Archive for the tag 'pki'

Bah Reggae

Lastri Harus Dilarang Kalau …..

Moga-moga syuting Lastri lancar. Kalau di Solo nggak boleh, ya ganti saja di tempat lain. Setting (properti) apa pun, di jaman ini, kiranya bukan persoalan besar. Tapi, asyik jugalah jika ulah para pelarang yang menyebut diri anti PKI itu malah menambah popularitas Lastri. Maklum dagangan. Dilarang seringkali malah jadi dicari banyak orang.

Tapi, Lastri memang harus dilarang, kalau perlu dari sekarang, jika nantinya cuma mengulang apa yang dilakukan Out of Africa (1985). Ini karya Sydney Pollack yang bercerita tentang orang-orang yang saling jatuh-jatuhan cinta. Gedebag-gedebug. Semua orang tahu, kalau lagi cinta-cintaan memang begitu.

Dagangan cinta itulah yang dieksplor habis. Akibatnya, jangankan jadi latar belakang, Afrika di film itu tak berlebihan jika dikatakan hanya untuk keperluan judul film doang. Film ini praktis tak ngomongin Afrika, kecuali hanya menyorot ke-eksotisan-nya. Jadinya, jika film itu dijuduli Out of New York sebenarnya juga tak apa-apa. Mau di Afrika, London, Jakarta, Cikeas atau Porong tak penting.

Kalau benar nantinya Lastri cuma seperti itu, kasihan sekali. Karena itu sebaiknya memang dilarang saja. Pasalnya, sedikit atau banyak, ia hanya akan menafikkan apa yang sudah dimulai oleh Gie (2005), misalnya. Di film ini, sekali pun cuma sebagai latar belakang, apa yang terjadi di penghujung September 1965 yang masih dianggap gelap itu dipaparkan dengan apik. Dan Gie laris manis.

Ini mungkin pertanda bahwa konsumen memang rindu disiram dagangan yang masih gelap-gelap itu. Konsumen rela kok jika sekian sumber (resmi) tak memproduksi info yang memadai. Konsumen ikhlas jika itu gampang-gampangan disebut G-30-S/PKI. Tak masalah. Asal masih ada Gie, atau seharusnya Lastri. Tapi kalau Lastri bergaya Pollack, ya buat apa. Sejarah tetap saja bolong.

Bah Reggae

SKB

Mungkin, ini ”cuma” seperti Arifin C Noer tempo hari. Banyak orang ternganga dan terbelalak ketika ia mau-maunya bikin film ”pengkhianatan PKI” itu. Mereka mencap Arifin ikut-ikutan ”membelokkan” sejarah. Sindiran dan protes terang-terangan kemudian tumplek-blek. Arifin bebek.

Apa jawaban Arifin? Kira-kira gini.”Jika bukan gua, pembelokan itu akan semakin parah. Untung ada gua!”. Dan benar. Selain capaian teknis film itu yang luar biasa, banyak orang yang sepakat, lewat tokoh bapak-anak anonim di film itu yang bingung tak tau apa yang terjadi, Arifin memang tak sedang merekayasa sejarah.

Pada akhirnya memang ”the singer”. Sementara ”the song”-nya, berkat Arifin, menjadi laik tonton dan sejarah juga tak sepenuhnya dibiarkan bengkok karena Arifin masih membiarkan adanya tokoh anonim itu.

Kali ini juga ada the song. Di sana ada nyanyian kebebasan. Di sisi lain, penistaan. Ke-2nya kenceng rebutan panggung. HAM juga dibawa-bawa. Tapi yang serem, tak hanya di Monas tapi juga di tempat lain, selain pakai mikropon, rebutan panggung itu juga diwarnai dengan pentungan segala.

Kemudian muncul ”film” SKB itu. SBY dkk bebek? Seperti Arifin tempo hari, mungkin inilah yang namanya resiko. Hanya saja, di Arifin jelas tak ada kalkulasi pemilu, misalnya. Jadinya, klaim dia ”untung ada gue” dan keseriusannya tak ikut-ikutan membelokkan sejarah terasa jelas.

Bah Reggae

Murad

Beberapa hari lalu, pengagum kakak itu berpulang. Begitulah mungkin sejarah akan mencatatnya: pengagum kakak. Itupun kalau sempat. Lebih kecil lagi kemungkinannya jika ”sejarah adalah sebuah versi” ikut dipertimbangkan. Maka wajar jika lelaki yang meninggal di usia 81 tahun itu dilupakan banyak orang.

Tapi untunglah ada Aidit Sang Legenda (Panta Rai, 2006). Di situ, selain hanya mengumbar kekaguman pada kakaknya yang tokoh PKI itu, Murad Aidit tampaknya juga berhasil melengkapi ”lubang”, misalnya, di Memoar Pulau Buru (Indonesia Tera, 2004) yang “dibikin” Hersri Setiawan.

