Archive for the tag 'sjahrir'

Bah Reggae

Sjahrir

Maaf, ini cuilan postingan lalu:

Sjahrir juga mendown-grade diri luar biasa. Semula ia calon Presiden. Setelah kalah, kini ia berkenan jadi pembantunya SBY, sesama bekas calon Presiden yang pernah ditantangnya. Mungkin itu karena kebiasan: nantang itu bermanfaat. Dulu di jaman Soeharto, karena nantang, ia malah disekolahin ke Harvard.

Sugeng tindak, Mas.

Bah Reggae

Pindah Jalur. Ngeplang Nggak?

Di jalanan, orang bisa saja pindah-pindah jalur. Bahkan tak perlu kasih tanda sebelumnya. Was-wes was-wes. Terkesan seenaknya. Sebentar di situ, tiba-tiba di sana, lalu balik lagi di situ, dst. Melihat ini, belum tentu tak setiap orang tak akan pusing. Ada orang pusing yang diam aja. Ada pula yang lalu mengumpat, ”Gombal!”.

Tapi Koes Plus termasuk band yang tertib. Setiap pindah jalur ia selalu ngeplang. Ada plang pop melayu, keroncong, jawa, natal, qasidah dll. Tertib itu kemudian menular ke Panbers, The Mercy’s dan D’Lloyd. Mungkin inilah ketertiban pop yang hanya terjadi di negeri ini. Di tempat lain jarang ada ngeplang-ngeplangan seperti itu.

Led Zeppelin, misalnya. Band ini pindah jalur begitu saja lewat album Houses of The Holy (1973). Setelah itu, mereka kesana-kemari dan tak mau balik lagi ke jalur awal seperti di 4 album awalnya. Procol Harum ganti jalur di Broken Baricade (1971), dan ogah balik lagi ke jalur awal pra Broken.

Blur juga begitu. Tiba-tiba saja ada album Blur (1977), yang sangat beda dengan jalur (4 album) sebelumnya. Lalu kemudian ada 13 (1999) dan Think Thank (2003) yang hanya menegaskan bandnya Damon Albarn ini tak tertarik lagi ke jalur awal. The past is a goodbye, kata Crosby Stills Nash & Young.

Radiohead lebih kejam lagi. Jalur awal — Pablo Honey (1993) dan The Bends (1995) — yang mengorbitkan mereka tiba-tiba ditinggal lewat OK Computer (1997). Lalu, setelah itu, sangat kentara mereka hendak mengubur habis-habisan jalur awal itu lewat Kid A (2000), Amnesiac (2001), Hail to the Thief (2003) dan In Rainbows (2007).

Ada lagi, pindah jalur karena ikut-ikutan. Yes, tiba-tiba saja — mungkin setelah merasa tak mampu kembali ke jaman Fragile (1972), Close the Edge (1972), dan Tales from Topographic Oceans (1974) — mereka kemudian nekat dengan 90125 (1983). Di situ ada Owner of A Lonely Heart yang mirip banget band Polisi itu. Tapi Yes tak sendiri. Gentle Giant juga begitu. Lewat The Missing Piece (1977), mereka juga ikutan ngepunk.

Mungkin karena umur panjang, King Crimson dan U2, belakangan — setelah asyik di jalur lain – mencoba kembali ke jalur awal. Sampai-sampai di album ke-2 terahkir Crimson (The ConstruKction of Light, 2000) ada kemas-ulang nomor lama Larks’ Tongues in Aspic-Part IV segala.

Lewat How To Dismantle An Atomic Bomb (2004), utamanya di Vertigo, U2 terkesan hendak kembali ke jaman Boy (1980), October (1981) dan War (1983). Hanya saja, mungkin The Edge tak sepenuhnya bisa kembali ke jaman trilogi awal itu. Pasalnya, tangting-nya di situ tetap saja tang-ting baru, yang baru “ditemukan” sejak The Unforgettable Fire (1984).

Ada juga yang ”lucu-lucuan”. Apapun mobilnya, jalurnya nyaris tak beda dengan jalur mobil yang ia dikendarai sebelumnya. Phil Collins, misalnya. Solo-nya praktis tak beda dengan karyanya di Genesis paska Peter Gabriel. Tak sedikit juga yang kesulitan membedakan warna solo & side project personil Dream Theater dengan warna ketika mereka membawa bendera band progrock papan atas itu.

Tapi begitulah pop. Mau tertib, tak tertib atau lucu-lucuan, terserah. Bagi pop selalu saja ada pasar. Jika satu pasar menolak dan tak memperkenankan artis pindah jalur, selalu saja ada pasar lain yang mau menerimanya. Bisa dikatakan, pasar tak pernah mau pusing. Apalagi sampai menggombalkannya.

Hanya saja, saya tak tahu apakah itu juga berlaku bagi dagangan semacam Agum Gumelar. Mula-mula menteri, lalu tiba-tiba calon Presiden, kemudian ganti lagi ke Ketua KONI, dan terahkir calon Gubenur Jabar. Ada juga Kuntoro Mangkusubroto. Dari menteri, lalu mendown-grade diri – dengan alasan, biasa, ”amanah” – jadi Dirut PLN, lalu Ketua BRR Aceh.

Sjahrir juga mendown-grade diri luar biasa. Semula ia calon Presiden. Setelah kalah, kini ia berkenan jadi pembantunya SBY, sesama bekas calon Presiden yang pernah ditantangnya. Mungkin itu karena kebiasan: nantang itu bermanfaat. Dulu di jaman Soeharto, karena nantang, ia malah disekolahin ke Harvard.

Mungkin ini bukan pop lagi, tapi ”pup”. ”Ma, adik pingin pup…..”.