Archive for the tag 'duta suara'

Mentang-mentang gratis maka penonton bisa diperlakukan seperti itu. Re-run di TV. Tayangan ulang merajalela. Kayak rock saja. Itu-itu mlulu. Band 70-an rock. Setelah itu bukan. Atau, kalau tak pakai njerit-njerit, gitar tak digeber dengan kecepatan yang mirip setan, itu bukan rock.

Begitulah Air Force One. Entah sudah berapa kali tayangan tentang kehebatan Presiden AS itu diulang. Kalau bukan di TV itu, ya di TV sana. Yang lebih gendeng lagi, iklannya masih saja ramai.

Tapi, barangkali, toko CD, apalagi Duta Suara (DS) Sabang, perlu nonton film itu berulang-ulang. Khususnya pas adegan operator telepon yang sambil cengengesan bilang, “Saya Ibu Negara”, ketika menjawab lawan bicaranya di ujung telepon itu yang menyatakan, “Ini Presiden AS”.

Jelas, tak akan ada Presiden AS yang akan menelpon DS Sabang. Bahkan sekalipun nanti Barrack Obama sudah sedemikian kurang kerjaannya dan mampir ke Menteng, ngapain nelpon ke DS Sabang.

Tapi bahwa DS Sabang adalah sarang para pengangkat telepon dengan tingkat cengengesan yang tinggi, inilah persoalannya. DS Taman Anggrek atau konter lainnya saja masih kalah. Begitu juga toko-toko CD yang lain. Kalau saja mereka digabung pun belum tentu bisa ngalahin tingkat cengengesannya penjaga DS Sabang.

Halo. Mbak, di situ masih ada Rollies pas live di TIM tahun 70-an itu? Lalu setelah lama menunggu di telepon itu terdengar jawaban, Rollies yang lain aja. Kalau yang live nggak ada. Lalu si “kawan” itu lewat telepon juga pernah menanyakan apakah ada Primus di situ, albumnya apa saja? Jawabnya, wah nggak tau ya. Belum bikin ‘kali. Atau mungkin nggak boleh sama Jeihan.

Pertanyaannya, kapan telekomunikasi bisa lebih canggih lagi? Jadinya, bukan cuma suara atau data yang ditransmisikan, tapi juga tinju?

Bah Reggae

Gombalan Dolar & Pantat

Kiranya hanya sedikit pedagang yang benar-benar siap jika Rp tiba-tiba saja menguat dalam waktu dekat ini. Taruklah jadi kurang Rp 5 ribu/dolarnya. Dari yang sedikit itu, satu di antaranya adalah Aquarius Pondok Indah (API).

Bandrol di situ memang dalam dolar. Tapi pedagang itu tak bodoh. Ia sudah mengantisipasi kalau-kalau Rp menguat. Apalagi bisa di bawah “goceng”. Jika ini terjadi, pasti akan ada ledakan konsumen. Untuk itu ruangan display mereka bikin luas. Senggolan pantat antar konsumen diminimalisir.

Jadi, API-lah yang sebenarnya percaya pada kekuatan Rp. Mereka akan tersinggung jika dibilang, bandrol dolar di situ hanya menjadikan harga CD impor semakin jahiliyah. Bagi mereka ini omongan ngawur. Mungkin mereka akan balik menuduh, itu hanya omongan orang-orang yang tak percaya adanya kemungkinan Rp bisa kembali kuat lagi.

Hanya gara-gara percaya pada kemungkian menguatnya Rp itulah kemudian API menjadikan kenyamanan sebagai prioritas. Dan harus diakui, soal kenyamanan ini, sejauh ini, API-lah jagonya. Apalagi jika dibandingkan, misalnya, Duta Suara (DS) Sabang yang sumpek itu.

Memang, DS terlihat ekspansif. Tak cuma di Jakarta ada beberapa tempat, di Bandung (Paris Van Jawa) dan, konon, di Bogor pun ada. Tapi soal senggolan pantat, sebagaimana di toko-toko lain, tetap saja tak dijamin tak terjadi. Belum lagi soal “higinis”. Silakan raba dagangan DS di Beats Senayan City. Debu dimana-mana.

Bah Reggae

Blowjob Is Better Than No Job

Mungkin kerennya unplugged. Tapi intinya sama: Pretelen. Dan di mana pun, dan kapan pun, ia nyaris tak pernah ambil pusing apakah itu terjadi karena “mreteli” atau “dipreteli”. Lebih tak ambil pusing lagi, mreteli/dipreteli dari apa. Tahu-tahu, di pasar ada. Didagangkan begitu aja.

Maka Kurt Cobain mbeker-mbeker mirip kambing disembelih di Where Did You Sleep Lat Night. Di “distro” PIM-1 itu juga ada dagangan Che, Mao, warna Rasta merah-ijo-kuning dipajang bareng-bareng dengan teks I Love NY, I Love Papua, Blow Job is Better Than No Job dan entah apalagi.

Untung saya tak nekat menanya ke pedagang distro itu apakah ada juga kaos SBY, Yusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Sultan, Wiranto, Fadjroel Rachman, Rizal Mallarangeng, Yuddy Chrisnandi dan para capres lainnya. Pasalnya, jangan-jangan, pertanyaan itu hanya akan membuatnya tersinggung. Lalu pedagang itu akan menjawab yang justru malah bikin saya tersinggung. “Emangnya, apa menariknya mereka-mereka itu dikaosin?”.

Saya juga jadi tak berminat menanya ke konsumen mengapa pakai kaos Mao atau Che. Ini karena si Paman belum-belum sudah menyergah dengan “Habis gambarnya lucu, sih”. Malah, masih menurut konglomerat blog itu, bisa jadi pemakai kaos itu yang akan gantian nanya, “Gambar siapa sih ini?”.

Begitulah unplugged. Pretelan. Pop. Maka sah-sah aja ketika Duta Suara memreteli diri sendiri. Misalnya, di Citos dan Senayan City ada Beats. Yang lebih idih banget pretelannya, Tracks, di Pasific Place. Di Grand Indonesia pun salah satu pedagang CD tertua yang selama ini dikonotasikan relatif lengkap ini juga jualan pretelan.

Jadi, pusatnya ada di Sabang yang ”dekil” tapi pretelannya tersebar di berbagai area yang jauh lebih ”kinclong”? Sosial climber? Asmuni juga go-nasional setelah meninggalkan Ndiwek yang sangat ia banggakan itu. Atau mirip Ryan penjagal asal Jombang yang belakangan ini ngetop banget itu.

Next »