Archive for the tag 'buy-back'

Bah Reggae

Bakrie Mundur, Rizal Ikutan

Seolah baru kemarin. Ia, berdesakan dengan tamu lain yang umumnya wartawan, khusyuk mendengarkan paparan para menteri tentang RAPBN. Tempatnya di aula Depkeu. Biasanya siang hari, 15 (atau pertengahan) Agustus, beberapa saat setelah Presiden menyampaikan RAPBN itu ke DPR.

Begitulah kebiasaan Aburizal Bakrie di jaman Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri jadi Presiden. Duduk, sesekali bertanya, juga terlihat mencatat sesuatu, lalu pulang sambil menggembol beberapa buku tentang RAPBN. Persis yang dilakukan audiens lainnya. Hampir setiap tahun selalu begitu. Dan itu baru berhenti ketika SBY jadi Presiden.

Tapi berhentinya kebiasaan Bakrie itu tak akan lama. Mungkin setelah pemilu, sekalipun SBY tetap jadi Presiden, Bakrie akan kembali lagi berdesakan, siang-siang, di aula Depkeu. Pasalnya, setelah pemilu itu ia tak ingin jadi menteri lagi. Siapa pun presidennya.

Mengapa harus setelah pemilu? Mengapa tak sekarang aja? Entahlah.

Yang jelas, beberapa jam setelah Bakrie menyatakan wegah jadi menteri lagi, Rizal Mallarangeng juga mundur sebagai Capres. Padahal sebelumnya ia masih terlihat antusias ketika bicara iklan barunya, yang katanya akan lebih dahsyat dan lebih di mana-mana ketimbang iklan sebelumnya.

Mundurnya Rizal pasti akan mengurangi suara mereka yang katanya hendak memanfaatkan fenomena Obama. Suara memelas tapi gagah – Kita harus berkata kepada para senior tersebut, we respect you, Sir and Madam. But please give some space to our new generation – mungkin tak akan terdengar lagi.

Juga tak akan lagi ada “patun berbalas patun” bak Yang Hujan Turun Lagi itu. Ketika Bill Liddle teman baiknya bilang, The time is not yours yet. You don’t have any chance whatsoever”, Rizal membalasnya dengan, If there is a will, there is a way. The “will” is here, and I am working out the “way”.

Luar biasa. Tapi semua itu tiba-tiba saja dengan begitu cepatnya menjadi “dulu”. Duyu, kata Project Pop. Itu dulu sebelum Bakrie menyatakan diri wegah jadi menteri lagi.

Siapa lagi menyusul setelah Rizal? Kabarnya, Golkar pun sekarang-sekarang ini juga lagi menghitung ulang koceknya.

Lha gimana Bakrie gak “mutung” jika semua pihak cuma mikirin kocek? Lho, emangnya Bakrie gimana? Lapindo bisa masuk APBN dan kemasan asyik buy-back saham BUMN yang boleh jadi isinya PT Bumi Resources Tbk itu apa? Hus! Kata Basiyo, “Wong urip iku bak-buk”.

Bah Reggae

Can’t Buy Me Love

Semestinya ia jadi penyanyi saja. Ini bukan soal SBY, tapi menterinya yang tampaknya telah berjasa besar padanya. Aburizal Bakrie.

Dulu, di jaman reshuffle kabinet, ketika tahu dirinya tak didepak SBY, secara demonstratif ia lalu singsot-singsot di depan para wartawan. Apalagi, yang justru terdepak waktu itu adalah “musuh besar”-nya, Yusuf Anwar (Menkeu). Sementara dirinya “hanya” digeser dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra.

Tak diketahui secara pasti, apakah ia juga singsot lagi ketika tahu SBY merubah Inpres-nya tentang Lapindo sehingga penanggulangan Lumpur anak perusahaan Bakrie itu akhirnya bisa ditanggung APBN. Barangkali singsot itu hanya dilakukan di depan Sri Mulyani (Menkeu) dan luput dari amatan wartawan.

Kini, jika pemerintah jadi membeli Bumi (PT Bumi Resources Tbk) perusahaan batubara miliknya, Bakrie tak hanya singsot, tapi mungkin nyanyi. Can’t Buy Me Love, salah satu lagu asyik The Beatles itu. Kebetulan “buy me” jika boleh sedikit diplesetkan bisa jadi “bumi”.

Kebetulan lagi, Sofyan Djalil (Meneg BUMN) pun OK jika ada BUMN atau konsumsium BUMN berkenan membeli Bumi. “Yang penting bagi saya, Bumi itu aset bagus, kita butuh batubara. Daripada dibeli asing, mendingan kita yang beli, selama harganya bagus, term-nya baik. Pokoknya b to b dengan harga yang bagus,” katanya di detik.com.

Lebih kebetulan lagi, bukan hanya karena Yusuf Kalla juga mendukung niat pemerintah menolong perusahaan Bakrie yang tengah rugi besar gara-gara krisis global sekarang ini, tapi sambil lalu Sofyan pun secara tak langsung “menyikat” Sri Mulyani.

Memang Sri setuju buy-back saham BUMN. Dananya diambil dari APBN. Yang mengelola PIP, lembaga di bawah Depkeu. Hanya saja, PIP tak hanya asal beli. Kelayakan pembelian harus terlebih dulu lewat penilaian lembaga penilai independen. Jika dinilai OK, beli. Jika KO, batal.

