Archive for the tag 'sri mulyani'

Bah Reggae

Akrobat SBY di G-20

Dikabarkan G-20 tak akan menghasilkan kesepakatan bulat gimana menjinakkan krisis global. Gara-garanya, AS dan UE berbeda pendapat. UE menyalahkan AS sebagai penyebab krisis. UE juga ingin ada sistem baru. AS ngaku pemerintahnya salah sehingga ada krisis. Tapi AS (Bush) tak ingin ada sistem baru.

Gimana kita? Bisa dibilang, sikap negeri ini lebih dekat ke UE. Tapi, selain itu, ada kabar – utamanya dari media lokal — usulan RI beroleh keplok di G-20. Menurut Indonesia, krisis global bikin susah banyak negara berkembang. Padahal mereka tak salah. Sudah hati-hati mengelola perekonomian, tapi toh tetap kena imbas juga.

Karenanya Indonesia usul, gimana G-20 membantu “negara tak bersalah” itu. Lalu, apakah hanya gara-gara mengusung usulan “mulia” itu saja Sri Mulyani dan SBY datang ke G-20? Untunglah, mereka tak senaif itu. Pasalnya, menurut mereka, “negara tak bersalah” itu (salah satunya) adalah Indonesia.

****

RAPBN 2009 kelar medio Agustus lalu. Berapa pemasukan, pengeluaran, dan berapa defisit rapi disusun. Defisit dibiayai utamanya dengan jualan obligasi. Sisanya, ditutup utang luar negeri (LN). Dasar penusunan APBN itu adalah sekian asumsi. PDB sekian, inflasi, sukubunga, harga minyak sekian dll. Rapi jali.

Itu yang dimintakan persetujuan DPR. DPR dan pemerintah kemudian terlibat mengatik-utik angka-angkanya. Lagi asyik-asyik kutak-kutik, gak taunya ada krisis. Gimana ini? Padahal, RAPBN itu harus segera jadi UU. Kalau nggak, UU APBN 2008 yang akan dipakai. Gawat?

Nggak juga. Tenang. Maka, seperti yang kita tahu, disahkanlah UU APBN 2009 (plus asumsi) dengan angka-angka yang sangat optimistik. PDB, misalnya, tetap tinggi (6%). Kurs Rp 9.400/dolar, sububunga 7,5%, dan inflasi 6,2%. Enjoy aja. Defisit juga tetap aja sebagian besar akan dibiayai dengan obligasi. Pendeknya, business as usual.

****

Orang bilang krisis akan lama. Lalu, gimana mungkin SBY dkk berani mematok PDB, kurs Rp dan inflasi seoptimistik gitu? Juga soal penutupan defisit. Apakah obligasi kita akan laku? Pasalnya, untuk nutup krisis, AS juga jualan obligasi. Apakah kita bisa ngalahin daya tarik AS? Kalau bisa, berapa bunga yang harus kita patok. Apa nanti kita kuat mbayarnya?

Hus! Mari kita putar aja Numb (Zooropa, 1993). Di situ U2 mengajari segala macam don’t. Don’t think, don’t move, don’t ask, don’t worry, don’t crawl, don’t move, don’t eat, don’t spill …

Lalu, setelah ngantuk bersama grenengan The Edge itu, mari kita lihat akrobat ini. Di UU APBN 2009 ada klausul “stand by loan”. Ini utang LN baru. Dadakan. Besarnya sekitar US$ 2 milyar. Ini bukan utang LN yang sebelumnya sudah dianggarkan untuk menutup sebagian defisit. Karena dadakan, maka jelas belum ketahuan darimana utang itu bisa didapatkan.

****

Yang pasti, stand by loan itu baru akan dipakai jika, antara lain, “terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi makro lainnya yang menyebabkan turunnya penerimaan negara dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan…”

Artinya, sekian ke-optimistik-an itu bisa dikatakan semu belaka. PDB 2009 dipatok 6,0%, gak pa-pa. Kurs Rp 9.400/dolar dan inflasi 6,2% juga tak soal. Toh kalau meleset masih ada stand by loan. Akrobat tampaknya memang perlu. Apalagi di tahun pemilu.

Maka demi beroleh stand by loan itulah SBY dan Sri Mulyani harus datang ke G-20.

