Apr 9th, 2008
Maka Bayi Pun Ngerock
Mungkin inilah dahsyatnya pop. Ia menembus segala sekat – apalagi kalau cuma demografi — dan mempersatukannya sebagai pasar. Teorinya, Gus Dur dan Muhaimin Iskandar yang lagi berantem pun langsung bisa berangkulan sekiranya sama-sama menyukai Kawan, Dendang di Malam Purnama atau nomor lainnya di Rinduku Padamu, album dagangan SBY itu.
Berkat pop, simbah atau calon simbah juga bisa merasa tidak kuno lagi. Mereka bukan kaum yang teronggok di pojok sembari mengkis-mengkis memeluk rock 70an sendirian, seperti yang dikatakan Mas Kunangkunangku itu. Pasalnya, para uzur itu ternyata (bisa) punya teman yang berasal dari generasi baru angkatan cucu, atau bahkan buyut, mereka.
Lewat Guitar Hero dan GTA yang ngetop itu, misalnya, para cucu itu jadi menyukai lagu-lagu mbahnya. Iron Man (Black Sabbath), Smoke on the Water (Deep Purple), Paint It Black (Rolling Stones), School’s Out (Alice Cooper), Black Magic Woman (Santana), Sunshine of Your Love (Cream), The Seeker (The Who) dan banyak lagi nomor rock 70-an
Jadinya, para (calon) simbah tak kesepian lagi. Bersama cucu mereka bisa nyengenges bareng. Jelas, nyengenges pula para pedagang game yang cukup bermodal cover version nomor-nomor tua. Tapi mungkin begitulah cara mencegah, setidaknya memperlambat, kepunahan rock 70an kalau tak ingin hanya mengandalkan konsumen awal.
Lewat Guitar Hero, para simbah juga bisa ngicipi kesukaan cucu yang lain. Misalnya, Even Flow yang dicomot dari Ten, album yang kedahsyatannya tak bisa lagi diulang di album-album Pearl Jam setelahnya. Atau kesukaan para cucu yang relatif gres, seperti Reptilia (The Strokes), When You Were Young (The Killers), No More Sorrow (Linkin Park), dan Knights of Cydonia (Muse).
Tapi bagaimana dengan lagu para cucu yang didapatkan di kelas? Potong Bebek, Pamanku Dari Desa, Burung Gelatik – yang dijiplak (?) Damon Albarn (Gorillaz) jadi Left Hand Suzuki Method – Naik-naik ke Puncak Gunung dll. Jangankan di-game-kan, lagu-lagu itu kiranya jadi nekat jika diputar di Time Zone, Kid Station, Dufan, dan berbagai lantai atau konter khusus pakaian dan mainan anak.
Apa boleh buat, atas lagu-lagu simbahnya simbah itu tampaknya Pak dan Bu Guru harus bekerja sendirian. Mereka inilah yang mengkis-mengkis di pojokan. Maka wajarlah jika kewenangan – atau kesewenangan – kelas-lah yang kemudian berlaku. ”Harus apal. Besok maju satu-persatu. Dinilai. Pelajari di rumah. Suruh bapakmu, mbokmu atau sekalian mbahmu ngajari, yak?”.

