Archive for the tag 'iklan'

Bah Reggae

Jingle Iklan di TV

Iklan di TV bikin kesel? Bisa jadi. Tapi, itulah perayaan kreativitas. Gimana mengemas dagangan. Memang, terkadang ada yang sekadar kreatif bikin panas. Apalagi penempatannya yang asal selonong. Lagi kesel-keselnya dipaksa nonton tayangan ulang (re-run), iklannya pun main potong seenaknya pula.

Karenannya, agar fair, mungkin stasiun TV atau pengiklan tak ada salahnya jika sekali-sekali juga menayangkan adegan konsumen yang sedang menginjak-injak produk yang diiklankan itu.

Tapi, selain gambar dan kata-kata, di iklan juga ada jingle. Dan salah satu yang boleh jadi membuat banyak kepala menoleh adalah jingle iklan Axis (provider) itu. Sederhana tapi segar. Ada Beirut atau Mang Udel di situ. Cuma vokal “nanana” dan ukulele (?). Atau Colgate yang tak hanya ada gigi rapi dan bersih yang sedang nyengenges, tapi juga ada pameran denting piano.

You’re the First The Last My Everything, lewat vokal bariton Barry White (Can’t Get Enough, 1974) juga mampu membikin Bebelac 3 menjadi segar.

Benar, kuping semestinya bisa dioptimalkan agar iklan tak malah bikin kesel. Pasalnya, negeri ini bisa dibilang adalah negeri iklan gambar dan kata-kata. Jingle terkesan sebagai anak tiri. Nggak penting. Maka Aqua pun pernah tak merasa risih ketika bikin iklan mirip Stomp Out Loud (1998).

Begitulah pop. Mirip menjadi kenceng. Biasanya lalu jadi “cuma kebetulan”. Dan itu bukan haram. Merpati Putih di album dahsyat tonggak musik pop negeri ini itu, jika dilihat sepintas — apalagi jika disertai dengan kurang-ajar — bisa jadi tak lebih dari Procol Harum, khususnya Grand Hotel (1973).

Bah Reggae

Prof atau Tak Tahu Diri?

Sampai sekarang saya masih merasa takjub dengan kemampuan melawak para pelawak top negeri ini. Tapi ini bukan tentang Roy Suryo, Juwono Sudarsono, atau Hendarman Supanji. Ini benar-benar soal pelawak semisal Basiyo, Joni Gudel, Gepeng, Parto atau Tukul.

Suatu kali, kepada HG Janarto, saya pernah bertanya, bagaimana pelawak top bisa sekonsisten itu dalam melawak. Apakah mereka pribadi yang penggembira? Mereka tak pernah merasa sedih, masuk angin, pusing mikirin dapur sehingga yang ada di benak mereka kesannya hanyalah bagaimana membuat orang terpingkal?

Entah apa jawaban Bung Jan waktu itu. Saya lupa. Tapi, SMS seorang teman pagi ini mengingatkan saya ke soal profesionalisme. Ini mungkin yang membuat seseorang akan berlaku sesuai profesinya tanpa peduli hal-hal lain yang kemungkinan justru bisa menganggu laku profesinya.

Intinya, maju terus pantang mundur. Mungkin begitulah Tempo. Majalah ini mengaku tetap bisa mengkritisi Lapindo, sembari tetap terus-terusan, entah sampai kapan, memasang iklan kedermawanan dan betapa tak-bersalahnya Lapindo. Simak jawaban gagah redaksinya ketika M. Ruslailang N (Balikpapan, Kaltim) mempersoalkannya:

”Sebagai media profesional, kami ingin menunjukkan bahwa Tempo menjaga betul ”pagar api” antara kepentingan bisnis dan kewajiban redaksi mencari kebenaran berdasarkan fakta. – Redaksi.” (Tempo, 3-9 Maret 2008, hal 6).

Hebat yak? Nggaklah, kata teman saya itu. Katanya, itu bukan profesionalisme, tapi nggak tahu diri. Ini persis wartawan amplop: terima amplopnya, tapi nyinyir jalan terus.

Sayangnya, teman saya itu hanya menjawab OK dan tak ngomong lebih lanjut ketika saya minta izin untuk merayakan analoginya yang asyik itu lewat postingan ini.

Bah Reggae

Iklan Lapindo Dermawan

Bencana melahirkan kedermawanan. Iklan tentangnya ada dimana-mana. Tak hanya media besar yang tega memasangnya, termasuk Tempo (edisi 4-10/2/2008), tapi DPR pun belakangan ikutan meng-OK-in iklan itu yang bercerita bahwa tenggelamnya sebagian Porong bukan akibat kesalahan Lapindo, tapi semata karena ulah alam.

Lalu, atas dasar apakah jika Lapindo kemudian menyantuni sekian ribu KK yang desanya tenggelam itu? Bukankah bukan karena Lapindo mereka kehilangan sejarah? Memang ada Inpres SBY segala yang meminta Lapindo untuk menyantuni. Tapi, jelas, sekiranya tak ada kedermawanan, belum tentu beleid SBY bisa jalan.

Kedermawanan itulah yang sejak awal mula diusung Lapindo. Kedermawanan yang bukan merupakan suatu bentuk tanggungjawab karena kesalahan anak perusahaan kerajaan bisnis keluarga Aburizal Bakrie itu ketika membor Porong. Karenanya, bagi Lapindo, soal tak terpasangnya “chasing” atau notulensi tahap-tahap pengeboran yang dilakukan tak relevan untuk dibicarakan.

Pasalnya, chasing itu sudah terpasang atau ternyata lalai dipasang, juga ada atau tak ada prosedur pengeboran yang terlewatkan, lumpur panas tetap saja akan muncrat dan menenggelamkan sebagian Porong. Inilah ulah alam itu. Siapa yang bisa membendungnya?

Benar, siapa kuasa membendung alam. Hanya saja, selama ini ada pula suara lain seperti yang misalnya disuarakan Rudi Rubiandini dkk, yang tak sepakat dengan iklan itu. Barangkali suara lain itu akan semakin lirih. Tapi belum tentu gaungnya tak memekakkan dan lebih dahsyat ketimbang inpres, interpelasi, atau hasil penyelidikan polisi.

Next »