mengapa Aulia dkk harus “gombal-gombalan” seperti itu.

Sedikit atau banyak, ada soal besar, lewat aksi gombal-gombalan itu, yang hendak dicegah oleh Aulia dkk. Soal besar itu adalah kewenangan BI yang dipreteli (lihat postingan “Burhan”). Hanya saja, Aulia dkk kalah. Dan, jer basuki mowo beo. Tak hanya menang, kalah pun ada harganya. Itu resiko.

Maka, tak perlu sedu sedan itu, kata Chairil Anwar. Im a man. Cant you see what I am? Kata Eric Burdon ketika mengcover-version To Love Somebody-nya Bee Gess yang jadinya terkesan lebih macho itu. Jadi, gara-gara pemilu, SBY tak bisa macho? Sitik-sitik sedih. Katanya tentara?

Next »