Feb 19th, 2008
Di Situ Tak Ada Pontius Pilatus
Banyak pilihan belum tentu tak bikin pusing. Ini juga berlaku di CD, utamanya CD impor. Selain menjamurnya artis baru – artis lama (atau karya lama) juga banyak bermunculan lagi – harga CD pun lumayan bikin enek, seperti yang dikeluhan mas Pur si “kunangkunang” di blog sebelah itu.
Memang, di pasar, ada juga CD-CD dengan harga tak semangkean. Misalnya, Bjork (Volta, 2007), Whitest Boy Alive (Dream, 2006), Thom Yorke (The Eraser, 2006) dan Mars Volta (Bedlam in Goliath, 2008). Juga aneka album “legend” artis-artis “lama” yang harganya lebih semanak lagi. Inilah “CD lokal”. Harga dan produksi lokal, artisnya impor. Baguslah.
Tapi di luar itu, di banyak toko, CD-CD berlabel “impor” harganya dikerek “selangit”. Kalau kita bisa selektif, maka “aman”-lah. Celakanya, yang namanya kuping – seperti pula lidah dan mata – terkadang meminta terlalu banyak. Akibatnya, kepala cenut-cenut. Atau, perut jadi sering mules akibat represi yang dipaksakan, sementara sublimasi terbatas pula.
Untungnya, atas nama kuping jahat itu, ada satu hal yang kiranya perlu dicatat, yakni bahwa “langit-langit” masing-masing toko CD tidaklah sama. Artinya, bandrol mahal CD-CD impor dagangan mereka bisa berbeda-beda.
Barang di Musiklub, misalnya, umumnya lebih mahal ketimbang toko lain. Coba bandingkan bandrol Yes, Jethro Tull, King Crimson, atau Gentle Giant yang juga banyak dijual di Aquarius Pondok Indah dan Duta Suara. Menurut saya, langit-langit toko CD yang hanya ada di Pondok Indah II itu mirip langit-langit Musik+ dan Hard&Heavy (Plaza Dago).
Tapi, celakanya, sangat sering, apa yang ada di toko-toko CD mahal itu belum tentu ada di toko lainnya. Atas CD-CD yang semacam inilah, konsumen akan kesulitan untuk membandingkan harga. Kesulitan itu akan jadi amat sangat ekstrem ketika konsumen masuk di Aksara (Citos/Kemang), yang dagangannya umumnya khas dan tak ada di tempat lain.
Iseng-iseng saya pernah nanya ke Aquarius Pondok Indah dan Duta Suara (Sabang), mengapa mereka tak “on-line”, seperti, misalnya HMV itu. Dan jawaban mereka benar-benar menghenyakkan. “Kalau kami online berarti kompetitor kami akan tahu apa saja yang kami jual dan berapa harganya”. Alamak!
Dengan kondisi pasar yang jahiliyah begitu, maka tak ada cara lain kecuali konsumen yang harus rela serela-relanya menderita. Alternatif lain, World of Music (Artha Gading. Taman Anggrek, Citraland, dan Mal Pluit). Di situ ada CD impor dengan harga “lama”. Tapi, ini jelas hanya sementara sifatnya, selain pilihannya pun terbatas untuk tak menyebutnya memprihatinkan.
Jika berkenan menunggu konsumen lain bosan, maka tersedia pula Jl Surabaya, Menteng. Kalau beruntung, setelah keringet dleweran tentunya, di situ kita bisa beroleh CD impor yang jauh lebih murah ketimbang di toko-toko mentereng.
Dan yang lebih penting lagi, di Jl Surabaya, tak ada Pontius Pilatus – kecuali Opung yang tokonya ber-AC itu – yang sama sekali tak memperkenankan konsumen menawar bandrol yang telah dipasang di setiap kemasan keping CD.