Boediono? Seharusnya ia juga datang. Tapi mungkin ia lagi sibuk meyakinkan pasar bahwa cadangan devisa di BI masih OK buat nglayani pemburu dolar. Menurut detik.com (mengutip situs BI), per Oktober 2008 cadangan devisa “tinggal” US$ 50,580 miliar. Padahal September masih US$ 57,108 milyar. Berarti dalam sebulan turun US$ 6,528 miliar gara-gara setan dolar.

Selain itu, sangat boleh jadi, kesibukan Boediono belakangan makin tambah lagi karena tugas GubBI ternyata bertambah satu. Dan lumayan serem. Yakni, menangkap penyebar rumor rush di Bank Century dan bank-bank lain yang nyata-nyata (bukan rumor) sedang dilanda kesulitan likuiditas.

Bah Reggae

Can’t Buy Me Love

Semestinya ia jadi penyanyi saja. Ini bukan soal SBY, tapi menterinya yang tampaknya telah berjasa besar padanya. Aburizal Bakrie.

Dulu, di jaman reshuffle kabinet, ketika tahu dirinya tak didepak SBY, secara demonstratif ia lalu singsot-singsot di depan para wartawan. Apalagi, yang justru terdepak waktu itu adalah “musuh besar”-nya, Yusuf Anwar (Menkeu). Sementara dirinya “hanya” digeser dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra.

Tak diketahui secara pasti, apakah ia juga singsot lagi ketika tahu SBY merubah Inpres-nya tentang Lapindo sehingga penanggulangan Lumpur anak perusahaan Bakrie itu akhirnya bisa ditanggung APBN. Barangkali singsot itu hanya dilakukan di depan Sri Mulyani (Menkeu) dan luput dari amatan wartawan.

Kini, jika pemerintah jadi membeli Bumi (PT Bumi Resources Tbk) perusahaan batubara miliknya, Bakrie tak hanya singsot, tapi mungkin nyanyi. Can’t Buy Me Love, salah satu lagu asyik The Beatles itu. Kebetulan “buy me” jika boleh sedikit diplesetkan bisa jadi “bumi”.

Kebetulan lagi, Sofyan Djalil (Meneg BUMN) pun OK jika ada BUMN atau konsumsium BUMN berkenan membeli Bumi. “Yang penting bagi saya, Bumi itu aset bagus, kita butuh batubara. Daripada dibeli asing, mendingan kita yang beli, selama harganya bagus, term-nya baik. Pokoknya b to b dengan harga yang bagus,” katanya di detik.com.

Lebih kebetulan lagi, bukan hanya karena Yusuf Kalla juga mendukung niat pemerintah menolong perusahaan Bakrie yang tengah rugi besar gara-gara krisis global sekarang ini, tapi sambil lalu Sofyan pun secara tak langsung “menyikat” Sri Mulyani.

Memang Sri setuju buy-back saham BUMN. Dananya diambil dari APBN. Yang mengelola PIP, lembaga di bawah Depkeu. Hanya saja, PIP tak hanya asal beli. Kelayakan pembelian harus terlebih dulu lewat penilaian lembaga penilai independen. Jika dinilai OK, beli. Jika KO, batal.

Kengototan Sri ini jelas gawat. Lalu Sofyan pun berkelit. Dana beli Bumi bukan dari APBN, tapi diambil dari dana yang ada di BUMN atau konsorsium itu sendiri. Jadi tak ada urusannya dengan PIP. “PIP itu untuk buy back BUMN. Atau kalau nggak digunakan akan digunakan untuk tujuan investasi lain. Kita nggak tahu.. .”.

Mungkin Sofyan lupa ini. Jika pemakaian dana di BUMN itu lalu mengurangi deviden yang harus disetor BUMN ke APBN, ya sama saja pembelian itu memakai dana APBN.

Bagaimana akhir ceritanya dari semuanya ini, sejauh ini masih belum jelas benar. Tapi yang pasti, selain dukungan Kalla, Bakrie kini beroleh teman baru ketika berhadapan dengan Sri.

