Nov 21st, 2008
CD Impor Seharga Pecel. Pecel Anggrek
Ada harga lama, ada harga baru. Ini hanya ada di taksi. Dagangan lain mustahil bisa begitu. Apalagi CD impor. Penentuan harganya mirip yang terjadi di BBM. Konsumen bisanya cuma beli atau nggak beli. Kalau pun ada pilihan lain, paling pol, itu hanya menyangkut beli di toko anu dan bukan toko yang lain karena bandrol di situ lebih murah. Cuma itu.
Tapi, kenapa bandrol dipasang segitu, ini dunia gelap. Jika kemarin-kemarin saja di jaman dolar normal sudah begitu, bisa dibayangkan kayak apa jaliliyahnya sekarang-sekarang ini ketika Rp jeblok terus. Entah sampai kapan. Boediono saja sampai merengek ke pasar supaya mau jual dolar agar dolar normal lagi. Dan Rp bisa njenggelek.
Sebagai ilustrasi bisa dipakai apa yang dilakukan Musik+. Di sini, ketika dolar melesat naik, maka bandrol dagangan lama (yang sudah ada sebelum dolar naik) lalu ikutan pula dinaikkan. Ngikutin harga baru. Alasannya, busyet banget tapi masuk akal, mereka tak mau repot jika mesti ada harga lama dan harga baru.
Aquarius Pondok Indah, yang bandrol CD impor-nya dalam dolar, juga tak mau repot. Mereka nolak mentah-mentah atas usul “kurs khusus”. Misalnya, karena dolar sudah gila dan akan semakin gila, mereka bisa mematok kurs sampai tingkat tertentu saja (lebih rendah dari harga pasar). Konsumen jadinya tak sakit perut. Selain itu, toh kalau di Rp-kan, untuk barang lama, mereka juga sudah untung.
Lha untuk barang baru? Sebetulnya bisa dilakukan “subsidi silang”. Sebagian keuntungan dari barang lama untuk menutup “subsidi” barang baru. Toh barang baru juga lakunya relatif tak segencar barang lama. Wong barang lama aja sudah mencekik-kik begitu, apalagi yang baru.
Tapi, lagi-lagi, mereka tak mau repot. Itu sama saja ada harga lama dan harga baru. Terlebih lagi, mereka beli dalam dolar, maka njualnya juga harus dalam dolar. Aman. Tapi mungkin Aquarius memang begitu. Semua dalam dolar. Termasuk mbayar tukang untuk mbetulin genteng toko yang bocor atau beli pecel untuk pegawainya yang ultah. Pecel anggrek, siapa tau?