Archive for the tag 'rock'

Bah Reggae

Maka Bayi Pun Ngerock

Mungkin inilah dahsyatnya pop. Ia menembus segala sekat – apalagi kalau cuma demografi — dan mempersatukannya sebagai pasar. Teorinya, Gus Dur dan Muhaimin Iskandar yang lagi berantem pun langsung bisa berangkulan sekiranya sama-sama menyukai Kawan, Dendang di Malam Purnama atau nomor lainnya di Rinduku Padamu, album dagangan SBY itu.

Berkat pop, simbah atau calon simbah juga bisa merasa tidak kuno lagi. Mereka bukan kaum yang teronggok di pojok sembari mengkis-mengkis memeluk rock 70an sendirian, seperti yang dikatakan Mas Kunangkunangku itu. Pasalnya, para uzur itu ternyata (bisa) punya teman yang berasal dari generasi baru angkatan cucu, atau bahkan buyut, mereka.

Lewat Guitar Hero dan GTA yang ngetop itu, misalnya, para cucu itu jadi menyukai lagu-lagu mbahnya. Iron Man (Black Sabbath), Smoke on the Water (Deep Purple), Paint It Black (Rolling Stones), School’s Out (Alice Cooper), Black Magic Woman (Santana), Sunshine of Your Love (Cream), The Seeker (The Who) dan banyak lagi nomor rock 70-an

Jadinya, para (calon) simbah tak kesepian lagi. Bersama cucu mereka bisa nyengenges bareng. Jelas, nyengenges pula para pedagang game yang cukup bermodal cover version nomor-nomor tua. Tapi mungkin begitulah cara mencegah, setidaknya memperlambat, kepunahan rock 70an kalau tak ingin hanya mengandalkan konsumen awal.

Lewat Guitar Hero, para simbah juga bisa ngicipi kesukaan cucu yang lain. Misalnya, Even Flow yang dicomot dari Ten, album yang kedahsyatannya tak bisa lagi diulang di album-album Pearl Jam setelahnya. Atau kesukaan para cucu yang relatif gres, seperti Reptilia (The Strokes), When You Were Young (The Killers), No More Sorrow (Linkin Park), dan Knights of Cydonia (Muse).

Tapi bagaimana dengan lagu para cucu yang didapatkan di kelas? Potong Bebek, Pamanku Dari Desa, Burung Gelatik – yang dijiplak (?) Damon Albarn (Gorillaz) jadi Left Hand Suzuki Method – Naik-naik ke Puncak Gunung dll. Jangankan di-game-kan, lagu-lagu itu kiranya jadi nekat jika diputar di Time Zone, Kid Station, Dufan, dan berbagai lantai atau konter khusus pakaian dan mainan anak.

Apa boleh buat, atas lagu-lagu simbahnya simbah itu tampaknya Pak dan Bu Guru harus bekerja sendirian. Mereka inilah yang mengkis-mengkis di pojokan. Maka wajarlah jika kewenangan – atau kesewenangan – kelas-lah yang kemudian berlaku. ”Harus apal. Besok maju satu-persatu. Dinilai. Pelajari di rumah. Suruh bapakmu, mbokmu atau sekalian mbahmu ngajari, yak?”.

bang rhoma

In Progrock We Trust

purwanto kortem

Kurang jelas siapa orang ini. Kalau tak salah dia dulu di Republika bareng E.H. Kertanegara, lantas pindah ke MuMu, tabloid musik bagus yang lahir mendahului zaman. Sekarang patut diduga dia ada di Koran Tempo.

Bedahan musik orang ini oke. Referensi luas. Sayang tabloid MuMu, yang dimodali adiknya B.J. Habibie, itu tamat riwayat. Ini tabloid merakyat, yang lahir setelah reformasi, saat studio musik bertebaran di kampung-kampung. Kualitas cetak sekelas koran kota, tata rupa sangat berani (cocok untuk generasi MTV dan yang melek internet, karena gaya HTML pun masuk), harga murah, contoh ngeset drum seorang musisi pun ada. Begitu pula contoh skematik tata suara untuk pentas yang ribet untuk ukuran saat itu (kalau tak salah GiGi di GKJ).

Sekali lagi, itu semua kalau tak salah. Karena ini orang, lagi-lagi, memang tak jelas. Mungkin maunya seperti lagu yang saya putar pagi ini: The Endless Enigma (Emerson Lake Palmer). Tapi bisa jadi saya salah terka. Mungkin dia penjaga parkir atau centeng di mana gitu. :)

Blog memang bisa macam-macam isinya. Jreng!

dropout

Simaenaria Band

Simaenaria Band, Nias

Sampeyan pernah dengar nama band ini? Saya juga baru dengar namanya sekarang. Saya temukan tanpa sengaja di internet. Ada MP3-nya juga lho.

Next »