Sep 8th, 2008
Kisah Sedih Desak Suarti
Mari, jangan tanyakan itu ke The Changcuters. Di nomor Hey, Nona (Mencoba Sukses Kembali, 2008), band pencilakan ngetop ini cuma bilang, “Gua keren, Dia cemen…. Dia beken, Gua Paten”. Apalagi ini soal “kisah sedih Desak Suarti”.
Dikabarkan Desak Suarti harus repot berhadapan dengan WTO. Ia dituduh melanggar “hak cipta” karyanya sendiri gara-gara orang lain duluan mem-paten-kannya. Tak jelas orang lain itu siapa. Katanya warganegara asing. Dan kabarnya lagi, banyak “karya asli” seniman Bali lain yang hendak dipatenkan asing. Ini bikin seniman males/takut berkarya.
Serem. Terlebih lagi, itu menyangkut orang asing. Pasalnya, sejauh ini, negeri ini dikesankan tak punya banyak pilihan seger. Yang ada, dan mendapatkan keplok banyak orang adalah aksi semacam yang dilakukan Siti Fadilah Supari. Sehubungan dengan flu burung, ia kemudian menyumpahi WHO. Amerika dihajar.
Dimana pun Bu Menteri ini nyaris tak pernah lupa – selain bersolek, gidak-gidik “koyo ayu-ayuo dewe” – selalu menghardik dunia. Untung ada SBY. Ia minta buku edisi bahasa Inggris sang menteri yang penuh hardikan itu direvisi. Siti Fadilah lalu jadi cool? Silakan periksa Kompas hari ini (8 September 2008, hal 12, pojok kiri bawah).
Fadjroel Rachman juga berkepal tangan. Nasionalisasi. Haircut. Mirip tawaran rombongan ”tim Indonesia Bangkit”. Amien Rais di bukunya Agenda Mendesak Bangsa – Selamatkan Indonesia (2008) – yang katanya jadi pedoman PAN – juga meneriakkan ”rebus sic stantibus” terkait kontrak migas dan tambang umumnya. Perjanjian menjadi tidak berlaku lagi jika ada perubahan fundamental dengan konteks situasinya.
Puncaknya, nah ini dia, pasal 33 UUD. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Bagaimana menjabarkan pasal itu dengan semanak – di tengah keterlanjuran kompleksitas masalah dan aneka konsekuensinya – inilah persoalannya. Kepalan tangan untuk konsumsi pemilu memang asyik. Heroik. Sampai-sampai SBY dkk pun lalu tergerak untuk jualan dagangan renegosiasi Tangguh (sekalian menghajar Megawati) atau hitung-ulang cost recovery pengebor BBM yang jadi tanggungan APBN.
Tapi untunglah masih ada yang mendedangkan Red Rain-nya Peter Gabriel (So, 1986). Buktinya ada ”langkah ke depan” di postingan “kisah sedih Desak Suarti” di DGI itu, yang boleh jadi tersirat hendak menyatakan, ”I can’t make a single sound as you scream/It can’t be that cold, the ground is still warm to touch….”.