Kengototan Sri ini jelas gawat. Lalu Sofyan pun berkelit. Dana beli Bumi bukan dari APBN, tapi diambil dari dana yang ada di BUMN atau konsorsium itu sendiri. Jadi tak ada urusannya dengan PIP. “PIP itu untuk buy back BUMN. Atau kalau nggak digunakan akan digunakan untuk tujuan investasi lain. Kita nggak tahu.. .”.

Mungkin Sofyan lupa ini. Jika pemakaian dana di BUMN itu lalu mengurangi deviden yang harus disetor BUMN ke APBN, ya sama saja pembelian itu memakai dana APBN.

Bagaimana akhir ceritanya dari semuanya ini, sejauh ini masih belum jelas benar. Tapi yang pasti, selain dukungan Kalla, Bakrie kini beroleh teman baru ketika berhadapan dengan Sri.

I’ll buy you a diamond ring my friend if it makes you feel alright. I’ll get you anything my friend if it makes you feel alright. I’ll give you all I got to give if you say you love me too. I may not have a lot to give but what I got I’ll give to you. I don’t care too much for money, money can’t buy me love.

Mungkin, di Cikeas dulu itu, selain kontrak politik yang mesti diteken, kepada para calon menteri itu SBY juga mengajukan 1 pertanyaan penting. Hanya jika mereka menjawab “bisa”, maka jadilah mereka menteri SBY. Pertanyaan itu adalah, “Apakah Saudara bisa kerjasama dengan Aburizal Bakrie?”.

Lalu, terbukti, Yusuf Anwar ternyata bohong. Ini menteri keuangan pertama SBY. Ia menjawab “bisa”, tapi kemudian berantem dengan Bakrie (waktu itu Menko Perekonomian). Gara-garanya, pajak ekspor (BE) batubara. Yusuf waktu itu bikin aturan, PE batubara 5%.

Bakrie – yang juga bisnis batubara – menolak. Alasannya, karena waktu itu barusan ada kenaikan harga BBM, maka pengusaha jangan dibebani pajak macam-macam. Ia kemudian menyarankan, PE sebesar itu baru berlaku jika harga batubara di pasaran dunia mencapai US$ 50/tonnya. Apa komentar Yusuf?

“Sampai kodok berbulu pun harga batubara tak akan sampai US$ 50/tonnya. Bilang saja tak mau bayar pajak!”.

Dan Yusuf pun didepak SBY. Sementara Bakrie “hanya” digeser jadi Menko Kesra. Sri Mulyani, yang semula KaBappenas, masuk menggantikan Yusuf. Posisi Menko Perekonomian bekas Bakrie diisi Boediono.

Sri Mulyani juga hampir terbukti bohong. Gara-garanya, Bakrie ingin Lapindo ditanggung APBN. Tapi Sri menolak. Bagi Sri, Lapindo – milik Bakrie – hanya bisa masuk APBN jika SBY merubah Inpres tentang siapa yang menanggung biaya dampak lumpur. Lalu Inpres dirubah. Bakrie “hanya” menanggung kawasan lama, APBN kawasan baru.

Bapepam semula pun pusing dengan ulah Bakrie. Pasalnya, Bakrie ingin menjual Lapindo. Bapepam menolak. Alasannya, jika dijual, siapa yang akan menanggung biaya dampak lumpur? Pasalnya, di Inpres lama dinyatakan, semua ditanggung Lapindo. Tapi persoalan lalu beres setelah SBY merubah Inpres. Kawasan lama Bakrie, kawasan baru APBN, seperti tersebut di atas.

Selesai urusan Lapindp, kini Sri berantem lagi dengan Bakrie. Gara-garanya, buy-back saham BUMN. Ada uang APBN sekian trilyun yang bisa dipakai buy-back. Intinya, saham dibeli dengan harga tertentu agar harganya tak semakin melorot. Pasang badan. Masalahnya, saham apa yang dibeli?

Bakrie ingin saham perusahaannya saja yang dibeli. Tapi, Bapepam men-suspens saham Bakrie. Alasannya, rencana bisnisnya – untuk menutup kerugian akibat krisis global — gak jelas. Sri pun ogah memakai uang APBN untuk membeli Bakrie. Bakrie mangkel dan minta bantuan Yusuf Kalla.

Lalu Kalla bilang, perusahaan Bakrie itu aset yang perlu diselamatkan. Sofyan Djalil (Meneg BUMN) sedikit banyak juga OK jika disuruh beli saham Bakrie. Tapi Sri tetap ngotot. Ia usul, beli atau tak beli saham, mau Bakrie atau bukan, yang penting terlebih dulu harus lewat penilaian lembaga independen.

Untuk sementara, usulan Sri itulah yang kelihatannya dipakai SBY. Lalu, “Presiden percaya kepada Ibu Ani. Itu sebabnya beliau diberi kepercayaan menjadi Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian”, kata Andi Mallarangeng Jubir SBY (Kompas, 28 Oktober, hal.17).

Andi juga membantah ada desakan di kabinet agar Sri didepak. “Tidak benar itu. Kabinet tetap solid. Tidak akan ada perombakan kabinet sampai akhir pemerintahan,” katanya. Andi memang banyak tahu. Karenanya, kita tak usah nanya langsung ke Kalla atau Bakrie, siapa yang minta Sri out dari kabinet.

Next »