Archive for the tag 'riset'

Bah Reggae

Soeharto Menunggu Apa?

Soeharto sampai hari ini masih bertahan. Mengapa? Macam-macam jawabannya. Salah satunya yang paling nggak mutu, dan karenanya nggak usah dipercaya, adalah Soeharto ternyata sedang menunggu hasil penelitian tim UGM dan UI tentang pemberitaan kekayaannya di majalah Time.

Bagi Soeharto, penelitian tim itu atas pemberitaan di Tempo (Majalah & Koran) tentang dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri adalah “pucuk dicinta ulam tiba” laiknya. Pasalnya, ia prihatin sekali soal pelaksanaan putusan MA yang memenangkan gugatan dirinya atas Time yang sampai sekarang terkesan maju mundur.

Karenanya, ia berkesimpulan, harus ada sesuatu yang bisa menguatkan putusan MA itu. Dan itu adalah riset. Penelitinya adalah tim UGM & UI yang sudah terbukti melaksanakan dengan baik apa yang didawuhkan Asian Agri. Mereka inilah cerdik pandai yang berani terjun di wilayah sengketa hukum, mau dibayari oleh salah satu pihak yang bersengketa, dan meneliti materi yang sedang dipersengketakan pula.

Persis Mohamad Sobary (Kompas Minggu, 13/1/2007, hal 12), Soeharto juga menganggap bahwa penilaian terhadap suatu penelitian semata-mata adalah apa yang disebut validitas. Sekiranya prinsip-prinsipnya sudah terpenuhi maka tak ada persoalan lagi yang mesti dipusingkan. Penelitian itu menjadi sah.

Dan di manana pun validitas tak akan berurusan dengan soal pantas tidaknya pihak yang bukan pengacara terjun di wilayah sengketa, dibayari oleh salah satu pihak yang bersengketa dan meneliti materi yang disengketakan. Ini persoalan remeh temeh dan sudah layak sepantasnya jika diabaikan saja.

Hanya saja, kapan penelitian tim UGM & UI yang hasilnya bisa untuk menguatkan keputusan MA itu rampung masih belum jelas benar. Soeharto pun menunggu. Tapi, yang pasti, seminar hasil penelitian itu rencananya akan dilakukan di auditorium RS Pertamina Pusat, Jakarta. Tunggu saja kabar selanjutnya.

Bah Reggae

Pada Ariel Heryanto

Bung, apakah jarak ostrali-indonesa sudah tak selemparan batu lagi, sehingga suara Bung begitu asing ketika Bung ngomong tentang penelitian, apalagi itu menyangkut penelitian pers, sebagaimana yang Bung tulis (Etika Penelitian), di Kompas Minggu (6/1/2007, halaman 12)?.

Satu hal yang harus Bung pahami – dan mestinya jadi pertimbangan utama siapa pun yang meneliti pers negeri ini – adalah bahwa kondisi pers kita tak ideal. Suatu kondisi yang ditandai oleh berbagai pelanggaran yang celakanya justru banyak dilakukan oleh pihak pers sendiri.

Soal teknis seperti tak akurat, minimnya kover dua-pihak dll biasa terjadi. Malah saking biasanya kemudian terkesan itu bukan dianggap persoalan. Selain itu, mungkin karena kebiasaan mentolerir pelanggaran, pers kita jadi demikian jumawa. Sudah menganggap dirinya paling benar, masih ditambah lagi anti kritik pula.

Pendeknya Bung, pers kita menjadi lalim. Sampai-sampai, setiap kali ada pihak yang bersengketa dengan pers, maka secara otomatis (by default & given) pihak itu menjadi pihak yang kalah. Nasibnya begitu. Mengapa? Karena mereka tak punya “senjata”. Hanya pers yang punya. Sementara mereka, karena tak punya senjata, hanya jadi bulan-bulanan pers.

Maka beruntunglah negeri ini, sudah layak dan sepantasnya bersukacitalah ketika tim UGM & UI berkenan melakukan penelitian tentang pemberitaan di Tempo (majalah & koran) soal kasus dugaan penggelapan pajak yg dilakukan Asian Agri.

Hendaknya Bung jangan cuma terpaku pada dana penelitian itu berasal dari Asian Agri yang kebetulan sedang bersengketa dan menggugat Tempo karena pemberitaan itu. Jangan pula Bung hanya melihat etis tidaknya melakukan penelitian dengan topik yang mereka sengketakan dan dibayarin oleh salah satu pihak yang bersengketa.

Jangan Bung, jangan. Pasalnya, ada yang lebih penting ketimbang soal etis. Itu remehtemeh. Dan itu kan hanya cara saja. Terbukti lewat hasil penelitian itu bahwa apriori di atas – pers jahiliyah – benar adanya. Ini penting. Selain untuk Tempo, juga pers umumnya. Publik pun pasti tercerahkan pula.

Dahsyat kan argumen-argumen itu? Hahahaha… Sori, Bung, saya tak bisa menahan tawa atas apa yang saya tulis di atas.

