Archive for the tag 'musik'

bang rhoma

Bondan yang bukan Winarno tapi Perkasa

bondan prakoso

Ini anak ajaib juga. Dulu waktu masih penyanyi bocah — kalau tak salah yang “si lumba-lumba” itu — ya biasa saja. Di Funky Kopral juga belum kentara banget. Tapi coba dengar Bondan Prakoso & Fade2Black dalam album Unity.

Jreng! Musik Indonesia serasa dapat sesuatu yang rada segar. Eksplorasi musikal Bondan (aslinya sih pemain bas) oke banget. Maka jadilah sebuah paket gado-gado, dari yang keroncong sampai reggae, dengan sentuhan hip-hop.

Keroncong Protol layak jadi andalan karena nakal, lucu, tapi kreatif. Ramuan sound keseluruhan album juga enak. Angkat helm untuk Bondan (vokal, bas, gitar, drum, programming), Titz G (rap, beat box), Lezz I Know (rap), dan De Santoz (rap).

Kalau saja Gusti Dewata Mulia Raya digarap dengan string section komplet yang cakep, plus koor yang asyik, bolehlah disebut mendekati keindahan hip-hop Gangsta’s Paradise (Coolio, untuk film Dangerous Minds).

Tak terasa, toko buku itu telah berubah menjadi toko CD (musik) yang “lain dari yang lain”. Begitulah toko buku Aksara. Dilihat dari sebagian besar CD dagangannya, ia sama sekali bukanlah subsitusi dari Duta Suara, Aquarius Pondok Indah, Musik+, dan Musiklub.

Malah kesan saya, ke-4 toko (Duta Suara dkk) itu hanya berebut konsumen yang sama. Di sini konsumen disodori dagangan yang relatif tak berbeda antara toko yang satu dengan toko lainnya. Kekhasan masing-masing toko itu – berdasarkan sebagian besar dagangannya – tidak terlalu kentara.

Memang, perlu dicatat — sekalipun tak menghapus kesan keseragaman barang dagangan di 4 toko itu – jika dibandingkan dengan 3 toko lainnya, di Musiklub barang-barang “metal” lebih banyak yang didagangkan. Sementara di Musik+, selain “metal” juga banyak digeber “progrock”.

Bagaimana dengan Disc Tarra, Aquarius Mahakam, Buletin, Sangaji? Sekali lagi, berdasarkan sebagian besar dagangannya, terkesan — maaf – mereka sekadar mengadopsi cara jualan toko di kampung-kampung. Hanya saja, tempatnya jelas lebih nyaman. Mungkin inilah yang membuat rasa sesal nekat masuk ke situ terkadang menjadi terobati.

Bahwa Aksara menjadi melejit sendirian, jelas. Tapi, bahwa konsumen tak tersiksa dengan dagangannya yang “lain dari yang lain”, belum tentu. Pasalnya, konsumen umumnya belum kenal dengan apa yang didagangkan. Bisa dikatakan, praktis baru ketika masuk di Aksara itulah mereka untuk pertama kalinya tahu ternyata ada band/artis ini dan itu. Ibaratnya masuk belantara.

Lebih serem lagi, di tengah belantara itu, kita (calon konsumen) dibiarkan sendirian. Ijen, thok thil!. Tak ada referensi rujukan sama sekali. Pertanyaan sederhana seperti band/artis “asing” itu mirip siapa, atau mewakili genre apa, belum tentu mas-mas dan mbak-mbak di situ bisa menjawabnya dengan gesit.

“Udah pernah dengar X?”, tanya mas dan mbak itu mencoba menolong. Celakanya, si X itu pun salah satu band/artis dari rak belantara dagangan itu. Maka yang terjadi kemudian biasanya adalah rentetan dialog para kere. Kalau si Ini? Belum juga! Si Itu? Wah, belum juga je. Nah, kalo Ini? Busyet deh, sampeyan ngetes gue? Dst, dst.

Memang, di situ diperkenankan untuk mencoba-coba. Tapi selain minimnya player yang tersedia, kuping siapa yang akan tahan ditempeli headphone sederhana dalam waktu yang tak sebentar. Jika yang kita coba cuma 1 – 3 CD, mungkin masih mendinglah. Tapi kalau sudah lebih dari itu, maka pegel-lah telinga ini.

Sudah pegel kuping pun – juga pegel kaki karena terus-menerus berdiri — terkadang masih ditambah lagi oleh perasaan nggak enak kalau nggak beli. Apalagi kalau kita jam-jaman mencoba berpuluh band/artis ini-itu. Memang, “harus beli” itu tak keluar dari mas-mas dan mbak-mbak di situ. Tapi tahu dirilah. Inilah gombalnya konsumen.

Barangkali, kegombalan itu bisa sedikit berkurang jika, misalnya, ada katalog kecil yang berisi diskripsi singkat tentang band/artis belantara dagangan itu. Menggurui (calon) konsumen? Mungkin. Tapi daripada pegel dan muncul perasaan “nggak enak nggak beli”? Tak selamanya lho banyak pilihan (yang didagangkan) itu tak menyiksa.

bang rhoma

In Progrock We Trust

purwanto kortem

Kurang jelas siapa orang ini. Kalau tak salah dia dulu di Republika bareng E.H. Kertanegara, lantas pindah ke MuMu, tabloid musik bagus yang lahir mendahului zaman. Sekarang patut diduga dia ada di Koran Tempo.

Bedahan musik orang ini oke. Referensi luas. Sayang tabloid MuMu, yang dimodali adiknya B.J. Habibie, itu tamat riwayat. Ini tabloid merakyat, yang lahir setelah reformasi, saat studio musik bertebaran di kampung-kampung. Kualitas cetak sekelas koran kota, tata rupa sangat berani (cocok untuk generasi MTV dan yang melek internet, karena gaya HTML pun masuk), harga murah, contoh ngeset drum seorang musisi pun ada. Begitu pula contoh skematik tata suara untuk pentas yang ribet untuk ukuran saat itu (kalau tak salah GiGi di GKJ).

Sekali lagi, itu semua kalau tak salah. Karena ini orang, lagi-lagi, memang tak jelas. Mungkin maunya seperti lagu yang saya putar pagi ini: The Endless Enigma (Emerson Lake Palmer). Tapi bisa jadi saya salah terka. Mungkin dia penjaga parkir atau centeng di mana gitu. :)

Blog memang bisa macam-macam isinya. Jreng!

Next »