Nov 28th, 2008
Kapan Telekomunikasi Bisa Lebih Canggih Lagi
Mentang-mentang gratis maka penonton bisa diperlakukan seperti itu. Re-run di TV. Tayangan ulang merajalela. Kayak rock saja. Itu-itu mlulu. Band 70-an rock. Setelah itu bukan. Atau, kalau tak pakai njerit-njerit, gitar tak digeber dengan kecepatan yang mirip setan, itu bukan rock.
Begitulah Air Force One. Entah sudah berapa kali tayangan tentang kehebatan Presiden AS itu diulang. Kalau bukan di TV itu, ya di TV sana. Yang lebih gendeng lagi, iklannya masih saja ramai.
Tapi, barangkali, toko CD, apalagi Duta Suara (DS) Sabang, perlu nonton film itu berulang-ulang. Khususnya pas adegan operator telepon yang sambil cengengesan bilang, “Saya Ibu Negara”, ketika menjawab lawan bicaranya di ujung telepon itu yang menyatakan, “Ini Presiden AS”.
Jelas, tak akan ada Presiden AS yang akan menelpon DS Sabang. Bahkan sekalipun nanti Barrack Obama sudah sedemikian kurang kerjaannya dan mampir ke Menteng, ngapain nelpon ke DS Sabang.
Tapi bahwa DS Sabang adalah sarang para pengangkat telepon dengan tingkat cengengesan yang tinggi, inilah persoalannya. DS Taman Anggrek atau konter lainnya saja masih kalah. Begitu juga toko-toko CD yang lain. Kalau saja mereka digabung pun belum tentu bisa ngalahin tingkat cengengesannya penjaga DS Sabang.
Halo. Mbak, di situ masih ada Rollies pas live di TIM tahun 70-an itu? Lalu setelah lama menunggu di telepon itu terdengar jawaban, Rollies yang lain aja. Kalau yang live nggak ada. Lalu si “kawan” itu lewat telepon juga pernah menanyakan apakah ada Primus di situ, albumnya apa saja? Jawabnya, wah nggak tau ya. Belum bikin ‘kali. Atau mungkin nggak boleh sama Jeihan.
Pertanyaannya, kapan telekomunikasi bisa lebih canggih lagi? Jadinya, bukan cuma suara atau data yang ditransmisikan, tapi juga tinju?