Archive for the tag 'musikplus'

Bah Reggae

CD Impor Seharga Pecel. Pecel Anggrek

Ada harga lama, ada harga baru. Ini hanya ada di taksi. Dagangan lain mustahil bisa begitu. Apalagi CD impor. Penentuan harganya mirip yang terjadi di BBM. Konsumen bisanya cuma beli atau nggak beli. Kalau pun ada pilihan lain, paling pol, itu hanya menyangkut beli di toko anu dan bukan toko yang lain karena bandrol di situ lebih murah. Cuma itu.

Tapi, kenapa bandrol dipasang segitu, ini dunia gelap. Jika kemarin-kemarin saja di jaman dolar normal sudah begitu, bisa dibayangkan kayak apa jaliliyahnya sekarang-sekarang ini ketika Rp jeblok terus. Entah sampai kapan. Boediono saja sampai merengek ke pasar supaya mau jual dolar agar dolar normal lagi. Dan Rp bisa njenggelek.

Sebagai ilustrasi bisa dipakai apa yang dilakukan Musik+. Di sini, ketika dolar melesat naik, maka bandrol dagangan lama (yang sudah ada sebelum dolar naik) lalu ikutan pula dinaikkan. Ngikutin harga baru. Alasannya, busyet banget tapi masuk akal, mereka tak mau repot jika mesti ada harga lama dan harga baru.

Aquarius Pondok Indah, yang bandrol CD impor-nya dalam dolar, juga tak mau repot. Mereka nolak mentah-mentah atas usul “kurs khusus”. Misalnya, karena dolar sudah gila dan akan semakin gila, mereka bisa mematok kurs sampai tingkat tertentu saja (lebih rendah dari harga pasar). Konsumen jadinya tak sakit perut. Selain itu, toh kalau di Rp-kan, untuk barang lama, mereka juga sudah untung.

Lha untuk barang baru? Sebetulnya bisa dilakukan “subsidi silang”. Sebagian keuntungan dari barang lama untuk menutup “subsidi” barang baru. Toh barang baru juga lakunya relatif tak segencar barang lama. Wong barang lama aja sudah mencekik-kik begitu, apalagi yang baru.

Tapi, lagi-lagi, mereka tak mau repot. Itu sama saja ada harga lama dan harga baru. Terlebih lagi, mereka beli dalam dolar, maka njualnya juga harus dalam dolar. Aman. Tapi mungkin Aquarius memang begitu. Semua dalam dolar. Termasuk mbayar tukang untuk mbetulin genteng toko yang bocor atau beli pecel untuk pegawainya yang ultah. Pecel anggrek, siapa tau?

Bah Reggae

Berita Dari Kawan

Kurang jelas, sejak kapan si kawan jadi tukang adu domba. Tapi, mungkin itu tak penting. Sebab, mungkin, justru memang harus seperti itulah konsumen yang aktif. Modalnya, katanya, cuma ini: mangkel. Ia sudah mempraktekkannya dan berhasil. “Korban”-nya, Musik+.

Bermula dari kabar tentang Beirut. Di Jakarta, waktu itu, cuma ada di Aksara. Harganya bikin mangkel si kawan. Lalu, ia mencet 081648xxxx. Ini, katanya, nomor orang yang dipasrahi oleh ”si om & tante” itu untuk mengelola Musik+. Setelah cengengesan sebentar ia langsung to the point.

”Bos, Beirut asyik lho. Kalau gak percaya, silakan lihat resensinya di Allmusic.com. Kalau Musik+ bisa ngimpor, asyik juga lho,” katanya. Tak lupa ia juga melempar jurus ini. “Saya sudah keliling-keliling. Di Jakarta belum ada. Padahal kelihatannya banyak yang nyari lho”.

Kira-kira 2 minggu setelah itu, HP si kawan berdering. Dari 081648xxxx yang mengabarkan Beirut sudah ada di Musik+. Tapi harganya malah makin bikin si kawan tambah mangkel. ”Mahal banget? Ternyata di Aksara ada, Bos. Berarti selisihnya 30%, lho”, katanya sambil menyebut harga Beirut di Aksara.

Si 0812xxxx lalu memberi penjelasan panjang lebar, mengapa Beirut di Musik+ bisa lebih mahal. Harga dari sononya, katanya. Lalu, si kawan melempar jurus lagi. ”Wah, berarti Beirut di Aksara akan tambah laris dong, ya?”.

