Archive for the tag 'mobil'

Bah Reggae

Jazz Cupet

Tak setiap orang suka jazz. Tapi, jazz yang satu ini digemari banyak orang. Tanpa paksaan. Di jalanan, sejak pertamakali diluncurkan beberapa tahun lalu – seolah nyaris tanpa ba-bi-bu – Honda Jazz tiba-tiba saja langsung jadi salah satu rajanya. Kacang goreng. Kecil, bertenaga (gila) dan irit BBM.

Merk mungkin jadi pertimbangan. Honda terlanjur nancap sebagai merk yang produknya tak ”macam-macam”. Sederhana. Tak ramai. Jauh dari kesan ”pating clekunik”. Relatif tak banyak garis patah. Jarang ada tonjolan atau lengkungan drastis. Belum lagi suara mesinnya yang halus.

Maka ketika Honda terjun ke ”mobil murah” wajar jika pasar kemudian ramai-ramai menoleh. Lalu, Jazz diburu. Di sini, di situ dan di sana Jazz. Tak peduli indennya lama. Kredit? Di jaman ini, silakan Anda bilang ke dealer hendak beli mobil baru secara cash. Berani bertaruh, mereka akan langsung mangap, ”Stock habis, boss!”. Tapi, mereka akan semrintil jika konsumen kredit.

Akankah All New Jazz sekarang ini akan mengulang kisah sukses besar pendahulunya? Masih harus ditunggu.

Satu hal, Jazz baru terkesan tak seyakin produk sebelumnya. Kurang ”pede”. Terlalu banyak ”Yaris” di situ. Utamanya di kap mesin dan bagian (kaca) belakang. Malah model kap mesin pendek itu bisa mengingatkan orang pada cara Jojon atau si Ogut pakai celana. Ngampret. Cupet. Ditarik sampai dada.

Memang, jazz relatif bisa menampung segala. Kroncong, ”pop”, rock, bahkan seriosa, kalau mau, sedikit nekat, bisa dibikin jazz. Tapi, mosok to, sampai terkesan maksa begitu. Atau, kap mesin pendek nantinya bakal jadi trend. Kalau benar, kenapa CRV baru – yang tampak depannya BMW itu — tak sekalian dibikin ngampret pula?

Bah Reggae

Makelar Baru?

Namanya saja kesan. Ia adalah ketaksabaran. Tak sabar mencari info tambahan. Apalagi jika untuk beroleh info tambahan itu dianggap merepotkan. Maka, apa yang ada – dan sangat sering juga apa adanya – sudah dianggap lebih dari cukup.

Lebih repot dan menggemaskan lagi, anggapan itu tak hanya ada di benak pihak yang berkesan, tapi biasanya juga terjadi di pihak yang dikesankan. Jadinya, yang satu tak sabaran. Sementara yang satunya lagi seenaknya. Nggampangke.

Misalnya saja iklan di media cetak nasional itu. Tak bisa disalahkan jika ada orang yang kemudian bertanya-tanya. Ada apa dengan Auto 2000?”. Berubahkah tukang jual mobil itu? Selama ini, ia hanya jual mobil baru. Yang dijual pun merk Toyota saja. Bukan mobil bekas atau mobil baru merk lain. Sekarang tak seperti itu lagi?

Iklan itu mengatakan, “Ganti mobil lama anda dengan Toyota baru. Di Auto 2000, TUKAR TAMBAH lebih mudah”.

****

Sangat mungin konsumen yang tak mau direpotkan dengan urusan jual mobil lama akan sangat terbantu. Ia tak perlu pasang iklan, dan terpaksa ikhlas telponnya krangkring-krangkring dari orang iseng yang berlagak mau beli, padahal cuma ingin nanyain harga doang, atau lebih gombal lagi, sekadar nanyain berapa komisinya.

Mereka yang tak ada mobil pengganti, jika mobil lama dijual, juga gembira. Selama ini, jika satu-satunya mobil sudah terlanjur dijual, banyak orang akan kerepotan. Mereka mesti nyari-nyari dulu mobil baru. Tapi sekarang gampang. Ia bisa etek-etek-etek ke Auto 2000 dengan mobil lama, dan keluar dari situ langsung dengan mobil baru.

Jika tak ada mobil pengganti, kerepotan juga akan terjadi jika ia nekat milih kendaraan umum, atau pasrah bongkokan percaya pada kenyamanan “busway”. Belum nyamannya busway bukan melulu karena armada atau jalurnya yang masih kurang, tapi bisa jadi juga karena “dosa” penggagas dan para pendukungnya. Betapa tidak?

Suara-suara kritis yang tak sekadar iya-iya doang — atau rame-rame nulis ke “surat pembaca” di media cetak yang thanks dengan adanya busway – malah dianggap hendak menggagalkan atau anti busway, seperti yang dituduhkan Darmaningtyas di Kompas Minggu kemarin (17 Februari 2008, hal 11) itu.

