Namanya saja kesan. Ia adalah ketaksabaran. Tak sabar mencari info tambahan. Apalagi jika untuk beroleh info tambahan itu dianggap merepotkan. Maka, apa yang ada – dan sangat sering juga apa adanya – sudah dianggap lebih dari cukup.
Lebih repot dan menggemaskan lagi, anggapan itu tak hanya ada di benak pihak yang berkesan, tapi biasanya juga terjadi di pihak yang dikesankan. Jadinya, yang satu tak sabaran. Sementara yang satunya lagi seenaknya. Nggampangke.
Misalnya saja iklan di media cetak nasional itu. Tak bisa disalahkan jika ada orang yang kemudian bertanya-tanya. Ada apa dengan Auto 2000?”. Berubahkah tukang jual mobil itu? Selama ini, ia hanya jual mobil baru. Yang dijual pun merk Toyota saja. Bukan mobil bekas atau mobil baru merk lain. Sekarang tak seperti itu lagi?
Iklan itu mengatakan, “Ganti mobil lama anda dengan Toyota baru. Di Auto 2000, TUKAR TAMBAH lebih mudah”.
****
Sangat mungin konsumen yang tak mau direpotkan dengan urusan jual mobil lama akan sangat terbantu. Ia tak perlu pasang iklan, dan terpaksa ikhlas telponnya krangkring-krangkring dari orang iseng yang berlagak mau beli, padahal cuma ingin nanyain harga doang, atau lebih gombal lagi, sekadar nanyain berapa komisinya.
Mereka yang tak ada mobil pengganti, jika mobil lama dijual, juga gembira. Selama ini, jika satu-satunya mobil sudah terlanjur dijual, banyak orang akan kerepotan. Mereka mesti nyari-nyari dulu mobil baru. Tapi sekarang gampang. Ia bisa etek-etek-etek ke Auto 2000 dengan mobil lama, dan keluar dari situ langsung dengan mobil baru.
Jika tak ada mobil pengganti, kerepotan juga akan terjadi jika ia nekat milih kendaraan umum, atau pasrah bongkokan percaya pada kenyamanan “busway”. Belum nyamannya busway bukan melulu karena armada atau jalurnya yang masih kurang, tapi bisa jadi juga karena “dosa” penggagas dan para pendukungnya. Betapa tidak?
Suara-suara kritis yang tak sekadar iya-iya doang — atau rame-rame nulis ke “surat pembaca” di media cetak yang thanks dengan adanya busway – malah dianggap hendak menggagalkan atau anti busway, seperti yang dituduhkan Darmaningtyas di Kompas Minggu kemarin (17 Februari 2008, hal 11) itu.
Warga Pondok Indah dan Pluit kemudian dengan semena-mena dianggap setan semua. Mereka dicap sebagai orang-orang kaya yang rewel. Egois. Anti kepentingan umum yang difinisinya, anehnya, seolah-olah menjadi hak ekslusif para penggagas busway dan seabrek pendukungnya.
Kerepotan nyata akibat kenekatan, amburadul dan masifnya pengerjaan proyek busway dianggap sebagai harga yang mesti dibayar dan ditanggung konsumen kendaraan pribadi. Mereka diharapkan harus bisa terima itu. Protes gede-gedean berarti setan. Protes kecil-kecilan dan sopan, iblis.
****
Tapi, sebaiknya, agar tetep waras, kembali saja ke soal iklan itu. Kalau benar mobil lama bisa ditukar dengan Toyota baru di Auto 2000, lalu dikemanakan mobil-mobil bekas itu? Auto 2000 hendak menjualnya sendiri dan tega memakan lahan saudaranya sendiri, misalnya, Mobil 88?
Jelas mobil-mobil bekas itu tak melulu Toyota. Ini berarti, Auto 2000 yang selama ini hanya fokus jualan Toyota saja, sekarang ini juga jualan merk-merk lain dan bekas pula? Di situ sekarang ini juga ada showroom mobil bekas plus para makelarnya?
Sayang memang, nomor telepon (021) 653sekian yang ditemplekkan di iklan itu tak bisa langsung membimbing (calon) konsumen, nomor berapa lagi yang mesti mereka tekan-tekan agar aneka pertanyaan yang berangkat dari kesan itu bisa beroleh jawaban yang mudah dan lebih nggenah.