Archive for the tag 'radiohead'

Bah Reggae

Radiohead Akustik

Terkadang publik ya publik, privat ya privat. Ke2nya beda. Lalu, kalaupun dipaksa-paksa harus sama, biasanya yang muncul malah pertanyaan. Seberapa jauh jarak antara ke2nya. Dan jawabannya, biasanya juga standar: itu tergantung masing-masing orang. Artinya, individual.

Jagoan bahasa Indonesia itu, dulu, sampai punya acara tetap di TV segala. Bukan hanya bahasa itu perlu dilestarikan. Ia, di media publik itu, juga kampanye gimana makainya dengan baik dan benar. Tapi di rumah, ia hanya berbahasa Belanda. Sonder bahasa Indonesia. Kecuali ketika ia bicara dengan para pembantu, tukang kebon dan sopirnya.

Itulah barangkali “empan papan” itu. Di publik dan privat lain. Tapi bagi tak sedikit orang, yang begitu-begitu itu tak berlaku. Publik ya privat. Privat ya publik. Misalnya saja soal CD bajakan. Di publik, ia terang-terangan didagangkan. Dan, secara terang-terangan pula, hanya dalam sekejab, jadi privat.

Jangan-jangan ini jadinya kayak Long Live Rock (The Who, Odds & Sods,1974) itu. Rock is dead. Long live rock.

Tapi apapun itu, di pasar CD bajakan kini ada Radiohead “baru”. Hanya dengan Rp 6- 8 ribu, sudah bisa beroleh Radiohead B-sides, “Gaging Order”. Itu yang tertulis di kover depan. Sementara di sampul samping jelas-jelas ditulis “Gagging Order”. Isinya full akustik. Suara tengik Thom Yorke hanya ditemani gitar dan terkadang piano.

Dari 20 lagu yang didagangkan di Gagging Order ini, ada 5 lagu yang belum pernah muncul di album-album “resmi”nya. Good Morning Mr Magpie, Banana Co, On The Beach, Follow Me Around dan Gagging Order.

Mungkin, agar anti barang bajakan bisa terealisir, toko CD segera bisa mendagangkan produk aslinya. Pasalnya, sejauh ini, Gagging Order itu belum ada di toko. Tapi, kalau harganya “jahiliyah”, apa bisa ia meredam bajakan. Apalagi, kualitas Gagging Order bajakan ini bisa dibilang bagus sekali.

Bah Reggae

In Rainbows. Cuma Separo

Nampaknya, ada kalanya pembajak CD tak selalu harus dikutuki. Setelah bosan beli CD bajakan karena kualitas suaranya umumnya hancur, seorang teman mengabarkan ternyata ada pula beberapa CD bajakan yang lumayan. Misalnya saja, ”In Rainbows” (Radiohead). Dua kali beli, dua kali pula ia mengaku puas.

Bahkan, kualitas In Rainbows bajakan Rp 6 ribuan itu tak berbeda banyak dengan edisi ”asli” yang di toko-toko resmi dibandrol Rp 150 ribu. Hanya saja, kemasan CD bajakan itu memang memprihatinkan. Kover ngawur-awuran – yang entah dikopi dari mana – plus, seperti CD bajakan umumnya, plastik bungkus.

Pingin In Rainbows bajakan yang tak saja kualitas suara tapi juga kovernya ciamik? Belakangan juga ada barangnya. Setidaknya, dagangan itu dijual di beberapa konter yang jejer-jejer di depan ”Sydney” (toko audio), Mal Mangga Dua Jakarta. Harganya, kalau ngotot nawar, bisa dilepas Rp 35 ribuan.

Kualitas suaranya praktis mirip In Rainbows ”asli”. Mungkin hanya kuping-kuping jago saja yang mampu mengenali perbedaannya. Lalu, kemasannya juga lebih mewah. Tak seperti kemasan yang mirip amplop CD aslinya. Booklet juga ada. Hanya saja, memang, tak ada stiker kover seperti CD asli.

Tapi, sayang, baik pedagang resmi maupun para pembajak itu, sejauh ini tak mampu mendagangkan In Rainbows yang komplit. Pasalnya, album baru Radiohead ini terdiri dari 2 keping. Keping satu berisi 10 nomor. Ini yang didagangkan. Sementara keping lainnya – berisi 8 lagu – sejauh ini kok belum nampak di pasar yak?

Ke-8 nomor itu terdiri dari MK1, Down is the New Up, Go Slowly, MK2, Last Flowers, Up on the Ladder, Bangers and Mash, dan 4 Minute Warning. Konon kabarnya, 8 nomor bonus track itu memiliki warna musik yang relatif berbeda jika dibandingkan dengan 10 nomor In Rainbows yang saat ini ada di pasar. Benarkah?

Bah Reggae

Pindah Jalur. Ngeplang Nggak?

