Nov 24th, 2008
Che Bakrie, Bob Bakrie atau John Bakrie?
Setiap jaman punya bintang. Tapi “icon” lebih dari sekadar bintang. Ia melewati jaman. Maka ada Che Guevara, Bob Marley dan John Lennon, misalnya. Dan anehnya, di pasar pop, memang hanya mereka-mereka itulah yang paling sering muncul. Coba, mana ada stiker atau poster Adam Smith atau John Maynard Keynes.
Agus Suwage di Nadi Gallery beberapa saat lalu, dalam pamerannya yang berjudul “I/Con”, juga hanya memunculkan Thom Yorke, Peter Gabriel, Tracy Chapman atau Jaco Pastorius.
Barangkali karena “pasar yang kejam” itulah maka PKS yang menjadikan Soeharto pahlawan dikecam banyak pihak. Iklan kampanyenya yang memuat gambar Soekarno juga bikin (sebagian) pasar PDIP gusar. Pasar, memang, ya itu tadi, kejam. Apalagi menjelang pemilu begini. Rebutan ikon – juga koin (?) — jadinya kenceng.
Tapi, selain pasar yang kejam, tak setiap orang mau jadi ikon. Bob Dylan, misalnya. Ia menolak jadi ikon kaum hippies. Malah tak cuma menolak, ia juga meledek habis mereka yang hendak mengikonkannya di Stuck Inside of Mobile With The Memphis Blues Again (Blonde on Blonde, 1966). Dylan menyebutnya sebagai para gembel yang tak tahu apa-apa. Entah itu karena Dylan lagi sok “anti-hero” atau apa, yang jelas katanya,
Oh, the ragman draws circles/ Up and down the block/I’d ask him what the matter was/But I know that he don’t talk/And the ladies treat me kindly/And furnish me with tape/But deep inside my heart. I know I can’t escape/Oh, Mama, can this really be the end/To be stuck inside of Mobile/With the Memphis blues Again.
Dan mungkin, sampai batas tertentu, hari-hari ini, Aburizal Bakrie juga sedang menolak jadi ikon. Karena itu ia memperkarakan majalah Tempo yang terkesan hendak menjadinya ikon negeri ini akibat krisis global, lewat PT Bumi Resources Tbk. Padahal, di Koran Tempo, bisa dibilang Bakrie sukses jadi ikon lumpur Lapindo.