Archive for the tag 'monas'

Bah Reggae

The Singer Not The Song Doang

Tidak saja di Monas. Tidak juga di depan Atmajaya atau di dekat Moestopo beberapa saat setelahnya. Itu hanya sebagian kecil. Masih banyak yang lain. Tapi intinya, capnya sama saja. Kekerasan. Khusus untuk aksi-aksi mahasiswa belakangan ini berkenaan dengan kenaikan harga BBM (bersubsidi) cap itu bertambah lagi. Anarki.

Lalu, beberapa pihak merasa terganggu. Mengapa melempar pendapat harus dengan batu? Mengapa pakai pentungan? Mengapa menganiaya? Mengapa merusak? Mengapa memacetkan lalulintas? Mengapa kenyamanan, keamanan dan sejumlah variasi varian turunan ”kepentingan umum” menjadi terganggu?

Malah, tak sedikit dari mereka yang merasa terganggu – setidaknya merasa nggak sreg — itu kemudian ada juga yang bertanya-tanya. Jika aksi itu mengatasnamakan rakyat, kepentingan rakyat yang mana yang diperjuangkan? Kami juga rakyat, kami (mungkin) juga merasakan yang Anda rasakan, tapi kok …. dst. Seru.

Lebih seru lagi argumen dari mereka yang dikesankan atau terang-terangan ngaku terlibat dalam aksi itu. Demikian pula argumen mereka yang sedikit atau banyak membenarkannya.

Kami diprovokasi. Mereka yang nantang duluan. Jangan salahkan kami, karena kebijakan yang tak adil itulah yang membuat kami demikian. Besar mana kerugiannya: Aksi kami atau kebijakan yang tak adil itu? Ini kerja anasir. Mereka inilah yang menunggangi. Mereka sedang memancing di air-keruh… dst.

Tapi, masih ada yang lebih nggilani lagi. Mereka ini bilang, ”Inilah Indonesia”. Busyet!

Haruskah selalu cuma berputar-putar dan berakhir seperti itu? Cuma mak plenyik begitu? Nyanian memang selalu indah. Tapi, umumnya, agar semakin banyak lagi orang yang bisa dan rela menikmati nyanyian itu, akhirnya juga tergantung pada bagaimana aksi penyanyinya.

Bah Reggae

“Buku” Ini Aku Pinjam

Ada tsunami di Aceh, lalu dimana-mana terdengar ”Berita Kepada Kawan” (Ebiet G Ade) dan ”Badai Pasti Berlalu” yang mrokol-harum itu. Ebiet juga nyanyi lagi di sekitar gempa Yogya. Gempa yang oleh beberapa pihak diklaim jadi penyebab lumpur Lapindo dan karenanya APBN yang kemudian harus menanggungnya.

Kalau tradisi putar-memutar lagu sebagai theme song setiap kejadian itu hendak dilestarikan, maka untuk kemasan paska Monas dan SKB belakangan ini yang cocok diputar – utamanya bagi mereka yang cemas dan suka ngledek diri sendiri — barangkali ”Buku Ini Aku Pinjam” (Iwan Fals).

Seperti hari yang lain/Kau senyum tersipu malu/Ketika ku sapa engkau .. Memang usia kita muda namun cinta soal hati/Biar mereka bicara…. Maka tersenyumlah kasih/Tetap langkah/Jangan hentikan…. Buku ini aku pinjam/Kan kutulis sajak indah/Hanya untukmu seorang/Tentang mimpi-mimpi malam.

Ya, memang, buku (baca: negara) itu telah dipinjam untuk menulis cinta. Soal hati. Dan, ah benar, seperti hari yang lain, negara selalu tersipu malu. Tapi, biarkan mereka bicara. Tetaplah melangkah. Jangan hentikan.

Lalu, ”maka tersenyumlah kasih”. Benarkah, setelah ”buku” itu dipinjam, masih ada senyum ikhlas? Bisakah ”telinga kita terkunci”. Kalau pun terkunci, siapa sih yang mengunci? Bukankah sebelum/sesudah SKB keluar ada saling tukar argumen – bukan ancaman & pentungan — yang semestinya bisa membuat setiap pihak tambah kaya?

Bah Reggae

SKB

Mungkin, ini ”cuma” seperti Arifin C Noer tempo hari. Banyak orang ternganga dan terbelalak ketika ia mau-maunya bikin film ”pengkhianatan PKI” itu. Mereka mencap Arifin ikut-ikutan ”membelokkan” sejarah. Sindiran dan protes terang-terangan kemudian tumplek-blek. Arifin bebek.