Selain itu, Bung, yang kiranya juga dahsyat, lewat penelitian itu, maka paranoid atas pers negeri ini kini menjadi komplit. Selama ini, hanya gangguan atas kebebasan pers yg ditangisi. Nah, kini, dengan penelitian itu, muncul para penangis baru. Mereka menangis untuk pers yang kebablasan (jahiliyah).

Bah Reggae

Naif, Nekat, Atau Apa

Penelitian bukan melulu soal hasil dan metodologinya. Yang juga tak kalah penting adalah mengapa penelitian dilakukan.

Di seminar di Hotel Sultan beberapa hari lalu, tim UGM & UI telah memaparkan hasil dan metoda penelitian mereka tentang pemberitaan di Tempo (Majalah & Koran) berkenaan dengan kasus dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri.

Yang masih belum jelas, mengapa penelitian itu dilakukan. Bahkan tak sedikit pihak yang bertanya-tanya mengapa tim UGM & UI “mau-maunya” meneliti soal itu.

Pasalnya, semua orang tahu, Asian Agri dan Tempo sedang bersengketa. Asian Agri menganggap cara pemberitaan Tempo tentang kasus dugaan penipuan pajak itu gombal. Akibatnya, Asian Agri dikesankan salah. Padahal proses hukum kasus itu belum lagi selesai. Asian Agri kemudian menggugat Tempo.

Di tengah sengketa itu muncul seminar di Hotel Sultan. Di sini, tim UGM & UI melansir hasil penelitian mereka yang klop dengan klaim Asian Agri. Yakni, cara pemberitaan Tempo memang gombal.

Sebenarnya, hasil penelitian yang klop atau tak klop dengan dengan dugaan awal adalah hal biasa dalam suatu penelitian. Tapi, ketika Hermin Indah Wahyuni (tim UGM) dengan terus terang mengaku penelitian mereka dibayari Asian Agri, persoalannya menjadi lain.

Memang sih, siapa bayar siapa, sebenarnya juga bukan masalah besar di dunia penelitian. Tapi masalahnya, ketika yang membayar itu adalah salah satu obyek yang diteliti, yang kebetulan sedang bersengketa dengan obyek lain yang juga sama-sama diteliti.

Maka wajar jika muncul kesan tim UGM & UI sedang diperalat Asian Agri. Penelitian mereka hanya untuk membenarkan klaim Asian Agri.

Pertanyaannya, apakah kesan diperalat Asian Agri itu luput dari pertimbangan tim UGM & UI ketika mereka menerima “dawuh” anak perusahaan Raja Garuda Mas milik Sukanto Tanoto itu?

Jika jawaban pertanyaan itu adalah ya, itu luput dari pertimbangan mereka, alangkah naifnya mereka. Memprihatinkan memang. Tapi itu tak bisa diapa-apain lagi. Nasi terlanjur menjadi bubur. Apa boleh buat.

Sekalipun begitu, kenaifan itu kiranya masih mending. Pasalnya, ada yang lebih mengerikan lagi. Bagaimana jika tim UGM & UI sudah mempertimbangkan masak-masak-masak kesan diperalat itu. Artinya, mereka sadar dan sudah siap dengan risiko itu. Terkesan diperalat, bukan soal bagi mereka.

Hemat saya, begitulah yang terjadi. Tim UGM & UI rupanya tak peduli dengan risiko “kesan jelek”. Karenanya mereka berkenan mempresentasikan hasil penelitian mereka di seminar publik, nama person dan lembaga disebut dengan jelas. Bahkan Hermin pun dengan gagah mengaku dibayari Asian Agri.

Biasanya, jika takut dengan kesan jelek, peneliti umumnya meminta agar hasilnya untuk kalangan internal saja. Kalaupun dipublis, jarang nama-nama person/lembaga peneliti terang-terangan disebut. Tapi tim UGM & UI ini lain. Mereka tak seperti peneliti umumnya. Mereka tak peduli kesan jelek.

Mengapa mereka bisa begitu? Adakah sesuatu yg menjadi pertimbangan utama mereka sehingga terjadi “kenekatan” seperti itu?

Barangkali itulah sindrom intelektual miskin pengakuan. Boleh saja mereka bergaji besar, karir bagus, atau bahkan perolehan berbagai gelar akademis. Tapi yang namanya intelektual, tetap saja perlu pengakuan publik yang lebih luas. Inilah yang mungkin hendak digapai tim UGM & UI.

Coba periksa siapa yang terlibat di tim UGM & UI itu. Mengapa hanya mereka yang terlibat dan bukan figur-figur lain yang selama ini sudah beroleh pengakuan luas?

Karenanya, penelitian dan seminar hasilnya di Hotel Sultan itu tak bisa dikatakan melulu untuk melayani kepentingan Asian Agri, tapi boleh jadi juga dijadikan ajang tim UGM & UI untuk beroleh pengakuan yang lebih luas.

Apakah kelakuan tim UGM & UI itu nantinya akan diikuti oleh para peneliti nekat lainnya? Walahualam.