Archive for the tag 'ring back tone'

Bah Reggae

Double Album Hilang. Siapa Peduli

Setiap jaman punya gaya. Karenanya agak kementus ketika dibilang rock sudah habis diborong musisi 70-an. Mereka dianggap begitu ampuh. Bisa apa saja. Semua hal mereka coba. Musisi jaman setelahnya tinggal “enaknya”. Cuma ngulang apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

Tak cuma di sono. Di sini pun tak kurang-kurangnya yang menganggap musik jaman sekarang tak berkarakter. Gak mutu. Yang kemarin selalu dianggap lebih asyik.

Biarin aja. Pasalnya, bagi pop, klaim busyet seperti itu langsung jadi kuno. Pop tak butuh klaim. Ia cuma perlu kuping. The rest is up to you. Begitu kalau boleh mengutip All Along The Watchtower-nya Bob Dylan, yang ngetop di tangan Jimmy Hendrix, dan jadi lebih asyik lagi ketika dinyanyikan U2.

Pop kiranya juga tak ambil pusing jika intro, riff, penggalan refrain yang dikemas di ring back tone lebih laris ketimbang lagunya sendiri. Album mungkin dilupakan. Apalagi double album. Kemasan dagangan yang seolah baru kemarin sore dikeploki banyak orang.

Ada White Album (Beatles, 1968 ), Thick as a Brick (Jethro Tull, 1972), Quadrophenia (The Who, 1973), Physical Graffiti (Led Zeppelin, 1975), The River (Bruce Springsteen, 1980) dan entah apalagi. Sekalipun jelas tak dipretensikan Damon Albarn seperti double album jaman sebelumnya, D-Sides (Gorillaz, 2007) bisa juga masuk di situ.

Bah Reggae

Industri Pretelan

Bukan album yang dijual, tapi single. Konsumen jadinya bisa bikin kompilasi menurut versinya sendiri, bukan versi pedagang kompilasi. Lalu belakangan ada yang lebih dahsyat lagi. Bukan album. Bukan single. Tapi potongan single yang dijual. Aneka riff, cuilan intro atau refrain didagangkan. Dan laris banget.

Buktinya, industri “ring back tone” (RBT) itu. Kata Swa (12-25 Juni 2008), dari total rupiah yang didapatkan dari dagangan musik, sumbangan terbanyak berasal dari RBT. Dari dagangan RBT, si artis, katanya, beroleh duit yang berkali lipat lebih besar ketimbang hasil yang ia peroleh dari jualan album.

Halo, sayang. Kenapa diangkat? Gombal kamu. Jangan diangkat dong. Aku lagi ndengerin RBT-mu. Asyik banget tuh. Baru lagi? Lagunya siapa sih? OK, sekarang matiin. Ntar aku telpon lagi. Tapi jangan diangkat! Bener yak? Thanks. Daaaaag…..

Modern? Entahlah. Yang jelas, dulu Pramudya Ananta Toer mendagangkan Bumi Manusia, di Pulau Buru sana, mula-mula juga per cuilan. Cerita “kancil” dan aneka legenda didagangkan secuil-secuil oleh para simbah. Pengamen pun nyanyi sepotong-sepotong. Langka ada pengamen yang menolak bayaran sekalipun ia tak menyelesaikan lagu dagangannya.

Itu tadi kelakuan pedagang. Bagaimana konsumen? Sejak dahulu kala, di mana pun, yang namanya bersenandung, apalagi di kamar mandi, tak pernah full satu lagu. Begitu juga bersiul. Mau dibikin aturan canggih kayak apapun, “rengeng-rengeng” dan “singsot” pasti cuma cuilan.

Inilah dahsyatnya pop. Bukan hanya pedagangnya, tapi konsumennya juga dahsyat. Malah, menyimak kasus singsot itu, terkesan para pedagang justru hanya memanfaatkan ketajaman hidungnya dalam mengendus kebiasaan konsumen penggemar pretelan. Sah-sah aja sih. It’s OK.