Di jalanan, orang bisa saja pindah-pindah jalur. Bahkan tak perlu kasih tanda sebelumnya. Was-wes was-wes. Terkesan seenaknya. Sebentar di situ, tiba-tiba di sana, lalu balik lagi di situ, dst. Melihat ini, belum tentu tak setiap orang tak akan pusing. Ada orang pusing yang diam aja. Ada pula yang lalu mengumpat, ”Gombal!”.

Tapi Koes Plus termasuk band yang tertib. Setiap pindah jalur ia selalu ngeplang. Ada plang pop melayu, keroncong, jawa, natal, qasidah dll. Tertib itu kemudian menular ke Panbers, The Mercy’s dan D’Lloyd. Mungkin inilah ketertiban pop yang hanya terjadi di negeri ini. Di tempat lain jarang ada ngeplang-ngeplangan seperti itu.

Led Zeppelin, misalnya. Band ini pindah jalur begitu saja lewat album Houses of The Holy (1973). Setelah itu, mereka kesana-kemari dan tak mau balik lagi ke jalur awal seperti di 4 album awalnya. Procol Harum ganti jalur di Broken Baricade (1971), dan ogah balik lagi ke jalur awal pra Broken.

Blur juga begitu. Tiba-tiba saja ada album Blur (1977), yang sangat beda dengan jalur (4 album) sebelumnya. Lalu kemudian ada 13 (1999) dan Think Thank (2003) yang hanya menegaskan bandnya Damon Albarn ini tak tertarik lagi ke jalur awal. The past is a goodbye, kata Crosby Stills Nash & Young.

Radiohead lebih kejam lagi. Jalur awal — Pablo Honey (1993) dan The Bends (1995) — yang mengorbitkan mereka tiba-tiba ditinggal lewat OK Computer (1997). Lalu, setelah itu, sangat kentara mereka hendak mengubur habis-habisan jalur awal itu lewat Kid A (2000), Amnesiac (2001), Hail to the Thief (2003) dan In Rainbows (2007).

Ada lagi, pindah jalur karena ikut-ikutan. Yes, tiba-tiba saja — mungkin setelah merasa tak mampu kembali ke jaman Fragile (1972), Close the Edge (1972), dan Tales from Topographic Oceans (1974) — mereka kemudian nekat dengan 90125 (1983). Di situ ada Owner of A Lonely Heart yang mirip banget band Polisi itu. Tapi Yes tak sendiri. Gentle Giant juga begitu. Lewat The Missing Piece (1977), mereka juga ikutan ngepunk.

Mungkin karena umur panjang, King Crimson dan U2, belakangan — setelah asyik di jalur lain – mencoba kembali ke jalur awal. Sampai-sampai di album ke-2 terahkir Crimson (The ConstruKction of Light, 2000) ada kemas-ulang nomor lama Larks’ Tongues in Aspic-Part IV segala.

Lewat How To Dismantle An Atomic Bomb (2004), utamanya di Vertigo, U2 terkesan hendak kembali ke jaman Boy (1980), October (1981) dan War (1983). Hanya saja, mungkin The Edge tak sepenuhnya bisa kembali ke jaman trilogi awal itu. Pasalnya, tangting-nya di situ tetap saja tang-ting baru, yang baru “ditemukan” sejak The Unforgettable Fire (1984).

Ada juga yang ”lucu-lucuan”. Apapun mobilnya, jalurnya nyaris tak beda dengan jalur mobil yang ia dikendarai sebelumnya. Phil Collins, misalnya. Solo-nya praktis tak beda dengan karyanya di Genesis paska Peter Gabriel. Tak sedikit juga yang kesulitan membedakan warna solo & side project personil Dream Theater dengan warna ketika mereka membawa bendera band progrock papan atas itu.

Tapi begitulah pop. Mau tertib, tak tertib atau lucu-lucuan, terserah. Bagi pop selalu saja ada pasar. Jika satu pasar menolak dan tak memperkenankan artis pindah jalur, selalu saja ada pasar lain yang mau menerimanya. Bisa dikatakan, pasar tak pernah mau pusing. Apalagi sampai menggombalkannya.

Hanya saja, saya tak tahu apakah itu juga berlaku bagi dagangan semacam Agum Gumelar. Mula-mula menteri, lalu tiba-tiba calon Presiden, kemudian ganti lagi ke Ketua KONI, dan terahkir calon Gubenur Jabar. Ada juga Kuntoro Mangkusubroto. Dari menteri, lalu mendown-grade diri – dengan alasan, biasa, ”amanah” – jadi Dirut PLN, lalu Ketua BRR Aceh.

Sjahrir juga mendown-grade diri luar biasa. Semula ia calon Presiden. Setelah kalah, kini ia berkenan jadi pembantunya SBY, sesama bekas calon Presiden yang pernah ditantangnya. Mungkin itu karena kebiasan: nantang itu bermanfaat. Dulu di jaman Soeharto, karena nantang, ia malah disekolahin ke Harvard.

Mungkin ini bukan pop lagi, tapi ”pup”. ”Ma, adik pingin pup…..”.

Next »