Archive for the tag 'soeharto'

Bah Reggae

Che Bakrie, Bob Bakrie atau John Bakrie?

Setiap jaman punya bintang. Tapi “icon” lebih dari sekadar bintang. Ia melewati jaman. Maka ada Che Guevara, Bob Marley dan John Lennon, misalnya. Dan anehnya, di pasar pop, memang hanya mereka-mereka itulah yang paling sering muncul. Coba, mana ada stiker atau poster Adam Smith atau John Maynard Keynes.

Agus Suwage di Nadi Gallery beberapa saat lalu, dalam pamerannya yang berjudul “I/Con”, juga hanya memunculkan Thom Yorke, Peter Gabriel, Tracy Chapman atau Jaco Pastorius.

Barangkali karena “pasar yang kejam” itulah maka PKS yang menjadikan Soeharto pahlawan dikecam banyak pihak. Iklan kampanyenya yang memuat gambar Soekarno juga bikin (sebagian) pasar PDIP gusar. Pasar, memang, ya itu tadi, kejam. Apalagi menjelang pemilu begini. Rebutan ikon – juga koin (?) — jadinya kenceng.

Tapi, selain pasar yang kejam, tak setiap orang mau jadi ikon. Bob Dylan, misalnya. Ia menolak jadi ikon kaum hippies. Malah tak cuma menolak, ia juga meledek habis mereka yang hendak mengikonkannya di Stuck Inside of Mobile With The Memphis Blues Again (Blonde on Blonde, 1966). Dylan menyebutnya sebagai para gembel yang tak tahu apa-apa. Entah itu karena Dylan lagi sok “anti-hero” atau apa, yang jelas katanya,

Oh, the ragman draws circles/ Up and down the block/I’d ask him what the matter was/But I know that he don’t talk/And the ladies treat me kindly/And furnish me with tape/But deep inside my heart. I know I can’t escape/Oh, Mama, can this really be the end/To be stuck inside of Mobile/With the Memphis blues Again.

Dan mungkin, sampai batas tertentu, hari-hari ini, Aburizal Bakrie juga sedang menolak jadi ikon. Karena itu ia memperkarakan majalah Tempo yang terkesan hendak menjadinya ikon negeri ini akibat krisis global, lewat PT Bumi Resources Tbk. Padahal, di Koran Tempo, bisa dibilang Bakrie sukses jadi ikon lumpur Lapindo.

Bah Reggae

Buku Gombal Habibie

Orang-orang ”kaget” ketika Riri Reza memfilmkannya. Mengapa Soe Hok Gie yang diangkat? Kok bukan demonstran lain yang jelas-jelas memiliki sumbangan besar menjelang kejatuhan Soekarno? Hok Gie kan praktis tak pernah ikut demo-demo besar? Begitu kata mereka, orang-orang dekat atau yang mengenal Hok Gie.

Lanjutnya, kalau saja demonstran lain itu punya catatan harian – yang diyakini lebih dahsyat dari punya Hok Gie – mereka yakin, Riri boleh jadi tak akan memfilmkan adik kandung Arief Budiman itu.

Tapi, tampaknya, justru di situlah letak soalnya. Memang banyak orang lain yang memiliki sumbangan besar. Cuma, masalahnya, mereka tak punya cacatan harian yang didagangkan. Kalau pun punya, itu tak ”meledak”. Jadinya, Hok Gie-lah yang ada di pasar. Bukan yang lain. Maka, jreng, jadilah film Gie itu. Dan ”meledak” pula.

Tapi begitulah hidup. Biasa. Orang suka ramai-ramai merendahkan seseorang. Habibie, dalam Detik-detik yang Menentukan (THC Mandiri, 2006), juga menganggap dirinya dibegitukan. Tapi yang lebih serem, Habibie malah menganggap dirinya memang rendah serendah-rendahnya. Tak tahu apa-apa.

Utamanya, soal hubungannya dengan Soeharto. Di bukunya itu, berulang kali ia bilang tak tahu mengapa Soeharto begitu marah padanya. Sampai-sampai, ketika serah terima kekuasaan di istana itu – yang lebih singkat dan lancar ketimbang jual-beli ayam — Soeharto tak menyapanya sama sekali. Permohonannya untuk sowan pun ditolak.

Mengapa orang yang dianggap sebagai gurunya itu bisa memperlakukannya seperti itu, tanyanya berkali-kali. Begitulah Habibie. Rupanya, ia bukan saja jago ngomong, tapi juga jago tak mengomongkan sesuatu yang (mungkin saja) ia ketahui dan ia lakukan sehingga Sang Guru bisa menjadi semarah itu.