Entah bagaimana critanya, yang pasti, beberapa hari kemudian si kawan beroleh kabar, bandrol Beirut di Musik+ malah dipasang lebih murah Rp 5,000 ketimbang di Aksara. Sampai hari ini. Mangkel membawa nikmat, katanya.

Tapi, menurut si kawan, tetap saja masih ada hal yang tak mengenakkan. Masing-masing toko CD tak pernah saling melirik bandrol yang mereka pasang. Tak ada patokan. Celakanya, harga yang dikerek tinggi pun masih ada konsumennya. Terlebih lagi konsumen yang bangga bisa beli CD mahal.

Ah, mosok to, ada konsumen yang kayak gini?

Bah Reggae

Di Situ Tak Ada Pontius Pilatus

Banyak pilihan belum tentu tak bikin pusing. Ini juga berlaku di CD, utamanya CD impor. Selain menjamurnya artis baru – artis lama (atau karya lama) juga banyak bermunculan lagi – harga CD pun lumayan bikin enek, seperti yang dikeluhan mas Pur si “kunangkunang” di blog sebelah itu.

Memang, di pasar, ada juga CD-CD dengan harga tak semangkean. Misalnya, Bjork (Volta, 2007), Whitest Boy Alive (Dream, 2006), Thom Yorke (The Eraser, 2006) dan Mars Volta (Bedlam in Goliath, 2008). Juga aneka album “legend” artis-artis “lama” yang harganya lebih semanak lagi. Inilah “CD lokal”. Harga dan produksi lokal, artisnya impor. Baguslah.

Tapi di luar itu, di banyak toko, CD-CD berlabel “impor” harganya dikerek “selangit”. Kalau kita bisa selektif, maka “aman”-lah. Celakanya, yang namanya kuping – seperti pula lidah dan mata – terkadang meminta terlalu banyak. Akibatnya, kepala cenut-cenut. Atau, perut jadi sering mules akibat represi yang dipaksakan, sementara sublimasi terbatas pula.

Untungnya, atas nama kuping jahat itu, ada satu hal yang kiranya perlu dicatat, yakni bahwa “langit-langit” masing-masing toko CD tidaklah sama. Artinya, bandrol mahal CD-CD impor dagangan mereka bisa berbeda-beda.

Barang di Musiklub, misalnya, umumnya lebih mahal ketimbang toko lain. Coba bandingkan bandrol Yes, Jethro Tull, King Crimson, atau Gentle Giant yang juga banyak dijual di Aquarius Pondok Indah dan Duta Suara. Menurut saya, langit-langit toko CD yang hanya ada di Pondok Indah II itu mirip langit-langit Musik+ dan Hard&Heavy (Plaza Dago).

Tapi, celakanya, sangat sering, apa yang ada di toko-toko CD mahal itu belum tentu ada di toko lainnya. Atas CD-CD yang semacam inilah, konsumen akan kesulitan untuk membandingkan harga. Kesulitan itu akan jadi amat sangat ekstrem ketika konsumen masuk di Aksara (Citos/Kemang), yang dagangannya umumnya khas dan tak ada di tempat lain.

Iseng-iseng saya pernah nanya ke Aquarius Pondok Indah dan Duta Suara (Sabang), mengapa mereka tak “on-line”, seperti, misalnya HMV itu. Dan jawaban mereka benar-benar menghenyakkan. “Kalau kami online berarti kompetitor kami akan tahu apa saja yang kami jual dan berapa harganya”. Alamak!

Dengan kondisi pasar yang jahiliyah begitu, maka tak ada cara lain kecuali konsumen yang harus rela serela-relanya menderita. Alternatif lain, World of Music (Artha Gading. Taman Anggrek, Citraland, dan Mal Pluit). Di situ ada CD impor dengan harga “lama”. Tapi, ini jelas hanya sementara sifatnya, selain pilihannya pun terbatas untuk tak menyebutnya memprihatinkan.

Jika berkenan menunggu konsumen lain bosan, maka tersedia pula Jl Surabaya, Menteng. Kalau beruntung, setelah keringet dleweran tentunya, di situ kita bisa beroleh CD impor yang jauh lebih murah ketimbang di toko-toko mentereng.

Dan yang lebih penting lagi, di Jl Surabaya, tak ada Pontius Pilatus – kecuali Opung yang tokonya ber-AC itu – yang sama sekali tak memperkenankan konsumen menawar bandrol yang telah dipasang di setiap kemasan keping CD.

Next »