Warga Pondok Indah dan Pluit kemudian dengan semena-mena dianggap setan semua. Mereka dicap sebagai orang-orang kaya yang rewel. Egois. Anti kepentingan umum yang difinisinya, anehnya, seolah-olah menjadi hak ekslusif para penggagas busway dan seabrek pendukungnya.

Kerepotan nyata akibat kenekatan, amburadul dan masifnya pengerjaan proyek busway dianggap sebagai harga yang mesti dibayar dan ditanggung konsumen kendaraan pribadi. Mereka diharapkan harus bisa terima itu. Protes gede-gedean berarti setan. Protes kecil-kecilan dan sopan, iblis.

****

Tapi, sebaiknya, agar tetep waras, kembali saja ke soal iklan itu. Kalau benar mobil lama bisa ditukar dengan Toyota baru di Auto 2000, lalu dikemanakan mobil-mobil bekas itu? Auto 2000 hendak menjualnya sendiri dan tega memakan lahan saudaranya sendiri, misalnya, Mobil 88?

Jelas mobil-mobil bekas itu tak melulu Toyota. Ini berarti, Auto 2000 yang selama ini hanya fokus jualan Toyota saja, sekarang ini juga jualan merk-merk lain dan bekas pula? Di situ sekarang ini juga ada showroom mobil bekas plus para makelarnya?

Sayang memang, nomor telepon (021) 653sekian yang ditemplekkan di iklan itu tak bisa langsung membimbing (calon) konsumen, nomor berapa lagi yang mesti mereka tekan-tekan agar aneka pertanyaan yang berangkat dari kesan itu bisa beroleh jawaban yang mudah dan lebih nggenah.

Bah Reggae

Lho, Ada Apa Honda Matic?

Mobil terjun bebas dari gedung parkir di Jakarta terjadi lagi. Kali ini kejadiannya di gedung parkir Menara Jamsostek (22/1/2008). Mobil terjun dari lantai 8 (sekitar 20 meteran), setelah menabrak dan menjebol dinding parkiran. Satu orang meninggal dalam peristiwa ini.

Sebelumnya, 17 Mei 2007, peristiwa yang sama  terjadi di ITC Permata Hijau. Dalam kejadian ini, 3 orang – suami, isteri dan anak semata wayang mereka – tewas, setelah mobil yang mereka tumpangi menabrak dan menjebol tembok parkiran lantai 7 dan terhempas ke tanah.

Tak berapa lama kemudian, 6 Desember 2007, dinding parkir gedung ITC Permata Hijau ditabrak dan jebol lagi. Beruntung, waktu itu hanya pantat mobil mangkruk-mangkruk di udara. Mobil tak sampai terjun ke tanah. Kejadian nyaris terjun bebas begini sebelumnya (28 November 2007) juga terjadi di gedung parkir Central Dagang Cikarang.

Beberapa kejadian serupa juga terjadi di daerah lain (detikcom, 22/1/2008). Misalnya di Mal Pangrango, Bogor dan Palembang Indah Mall, Palembang.

Atas kejadian itu, banyak pihak kemudian rame-rame mempersoalkan kualitas tembok pembatas gedung-gedung parkir itu. Tapi seperti biasanya, pihak pengelola pun tak kalah ramenya dalam bersumpah-sumpah bahwa gedung parkir itu layak dan – nah ini dia mantra itu — sudah sesuai “prosedur”.

Apapun itu, yang jelas mempersoalkan kelayakan tembok gedung parkir itu kiranya masih jauh lebih mending ketimbang mengutik-utik soal kehati-hatian pengemudi. Bukan berarti faktor pengemudi bukan persoalan lho. Tapi, itu jelas bukan satu-satunya penyebab mobil terjun bebas dari gedung parkir.

Selain kualitas gedung parkir dan perilaku pengemudi, adakah soal lain yang patut dicermati? Mungkin ini hanya soal “kualitas” data saja. Tapi, yang jelas, dari data yang ada, mobil-mobil yang nyaris atau pun yang sudah terjun bebas di Jakarta dan Cikarang itu semuanya bermerk “Honda”. Apakah ini hanya kebetulan belaka?

Apakah juga hanya kebetulan jika 2 di antaranya – 17/5/2007 (ITC Permata Hijau) dan 22/1/2008 kemarin itu (Menara Jamsostek) – adalah Honda bertype “matic”? Sejauh ini saya belum beroleh data, apakah di 2 kejadian lainnya (28/11/2007 & 6/12/2007) honda-honda itu berjenis “matic” juga. Jika itu ternyata Honda matic juga, lho ada apa ini?