Archive for the tag 'indie'

Bah Reggae

Hip-hop Jowo? Sengkuni Leda-lede

Ini satu lagi dagangan yang serius banget. Hip-hop Jowo. Kompas, di sekitar-sekitar perayaan Urban Fest di Ancol kemarin, kalau tak salah, pernah memberitakannya. Katanya, para penggagasnya (wong Yogya?), hendak menggabungkan puisi, bahkan juga serat Cintini, dengan hip-hop.

Tapi, bahwa hasilnya bisa sedahsyat itu, ini yang mencengangkan. Benar-benar mengundang keplok. Beda jauh banget, misalnya, jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Djaduk Ferianto dkk yang terkesan banyak cengengesannya itu.

Mungkin begitulah pop. Orang kementus boleh saja bilang, tak ada yang baru di situ. Biarkan saja. Yang jelas, di pop ada gelegak kreativitas. Mau dibilang baru atau lama, terserah. Yang penting ini: to create. Dan itu menembus batas. Semua yang mungkin menjadi lebih mungkin lagi. Tak peduli itu indie atau major label.

Contoh paling gres ya “hip-hop Jowo” itu. Saya sendiri baru dengar dari radio. Prambos Yogya sering memutarnya. Salah satu nomor asyik, saya lupa entah judul apa, tapi yang jelas, liriknya ada Sengkuni-nya segala. Unik. Mendut-mendut. Laik untuk kesehatan kuping agar tak hanya dipasok (rock) yang itu-itu melulu.

Sengkuni leda-lede. Melu baris ngarep dhewe. Barisane menggok. Sengkuni malah ndheprok.

Kabarnya, mereka, “hip-hop Jowo” ini, sudah merilis 2 album kompilasi. Dan dalam waktu dekat ini akan keluar album ke-3nya. Benar? Di Jakarta, album-albumnya didagangkan di mana saja yak?

Bah Reggae

Sejarah Bukan Belenggu

Buka tutup seenaknya. Malah lebih banyak tutup ketimbang buka. Tapi, jangan lekas percaya pada mata. Ketok saja pintunya, maka segera akan ada jawaban. Sedang tidurkah pemiliknya, sedang mandi atau sedang apa. Begitulah “Vox”, toko kecil CD-second, di seberang Plengkung Gading, Yogya itu.

“Halo, mas. Sori, tunggu sebentar ya. Saya lagi antre bayar PAM nih. Gak kesusu, kan. Sepuluh menitan lagi saya nyampe toko,” katanya siang itu di ujung telepon.

Maka konsumen sumuk nunggu di luar toko adalah hal biasa. Imbalannya, kalau bukan CD, kaset, atau buku dengan harga miring, setidaknya sepotong dua potong info darinya tentang artis ini-itu sedang ngapain, utamanya mereka yang berlabel indie. Di balik rambut gondrong itu seolah ada kamus.

Tapi siang di toko itu orang tak hanya ngomong musik. Pembicaraan juga nyangkut apakah keistimewaan Yogya harus ditandai dengan Sultan yang otomatis Gubernur. Kalau persoalannya sejarah, beberapa di antara mereka mengaku juga paham sejarah Yogya. Dan bagi mereka, sejarah bukan sekadar masa lalu. Apalagi lalu jadi belenggu. Sejarah adalah koma. Bukan titik. Ia tak mandek, cuntel dan mbeguguk.

Mereka tertawa ketika dikatakan banyak pihak yang mendambakan Sultan otomatis Gubenur. Itu belum tentu suara Yogya, kata mereka sembari menambahkan bahwa ewuh pekewuh di situ kuat sekali. Lalu, si kacamata kurus itu bilang, ini soal akuntabilitas. Kalau Gubernur, ya pilkada. Terserah suara warga. Bukan masa lalu.

Ia juga bilang, Peter Gabriel itu kurang apa di Genesis. Ada Nursery Crime, Foxtrot, Selling England dan Lamb Lies. Tapi ketika And Then They Were Three, Duke dan Abacab laris, mau apa Gabriel? Masuk lagi dan menggeser Phil Collins, atas nama sejarah? Belum tentu pasar mau. Justru karena Gabriel tahu sejarah, maka ia ogah reuni.

Bah Reggae

Indie Kok Masokis

Kecil itu indah. Itu kata E.F Schumacher. Tapi kecil bisa pula kejam. Tanya saja Aksara. Bukan buku, tapi perlakuannya atas CD dagangannya. Pesta diskon CD (30%-70%) itu, semingguan berakhir 24 Agustus lalu, hanya ditulis di kertas kecil yang dipasang di pintu masuk toko. Mirip cara Cik Hwa-hwa jualan katok di Mangga-2.

Itu saja belum cukup. Masih ada kekejaman lain di Aksara. CD-CD itu dibiarkan “mati”. Pasalnya, CD-CD itu indie. Dari sononya minim promosi. Awam jarang tahu. Tahu-tahu, blegedeg, sekian artis asing ada di depan mata. Mereka ditaruh di kotak. Lalu di cangkang CD ada potongan harganya. Sudah begitu aja.

Akan OK jika mas dan mbak di situ bisa njawab pertanyaan konsumen tentang para artis asing diskonan itu. Mirip siapa, musiknya gimana dll. Tapi, kalau njawab ngawur saja gak bisa, gimana coba? Memang, CD-CD itu bisa dicoba. Tapi mana ada kuping tahan nyoba lebih dari 2 CD dengan headphone yang super apa-adanya.

Mungkin syarat masuk ke situ konsumen wajib punya HP yang bisa nginternet. Jadi, ketika mau tahu artis ini-itu, ia bisa langsung browsing ke allmusic dll. Kalau benar seperti ini, semestinya di pintu toko sekalian saja ditulis: HP NDESIT, NO! Ini jelas jauh lebih asyik daripada Aksara sendiri menyediakan 1 atau 2 PC bekas yang bisa internet.

Beruntunglah di kotak itu ada Bruce Springsteen, Joan Baez, Paul McCartney dan Interpol. Tapi kalau cuma ini, di tempat lain juga ada. Lalu buat apa ke Aksara. Sudah repot, apalagi Kemang, ternyata di situ masih disiksa pula. Iming-imingnya, diskon gede. Benar-benar masokis. Ryan aja mungkin nggak gini.

Next »