Singkat kata saja. Hidup Suharto! Di dunia wadag maupun di alam baka dia akan berjaya. Siapa yang membikin jaya? Kita semua.
Maka peta masalahnya sungguh simple. Setiap kali dia dirundung masalah atau mengundang masalah maka keluarga, kroni, dan suhartois akan langsung mengukur seberapa indeks kerinduan khalayak. Hasilnya selalu positif.
Dengan momen yang sejenis para kunyuk itu juga sekalian mengkaji ulang siapa yang belum bosan jadi die harders, ingin Suharto diadili dan seterusnya. Jumlahnya ternyata semangkin berkurang.
Siapa yang salah? Justru bukan suhartois tapi orang-orang yang terjebak oleh situasi kerikuhan dan bingung menakar nilai-nilai daripada kemanusiaan, serta (tentu saja) mitos tentang demokrasi.
Siapa paling bersalah? Tentu saja para presiden penerus Suharto. Mereka selalu terjebak dalam salah tingkah sehingga mati kutu. Dari (apalagi) Habibie, Wahid, Megawati, sampai (terlebih-lebih) Susilo, ya sama saja.
Sejujur-jujurnya dan selempang-lempangnya para penerus, mereka selalu terjebak dalam asas legalitas dan pembagian kekuasaan.
Legalitas menyangkut asas praduga tak bersalah. Pemisahan kekuasaan atawa trias politica atawa separation of power menyangkut paham bahwa eksekutif tidak boleh mencampuri lembaga peradilan.
Sebetulnya itu sebuah gagasan dan mitos yang indah lagi mulia. Celakanya, dari penerus ke penerus presiden, lembaga penuntut bernama Kejaksaan Agung tidak sepenuhnya berada di bawah kendali pucuk eksekutif.
Kalau pun eksekutif terlalu ngotot, bahkan menempatkan jaksa agung pilihannya sendiri, silakan menuai risiko dari pembangkangan sampai arsip hilang — bahkan ruang terbakar.
Mencoba lebih jauh dengan mengabaikan asas legalitas? Bakalan dicap sebagai diktator penerus Suharto yang abai hukum dan buta demokrasi.
Hasilnya? Ya seperti hari-hari ini. Semua orang tersandera.
Jalan keluar? Cul de sac — kecuali tiba-tiba kaum tersandera dijangkiti virus menjadi serigala. Tapi bisa saja setelah jadi serigala mereka akan saling terkam dan saling koyak.
Jangan menangis, Indonesia. Kucintai kau dengan rindu, kesal, dan sumpah serapah.