Apa jawaban Arifin? Kira-kira gini.”Jika bukan gua, pembelokan itu akan semakin parah. Untung ada gua!”. Dan benar. Selain capaian teknis film itu yang luar biasa, banyak orang yang sepakat, lewat tokoh bapak-anak anonim di film itu yang bingung tak tau apa yang terjadi, Arifin memang tak sedang merekayasa sejarah.

Pada akhirnya memang ”the singer”. Sementara ”the song”-nya, berkat Arifin, menjadi laik tonton dan sejarah juga tak sepenuhnya dibiarkan bengkok karena Arifin masih membiarkan adanya tokoh anonim itu.

Kali ini juga ada the song. Di sana ada nyanyian kebebasan. Di sisi lain, penistaan. Ke-2nya kenceng rebutan panggung. HAM juga dibawa-bawa. Tapi yang serem, tak hanya di Monas tapi juga di tempat lain, selain pakai mikropon, rebutan panggung itu juga diwarnai dengan pentungan segala.

Kemudian muncul ”film” SKB itu. SBY dkk bebek? Seperti Arifin tempo hari, mungkin inilah yang namanya resiko. Hanya saja, di Arifin jelas tak ada kalkulasi pemilu, misalnya. Jadinya, klaim dia ”untung ada gue” dan keseriusannya tak ikut-ikutan membelokkan sejarah terasa jelas.

Bah Reggae

Stop Noisy Ala Nick Cave

Ngagor-agori. Laiknya bar tetak. Bariton. Antara Jim Morrison dan Eric Burdon. Begitulah vokal Nick Cave dari sononya. Lalu ada resep ini: beberapa ”noisy punk” dan sejumlah besar nomor yang berbau-bau blues. Utamanya, setelah Let Love In (1994), Nick Cave & The Bad Seed selalu saja seperti itu.

Puncak racikan resep itu ada di Abattoir Blues/The Lyre of Orpheus, dobel album rilisan 2004 yang banyak beroleh puja-puji itu. Tapi kali ini di Dig Lazarus Dig (2008), resep itu sedikit berubah. Tak ada lagi noisy punk semacam Get Ready for Love (di Abattoir Blues), dan Jangling Jack (di Let Love In), tanpa lalu jadi super senyap ala No More Shall We Part (2001).

Album baru Nick Cave & The Bad Seed ini lebih tak fluktuatif – berisik, tenang, berisik lagi dst – seperti di sebagian besar albumnya sebelumnya. Jadinya, bisa diputar kapan saja. OK juga sambil ngunyah berita SKB, kekerasan Monas yang dianggap sekadar ekses, tantang-tantangan dan aneka pembenar lainnya.

Yang asyik antara lain nomor Dig Lazarus Dig yang dipakai untuk menjuduli album ini. Bass dan ketukan drum-nya itu lho. Mak nyus tenan. Atau, bass yang lagi-lagi asyik plus ”ketipung” di Night of the Lotus Eaters. Selain itu, juga ada More News from Nowhere yang bicara tentang kebosanan — atau kegairahan? – atas berita yang itu-itu melulu.

Bah Reggae

Jagoan

Sepintas ini kayak film-film Amerika umumnya. Sang jagoan bertindak sendiri ketika “kejahatan”merajalela karena polisi (aparat penegak hukum) gombal dan korup. Tapi The Brave One tak persis seperti itu.

Di film ini, polisi bersih. Taat hukum. Tapi justru karena begitu, “penjahat” jadinya tak tersentuh. Jika hukum tak bisa menjerat penjahat, lalu siapa yang harus mmbasmi mereka? Begitu tanya sang jagoan (Jodie Foster). Maka jagoan ini ngamuk. Dar, der, dor. Penjahat bergelimpangan. Namanya juga fiksi. Hiburan.

Tapi, tayangan di TV-TV itu tentunya bukan hiburan. Ini juga nyata. Bukan fiksi. Lebih serem lagi, ini tak ada kaitannya dengan hukum (positif) yang memihak penjahat. Juga bukan soal polisi gombal. Tapi, lebih pada klaim bahwa jagoan bisa berbuat apa saja. Maka dihajarlah arakan Aliansi KKBB di Monas itu.

Tak seperti Jodie Foster yang merasa bersalah setelah ngamuk, jagoan kita kali ini terkesan malah sedang merayakan pesta. Kalau gak berani perang, jangan nantang. Atau, mereka kriminal, sehingga layak diperangi. Dan sejumlah argumen lainnya. Tapi mungkin bukan itu yang penting. Pasalnya, mana ada jagoan perlu argumen.