Dalam buku itu, Habibie tak ngomong sama sekali, misalnya, apa yang ia lakukan sebelum dan setelah Ginandjar Kartasasmita dkk ramai-ramai mengundurkan diri. Habibie menganggap dirinya sebagai orang yang bebas dari kasak-kusuk dan move-move yang akhirnya memaksa Soeharto menyatakan berhenti.

Ia jadinya sebersih boneka. Dirinya hanyalah orang yang tiba-tiba saja beroleh ”durian runtuh” karena Soeharto tiba-tiba mundur. Jika ia benar seperti itu, tak tahu apa-apa, dan tak ngapa-ngapain, tentunya menjadi mengherankan ia bisa tak mati berdiri, setidaknya terkencing-kencing, menerima sesuatu yang tak disangka-sangka itu.

Lebih aneh lagi, kalau benar Habibie – yang sambil menganggap Soeharto adalah gurunya juga menyatakan Soeharto juga belajar banyak darinya (hal. 293) — tak tahu apa-apa dan tak ngapa-ngapain, lalu ngapain Wiranto mesti repot-repot datang padanya dan buka-buka kantong memamerkan ”Super Semar” untuknya yang diteken Soeharto?

Soeharto tak lagi bisa ditanyain mengapa ia marah pada muridnya itu. Jangankan itu, wong aneka persoalan yang lebih serem pun sekarang ini jadinya ”cuntel” kok. Maka Habibie-lah yang harusnya berhenti pura-pura tak tahu. Apalagi, ia mengaku masih punya banyak hal yang belum diungkap dalam buku gombal ini.

Bah Reggae

Tommy

Kutitipkan bangsa ini padamu. Ini kata-kata si Bung. Konon, di saat-saat terakhir di RSPP itu, bapaknya, sambil menunjuk dirinya, juga sempat menyitir omongan si Bung itu sebagai pesan terahir pada sejumlah orang. Hanya saja , bapaknya mengimbuhkan huruf “t” di belakang kata “bangsa” itu.

Mungkin pesan bapaknya itu suatu bentuk pengakuan bahwa ia memang anak istimewa. Kakinya saja dahsyat. Gara-gara kakinya tersiram air panas, PKI diburu dan sang bapak bisa jadi orang nomor satu di negeri ini selama puluhan tahun. Coba, dulu, di penghujung September 1965 itu, sang bapak tak ambil peduli pada kaki itu, dan segera menindak-lanjuti saja laporan Kolonel Latief.

Maka ketika belakangan ini ia menolak sebagai ahli waris perkara bapaknya, kiranya itu hanya contoh kecil lain betapa benarnya omongan bapaknya itu. Ia memang “bangsa” dengan imbuhan “t”. Dan karena itu ia menjadi sangat istimewa.

Ia mungkin seperti Tommy, album The Who (1969) itu. Anak abnormal yang menolak dijadikan seperti orang normal umumnya. Justru karena abnormal itulah, ia menganggap orang lain-lah yang semestinya memahami dirinya, bukan sebaliknya. “See me, feel me, touch me, heal me”, begitu katanya berulang kali.

Di Pinball Wizard yang asyik itu, Tommy bilang, “Ever since I was a young boy/I’ve played the silver ball… I must have play them all/But I ain’t seen anything like him”. Di I’m Free ia juga bilang, “I’m free/And freedom taste of reality”. Malah, katanya di Welcome, “Come to my house/Be one of the comfortable people…/We’re drinking all night/Never sleeping”.

Semula Tommy adalah sesuatu yang ditertawakan banyak orang. Tapi kemudian ia dianggap istimewa. Ia tak hanya menjadikan The Who berubah berorientasi ke album – dari sebelumnya yang hanya berkiprah lewat single – tapi juga sebagai inspirator berbagai rock opera. Ada Quadrophenia (The Who, 1973 ).

Ada pula Jesus Christ Super Star/JCSS (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice, 1973). Niki Kosasih – jauh sebelum Saur Sepuh meledak dan beda keyakinan tak sesensitif sekarang – pernah mengadaptasi JCSS untuk acara kebaktian Paskah di gereja di pinggiran Yogya. Harry Rusli juga menelorkan Ken Arok (1975), sebelum rock-gamelan Titik Api (1977).

Next »