Nov 15th, 2008
Akrobat SBY di G-20
Dikabarkan G-20 tak akan menghasilkan kesepakatan bulat gimana menjinakkan krisis global. Gara-garanya, AS dan UE berbeda pendapat. UE menyalahkan AS sebagai penyebab krisis. UE juga ingin ada sistem baru. AS ngaku pemerintahnya salah sehingga ada krisis. Tapi AS (Bush) tak ingin ada sistem baru.
Gimana kita? Bisa dibilang, sikap negeri ini lebih dekat ke UE. Tapi, selain itu, ada kabar – utamanya dari media lokal — usulan RI beroleh keplok di G-20. Menurut Indonesia, krisis global bikin susah banyak negara berkembang. Padahal mereka tak salah. Sudah hati-hati mengelola perekonomian, tapi toh tetap kena imbas juga.
Karenanya Indonesia usul, gimana G-20 membantu “negara tak bersalah” itu. Lalu, apakah hanya gara-gara mengusung usulan “mulia” itu saja Sri Mulyani dan SBY datang ke G-20? Untunglah, mereka tak senaif itu. Pasalnya, menurut mereka, “negara tak bersalah” itu (salah satunya) adalah Indonesia.
****
RAPBN 2009 kelar medio Agustus lalu. Berapa pemasukan, pengeluaran, dan berapa defisit rapi disusun. Defisit dibiayai utamanya dengan jualan obligasi. Sisanya, ditutup utang luar negeri (LN). Dasar penusunan APBN itu adalah sekian asumsi. PDB sekian, inflasi, sukubunga, harga minyak sekian dll. Rapi jali.
Itu yang dimintakan persetujuan DPR. DPR dan pemerintah kemudian terlibat mengatik-utik angka-angkanya. Lagi asyik-asyik kutak-kutik, gak taunya ada krisis. Gimana ini? Padahal, RAPBN itu harus segera jadi UU. Kalau nggak, UU APBN 2008 yang akan dipakai. Gawat?
Nggak juga. Tenang. Maka, seperti yang kita tahu, disahkanlah UU APBN 2009 (plus asumsi) dengan angka-angka yang sangat optimistik. PDB, misalnya, tetap tinggi (6%). Kurs Rp 9.400/dolar, sububunga 7,5%, dan inflasi 6,2%. Enjoy aja. Defisit juga tetap aja sebagian besar akan dibiayai dengan obligasi. Pendeknya, business as usual.
****
Orang bilang krisis akan lama. Lalu, gimana mungkin SBY dkk berani mematok PDB, kurs Rp dan inflasi seoptimistik gitu? Juga soal penutupan defisit. Apakah obligasi kita akan laku? Pasalnya, untuk nutup krisis, AS juga jualan obligasi. Apakah kita bisa ngalahin daya tarik AS? Kalau bisa, berapa bunga yang harus kita patok. Apa nanti kita kuat mbayarnya?
Hus! Mari kita putar aja Numb (Zooropa, 1993). Di situ U2 mengajari segala macam don’t. Don’t think, don’t move, don’t ask, don’t worry, don’t crawl, don’t move, don’t eat, don’t spill …
Lalu, setelah ngantuk bersama grenengan The Edge itu, mari kita lihat akrobat ini. Di UU APBN 2009 ada klausul “stand by loan”. Ini utang LN baru. Dadakan. Besarnya sekitar US$ 2 milyar. Ini bukan utang LN yang sebelumnya sudah dianggarkan untuk menutup sebagian defisit. Karena dadakan, maka jelas belum ketahuan darimana utang itu bisa didapatkan.
****
Yang pasti, stand by loan itu baru akan dipakai jika, antara lain, “terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi makro lainnya yang menyebabkan turunnya penerimaan negara dan/atau meningkatnya belanja negara secara signifikan…”
Artinya, sekian ke-optimistik-an itu bisa dikatakan semu belaka. PDB 2009 dipatok 6,0%, gak pa-pa. Kurs Rp 9.400/dolar dan inflasi 6,2% juga tak soal. Toh kalau meleset masih ada stand by loan. Akrobat tampaknya memang perlu. Apalagi di tahun pemilu.
Maka demi beroleh stand by loan itulah SBY dan Sri Mulyani harus datang ke G-20.
Boediono? Seharusnya ia juga datang. Tapi mungkin ia lagi sibuk meyakinkan pasar bahwa cadangan devisa di BI masih OK buat nglayani pemburu dolar. Menurut detik.com (mengutip situs BI), per Oktober 2008 cadangan devisa “tinggal” US$ 50,580 miliar. Padahal September masih US$ 57,108 milyar. Berarti dalam sebulan turun US$ 6,528 miliar gara-gara setan dolar.
Selain itu, sangat boleh jadi, kesibukan Boediono belakangan makin tambah lagi karena tugas GubBI ternyata bertambah satu. Dan lumayan serem. Yakni, menangkap penyebar rumor rush di Bank Century dan bank-bank lain yang nyata-nyata (bukan rumor) sedang dilanda kesulitan likuiditas.