Archive for the tag 'mei 1998'

Bah Reggae

May

Film memang begitu. Akting bagus, crita kuat, editing rancak, gambar memikat, dan aneka jerat ukuran filmis lainnya. Lalu, ini juga penting, laiknya barang dagangan umumnya, meledak di pasar. May mungkin tak akan lolos melewati jerat-jerat itu. Tapi mungkin bukan itu yang penting.

Ini memang “cuma” kisah cinta. Tapi ketika ”asal-usul” para pelaku cinta itu disodor-sodorkan, maka May kiranya bukan lagi sekadar ngomongin orang yang sedang dijatuhi atau tak dijatuhi cinta, lalu bungah, nangis atau uring-uringan. Inilah yang barangkali membedakan May dengan yang lain.

Lebih seru lagi, ”asal-usul” itu selama ini semacam pintu tertutup. Banyak orang, dengan argumen yang macam-macam, akhirnya dengan sukarela membubuhkan gembok dan aneka slorok pada pintu itu. Begitulah Mei 1998. Sama seperti kisah PKI dan horor lainnya, ia terkesan menjadi verboden.

Tapi itu orang lain. Banyak orang lain. Bisunya orang lain. Silent majority? Mungkin. Dan yang lebih serem, para korban pun termasuk di kategori itu. Tapi yang jelas, itu bukan Viva Westi dkk. May jadinya mirip puisi pendek itu. “Hatimu tertutup? It’s OK. Aku masuk lewat mimpimu”.

Dan ketika itu terjadi, kisah cinta di May tak lagi seperti nyanyian cinta Peter Gabriel (di Up, 2002) yang sekadar, ”…. I need to be needed/When my self-esteem is sinking/I like to be liked/In this emptiness and fear/I want to be wanted/’Cause I love to be loved/I love to be loved/Oh…….”.

Bah Reggae

Diskriminasi? So What Gitu Loh!

Ingat cerita ”orang & jagung” di Mati Ketawa Cara Rusia? Dikisahkan orang yang menganggap dirinya jagung. Jadinya ia takut pada ayam. Suatu kali ia berhasil diyakinkan dirinya bukan jagung. Ayam tak akan memakannya. Tapi, belakangan ia takut ayam lagi. Pasalnya, ia tak yakin, apakah ayam tahu bahwa dirinya bukan jagung.

Apakah si ayam lalu harus disadarkan agar jangan menakuti-nakuti? Buat apa! Biarin aja. Susah menghapus memori ayam. Apalagi perilaku ayam itu tak berdiri sendiri. Pasalnya, sedikit banyak selama ini ia diback-up oleh penggalangan anggapan – lewat berbagai statemen petinggi dan kebijakan – yang menganggap orang itu memang jagung.

Karenanya, yang lebih penting, bagaimana menterapi orang itu, agar yakin bahwa dirinya bukan jagung. Bagaimana tabiat ayam, bukan persoalan utamanya. Latar belakang yang mengepung dan mungkin saja menjadi teror, iya. Tapi itu bukan untuk tidak disiasati. Terlebih lagi, siasat pun bukan seperti siasat yang selama ini umumnya dilakukan, tapi sudah saatnya perlu siasat baru.

Chokin? So What Gitu Loh! bicara tentang siasat baru itu. Bunga rampai yang juga dijuduli Pemikiran Tionghoa Muda (Komunitas Bambu, 2008) ini menganggap bahwa pasifisme bukan sebagai satu-satunya ”protokol keselamatan”.

Kiat ”cepat mengalah, bersembunyi, serta mencari perlindungan”, seperti yang selalu diajarkan genenerasi tua, mungkin saja sampai sekarang masih tetap saja laris. Tapi semestinya ia bukan satu-satunya. Apalagi, sangat bisa jadi, justru protokol keselamatan yang seperti itulah yang selama ini menyuburkan diskriminasi.

