Dec 1st, 2008
Jingle Iklan di TV
Iklan di TV bikin kesel? Bisa jadi. Tapi, itulah perayaan kreativitas. Gimana mengemas dagangan. Memang, terkadang ada yang sekadar kreatif bikin panas. Apalagi penempatannya yang asal selonong. Lagi kesel-keselnya dipaksa nonton tayangan ulang (re-run), iklannya pun main potong seenaknya pula.
Karenannya, agar fair, mungkin stasiun TV atau pengiklan tak ada salahnya jika sekali-sekali juga menayangkan adegan konsumen yang sedang menginjak-injak produk yang diiklankan itu.
Tapi, selain gambar dan kata-kata, di iklan juga ada jingle. Dan salah satu yang boleh jadi membuat banyak kepala menoleh adalah jingle iklan Axis (provider) itu. Sederhana tapi segar. Ada Beirut atau Mang Udel di situ. Cuma vokal “nanana” dan ukulele (?). Atau Colgate yang tak hanya ada gigi rapi dan bersih yang sedang nyengenges, tapi juga ada pameran denting piano.
You’re the First The Last My Everything, lewat vokal bariton Barry White (Can’t Get Enough, 1974) juga mampu membikin Bebelac 3 menjadi segar.
Benar, kuping semestinya bisa dioptimalkan agar iklan tak malah bikin kesel. Pasalnya, negeri ini bisa dibilang adalah negeri iklan gambar dan kata-kata. Jingle terkesan sebagai anak tiri. Nggak penting. Maka Aqua pun pernah tak merasa risih ketika bikin iklan mirip Stomp Out Loud (1998).
Begitulah pop. Mirip menjadi kenceng. Biasanya lalu jadi “cuma kebetulan”. Dan itu bukan haram. Merpati Putih di album dahsyat tonggak musik pop negeri ini itu, jika dilihat sepintas — apalagi jika disertai dengan kurang-ajar — bisa jadi tak lebih dari Procol Harum, khususnya Grand Hotel (1973).