I’ll buy you a diamond ring my friend if it makes you feel alright. I’ll get you anything my friend if it makes you feel alright. I’ll give you all I got to give if you say you love me too. I may not have a lot to give but what I got I’ll give to you. I don’t care too much for money, money can’t buy me love.

Bah Reggae

Abdel & Temon

Satu ke sana, satunya lagi ke sini. Beatles bilang, “You say stop, I say go. You say goodbye, I say hello”. Mungkin begitulah SBY. Dua kakinya mesti dibagi. Ke sana dan ke sini. Cuma, apa boleh buat, tak bisa imbang. Sementara ini terkesan, ia lebih berat ke Boediono & Sri Mulyani ketimbang ke pedagang.

Boediono dan Sri. Mereka inilah sejoli di kabinet. Mirip Abdel dan Temon, tayangan lucu di salah satu TV swasta itu. Dominan. Dan pasti ger. Tapi ketika sutradaranya coba-coba memasukkan Udin dan Belo, maka dagelan jadi tak lucu lagi. Apalagi Udin. Dagelan kok mengandalkan kemudahan. Slap-stick melulu.

Di tengah krisis global sekarang ini, seperti Abdel dan Temon, sejoli kabinet itu juga harus “bersaing” dengan sejoli lain. Bukan Udin bukan Belo. Bukan pula Aburizal Bakrie dan Yusuf Kalla. Tapi, 2 sejoli yang selalu jadi hantu bagi negeri ini. Hantu itu adalah kurs Rp dan inflasi. Rp jeblok, sementara inflasi tinggi.

Lalu, banyak orang bilang, “Buka sejarah. Hantu itu datang dan datang lagi karena Rp tak dipatok dan devisa pun bebas”. Hari-hari ini sudah mulai banyak pihak yang meneriakkan sejarah itu. Tapi, mosok to, jadi mirip Sultan? Andalannya sejarah. Yogya lagi.

Entah sudah berapa kali para pedagang minta agar sukubunga bank turun. Jika itu terjadi akan membantu sektor riil. Likuiditas (untuk kredit) gak seret lagi. Apalagi, di mana-mana, di tengah krisis begini, umumnya sukubunga turun. Di sini malah dipatok tinggi-tinggi. Gimana nih? Anomali? Dst, dst.

Mungkin sejoli itu lalntas saling kedip. Setengah berbisik Boediono bilang, apa perlunya bunga turun? Kalau alasannya untuk memperlancar kredit, bukannya saat ini posisinya sudah keterlaluan lancarnya? Kalau bunga turun, dan kredit makin lancar, tapi inflasi jadi tambah tinggi, bagaimana?

Benar ada sekian trilyun dana APBN (anggaran departemen) yang bisa ditempatkan di bank untuk nambah likuiditas. Tapi mosok lalu semua di sok di situ. Depkeu yang seleksi, departemen mana yang benar-benar siap. Kalau belum siap, gak usah. Tanpa seleksi dan digelontorkan begitu saja, atas nama likuiditas, jadinya ya inflasi tinggi. “Begitu kan, Sri? Yang ditanya pun mantuk.

Sri mantuk lagi ketika sejolinya itu meneruskan bicaranya. Daripada malah mengerek inflasi, lebih baik dana APBN itu dipakai buat mereka yang berburu dolar. Berapa mereka minta, kita penuhi. Ini gak bikin inflasi sekalian juga buat ngerem kejatuhan Rp. Pemakaian devisa juga bisa dibatasi untuk memenuhi permintaan para setan dolar itu.

Lho, mosok cuma ngurusi setan?

Kini giliran Sri yang ngomong. Emangnya sekarang ini urusan apa kalau bukan urusan setan? Semua indikator kita bagus lho. Tapi, tak ada jaminan, akan bagus terus kalau setan itu tak diurus semestinya. Atau, gini aja dah. Pilih mana. Kami yang ngurus, atau serahkan saja ke Udin dan Belo?

Dan mungkin, SBY segera lari ke TV. Ia tak mau ketinggalan nonton Abdel & Temon yang muncul hampir setiap hari. Lalu nyanyilah mereka. Ku bukan superstar kaya dan terkenal. Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal… Kamu bukan super kamu bukan star. Kalau digabungin kamu bukan superstar….. Lho, kenapa? Mike-nya ketelen!

Next »