Jadinya, klop. Komplit. Sesuatu yang salah – diskriminasi itu — disikapi dengan cara yang salah pula oleh para ”korban” diskriminasi. Yang lebih seru lagi, para korban itu juga beranggapan, mempersoalkan kesalahan itu justru akan merugikan komunitas Cina sendiri. Diskriminasi bukannya berkurang, tapi dikhawatirkan malah akan menjadi bertambah lebih buruk lagi.

Maka bisu kemudian menjadi emas. Pasifisme menjadi satu-satunya yang mungkin. Tapi untunglah, ada anak-anak muda ini. Di bunga rampai ini, mereka cas-cis-cus membongkar mitos banyak hal. Kebijakan afirmatif (pemberdayaan pribumi), ”konglomerat Tapos”, asimilasi, dan aneka hal lain yang tak sekadar menangisi sejarah kambing hitam Cina ataupun kerusuhan Mei 1998.

Hanya saja, yang sangat mengganjal adalah diikutkannya beberapa artikel Ignatius Haryanto dalam buku dahsyat ini. Kalau pun idenya tentang banyak hal di luar soal Cina dianggap cemerlang, kenapa tak dibikin buku tersendiri? Dengan begitu, bunga rampai ini tak perlu repot-repot pinjam ”protokol keselamatan” lama: ”tak ada gading yang tak retak”.

Bah Reggae

Thanks Gus

Mungkin benar, hidup bagai air. Dibendung di sini, keluar di sana. Cari jalan lain. Bahkan ketika bendungan itu lenyap tak serta-merta jalan lain itu lalu ditinggalkan. Setidaknya kenangan buruknya masih kuat terpatri di benak.

Kenangan itu melanda cik Hwa-hwa ketika kemarin sore ia masuk Karawang. Di jalan protokol kota kecil itu ada kemacetan luar biasa. Tumpah ruah. Arakan “cina”, barongsai dan naga. “Tepekong”, “dewa uang” dan entah apalagi. Drumband dan perkusi. Angpau. Cap Go Meh. Imlek. Hari terakhir Gong Xi Fat Chai.

Di saat-saat seperti itu, perempuan itu ingat Gus Dur, pendobrak “bendungan” itu. Tapi, ia juga sewot dengan kemacetan itu. Hura-hura yang selalu membuatnya kebelet pipis. Suatu hal yang tak bisa ia lakukan di dalam mobil. “Gila! Macet!. …. Rumahmu masih jauh?”, teriaknya di ujung telepon.

Ia juga kangen ke-2 anak perempuannya. Penghangat rumah yang tiba-tiba saja ia lempar ke suatu tempat yang ia sendiri – juga suaminya, papa-mamanya, dan bahkan keluarga besarnya – belum pernah ke sana. Satu di Perth. Satunya lagi di Sydney. Dua kota yang jauhnya tak selemperan batu dari Pluit rumahnya.

Menyesalkah ia memaksa ke-2 anaknya itu sekolah di sana? Entahlah. Yang pasti, itu terjadi sebelum kiprah Gus Dur. Ketika itu Jakarta barusan diporak-porandakan. Siapa bertanggung jawab, sampai kini tak juga jelas. Tapi ia tak begitu ambil peduli.

Ia hanya ingat, bahwa bagaimana pun mereka adalah anak-anaknya. Dan ia adalah seorang ibu. Cuma itu. Ia tak menyesal tak sempat bercerita pada anaknya, sejak kapan, mengapa dan untuk apa “bendungan” itu ada.

Ia berharap, seperti yang juga diharapkan papa-mamanya, sekolah-lah yang mestinya menjawabnya. Tapi sampai dengan ketika pasukan keamanan malah di tarik dari Jakarta yang sedang membara di Mei 1998 itu, ia yakin, para guru pun tak bisa memberi jawaban yang memuaskan.

Selain uang dan doa, entah sudah berapa buku tentang Gus Dur yang ia kirim ke anak-anaknya. Ada juga Tempo edisi “mata menangis”, dan buku tebal Benny G Setiono, “Tionghoa dalam Pusaran Politik”, yang belakangan bisa di-download itu.