Di memoarnya itu Hersri tak sempat menjelaskan dengan lengkap mengapa ia sampai sesenggukan di depan kubur mereka yang ditembak mati karena dianggap bertanggungjawab atas apa yang ramai-ramai selama ini disebut sebagai ”peristiwa Madiun” atau ”pemberontakan PKI 1948”. Untunglah ada Murad.

Dengan mengutip pidato lengkap Aidit tentang peristiwa itu, maka berkat Murad di Aidit Sang Legenda, kiranya ”lubang” Hersri itu terjawab sudah dan dengan terang benderang pula. Tapi sebenderang-benderangnya sejarah, ia tampaknya tetaplah hanya sebuah versi. Entah sampai kapan.

Bah Reggae

Tommy

Kutitipkan bangsa ini padamu. Ini kata-kata si Bung. Konon, di saat-saat terakhir di RSPP itu, bapaknya, sambil menunjuk dirinya, juga sempat menyitir omongan si Bung itu sebagai pesan terahir pada sejumlah orang. Hanya saja , bapaknya mengimbuhkan huruf “t” di belakang kata “bangsa” itu.

Mungkin pesan bapaknya itu suatu bentuk pengakuan bahwa ia memang anak istimewa. Kakinya saja dahsyat. Gara-gara kakinya tersiram air panas, PKI diburu dan sang bapak bisa jadi orang nomor satu di negeri ini selama puluhan tahun. Coba, dulu, di penghujung September 1965 itu, sang bapak tak ambil peduli pada kaki itu, dan segera menindak-lanjuti saja laporan Kolonel Latief.

Maka ketika belakangan ini ia menolak sebagai ahli waris perkara bapaknya, kiranya itu hanya contoh kecil lain betapa benarnya omongan bapaknya itu. Ia memang “bangsa” dengan imbuhan “t”. Dan karena itu ia menjadi sangat istimewa.

Ia mungkin seperti Tommy, album The Who (1969) itu. Anak abnormal yang menolak dijadikan seperti orang normal umumnya. Justru karena abnormal itulah, ia menganggap orang lain-lah yang semestinya memahami dirinya, bukan sebaliknya. “See me, feel me, touch me, heal me”, begitu katanya berulang kali.

Di Pinball Wizard yang asyik itu, Tommy bilang, “Ever since I was a young boy/I’ve played the silver ball… I must have play them all/But I ain’t seen anything like him”. Di I’m Free ia juga bilang, “I’m free/And freedom taste of reality”. Malah, katanya di Welcome, “Come to my house/Be one of the comfortable people…/We’re drinking all night/Never sleeping”.

Semula Tommy adalah sesuatu yang ditertawakan banyak orang. Tapi kemudian ia dianggap istimewa. Ia tak hanya menjadikan The Who berubah berorientasi ke album – dari sebelumnya yang hanya berkiprah lewat single – tapi juga sebagai inspirator berbagai rock opera. Ada Quadrophenia (The Who, 1973 ).

Ada pula Jesus Christ Super Star/JCSS (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice, 1973). Niki Kosasih – jauh sebelum Saur Sepuh meledak dan beda keyakinan tak sesensitif sekarang – pernah mengadaptasi JCSS untuk acara kebaktian Paskah di gereja di pinggiran Yogya. Harry Rusli juga menelorkan Ken Arok (1975), sebelum rock-gamelan Titik Api (1977).

Bah Reggae

Buku Kesusu

Jarang ada pedagang pisau yang secara demonstratif menunjukkan betapa tajam pisau dagangannya. Biasanya, ia cukup memperlihatkan ke (calon) konsumen bahwa yang dijualnya adalah pisau beneran. Ia tak perlu memotong benda-benda di sekitar hanya agar konsumen percaya bahwa pisaunya dahsyat.

Tapi lain pedagang pisau, lain pula Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto dkk dalam berbagai tulisan mereka yang dikemas dalam buku “Teori-teori Kebudayaan”, terbitan Penerbit Kanisius, 2005.

Selain tak bisa dinikmati sambil ongkang-ongkang, para penulis buku itu terkesan terlalu bernafsu menunjukkan contoh kehebatan “pisau” kebudayaan, termasuk pula pop. Kupasan teoritis belum begitu rampung, tapi mereka sudah tak sabar memakainya untuk membedah berbagai hal di negeri ini yang mereka anggap layak untuk dibedah.

Kesusu. Ini mungkin sama kesusunya dengan buku terbitan Penerbit Kanisius lainnya, seperti “Menyeberangi Sungai Air Mata” (Antonius Sumarwan, 2007) itu. Buku ini dimaksudkan mengungkap penderitaan dan upaya rekonsiliasi para korban kebencian massal tragedi September 1965, yang sering serampangan disebut sebagai G 30S PKI itu.

Aneka cerita para korban di buku ini tak semua berhasil mengungkap penderitaan itu. Apalagi jika kemudian diloncatkan ke upaya rekonsiliasi segala. Namun, buku ini berhasil menjejali pembaca dengan renungan–renungan penulis atas penderitaan itu. Bisa jadi pembaca akan megap-megap. Tapi begitulah kesusu. Dimana pun selalu seperti itu.