Archive for the tag 'subsidi'

Di tengah krisis global begini adalah tepat jika kita rajin bersyukur. Bukan hanya karena banyak orang tak bosan-bosannya bilang indikator ekonomi dan bank kita bagus. Atau, soal antisipasi pemerintah yang terkesan rapi dan serius. Tapi, mungkin, pertama-tama, kita harus bersyukur karena ekonomi negeri ini tak dipasrahkan ke anak-anak di Tempo.

Coba Anda periksa apa yang mereka tulis di “opini redaksi”-nya itu (Tempo, 3-9 November 2008, hal. 24). Di tengah aneka desakan yang meminta SBY dkk menurunkan harga BBM (bersubsidi), Tempo malah mengusulkan agar subsidi BBM sekalian saja dicabut.

Bagi Tempo, adalah tak bijaksana jika harga BBM bersubsidi – gara-gara harga minyak dunia merosot – lalu diturunkan. Tak bijaksana pula, jika nantinya harga BBM itu dinaikkan lagi ketika harganya di pasar dunia merangkak naik. Yang bijaksana, menurut mereka, ya itu tadi, subsidi BBM dihapus saja.

Lalu, sore kemarin, masuk SMS seorang teman yang mengomentari “opini redaksi” Tempo itu. “Sebagai hamba setia neo-lib sudah sepantasnya begitu,” begitu bunyi SMS itu. Dan teman ini adalah awak Tempo yang mengaku bukan siapa-siapa. Apalagi neo-lib.

Macam-macam kepala, aneka pula suaranya, itu biasa. Biasa pula, jika lalu ada yang dominan, sementara yang lain tak dapat tempat. Jadinya, SMS teman itu kiranya cuma hendak mengabarkan, bahwa hal-hal yang biasa itu – dan terjadi di mana pun – sedang terjadi di Tempo. Dan mungkin dengan cara yang biasa sekali.

Bah Reggae

Presiden Pontius Pilatus

Inilah bedanya resto itu dengan SBY. SBY dkk hanya bisa menaikkan harga. Ia tak bisa menurunkan lagi sekalipun harga BBM di pasar dunia menurun terus. Alasannya bukan “opportunity loss” lagi. Kali ini, seperti dibilang Sri Mulyani (Kompas, 25 Oktober, hal.1), kondisi ekonomi global yang tak menentu karena lagi krisis.

Memang, karena krisis maka permintaan minyak turun. Ini yang membuat harga minyak jatuh. Tapi diyakini, harga minyak akan naik lagi jika situasinya membaik. Pemerintah, menurut Sri, juga tak bisa bikin harga BBM bersubsidi berubah-ubah. Ini akan mengacaukan itung-itungan APBN. Dan itu hanya akan menambah ketak-pastian.

Selain itu, kalau alasan agar BBM bersubsidi turun supaya industri bisa bernapas, menurut Sri, adalah keliru. Pasalnya, BBM industri selama ini bukan BBM bersubsidi. BBM mereka berharga pasar. Gimana jika alasannya agar daya beli masyarakat meningkat? Moga-moga Sri tak menjawab dengan, “Kan sudah ada BLT dan sekian operasi pasar?”.

Yang jelas, itung-itungan Kurtubi (Kompas, 25 Oktober, hal.1) misalnya, bahwa ada sekian trilyun “dana lebih” di APBN gara-gara harga minyak dunia turun (jauh lebih rendah ketimbang asumsi SBY dkk), diprek-kan. Tak diambil peduli. Jadinya, mirip Pontius Pilatus. Apa yang sudah tertulis tak bisa diubah. Sekali naik, tak bisa turun lagi.

Es Eny tak se-ndesit itu. Konon pusatnya Magelang. Di Yogya, kalau tak salah ada 2 cabang. Satunya di Sagan, daerah pemukiman di Yogya yang belakangan penuh toko. Dagangan Eny macam-macam. Relatif bersih, terjangkau dan prasmanan. Sayangnya, jika matahari lagi terik, seluruh ruangan terpanggang. Konsumen kringeten bukan karena sambal, tapi sumuk, muk.

Seminggu sebelum dan setelah Lebaran kemarin, di meja kasir ada tulisan “Harga Khusus Lebaran”. Lebih murah? Bukan. Lebih mahal dari biasanya. Menurut mbak kasir, daripada tak menaikkan harga, dengan resiko jatah porsi konsumen berkurang, Eny memilih menaikkan harga agar porsi konsumen tetap. Tapi sekarang tulisan itu tak ada lagi. Harga kembali normal. Yang semula tertulis tak berlaku lagi.

Tentu, SBY dkk tak sedang mengelola restoran. Meskipun di situ juga banyak orang makan-minum, tukan suplai, kontraktor, tukang ngamen, tukang parker, plus kasir, para bos dan pelayan. Inilah dunia gelap BBM. Sampai-sampai DPR perlu menggelar Hak Angket (lihat postingan “Angket Gombal”) segala untuk menguaknya. Gimana hasilnya? Halah!

Bah Reggae

The Singer Not The Song Doang

Tidak saja di Monas. Tidak juga di depan Atmajaya atau di dekat Moestopo beberapa saat setelahnya. Itu hanya sebagian kecil. Masih banyak yang lain. Tapi intinya, capnya sama saja. Kekerasan. Khusus untuk aksi-aksi mahasiswa belakangan ini berkenaan dengan kenaikan harga BBM (bersubsidi) cap itu bertambah lagi. Anarki.

Lalu, beberapa pihak merasa terganggu. Mengapa melempar pendapat harus dengan batu? Mengapa pakai pentungan? Mengapa menganiaya? Mengapa merusak? Mengapa memacetkan lalulintas? Mengapa kenyamanan, keamanan dan sejumlah variasi varian turunan ”kepentingan umum” menjadi terganggu?

Malah, tak sedikit dari mereka yang merasa terganggu – setidaknya merasa nggak sreg — itu kemudian ada juga yang bertanya-tanya. Jika aksi itu mengatasnamakan rakyat, kepentingan rakyat yang mana yang diperjuangkan? Kami juga rakyat, kami (mungkin) juga merasakan yang Anda rasakan, tapi kok …. dst. Seru.

Lebih seru lagi argumen dari mereka yang dikesankan atau terang-terangan ngaku terlibat dalam aksi itu. Demikian pula argumen mereka yang sedikit atau banyak membenarkannya.

Kami diprovokasi. Mereka yang nantang duluan. Jangan salahkan kami, karena kebijakan yang tak adil itulah yang membuat kami demikian. Besar mana kerugiannya: Aksi kami atau kebijakan yang tak adil itu? Ini kerja anasir. Mereka inilah yang menunggangi. Mereka sedang memancing di air-keruh… dst.

Tapi, masih ada yang lebih nggilani lagi. Mereka ini bilang, ”Inilah Indonesia”. Busyet!

Haruskah selalu cuma berputar-putar dan berakhir seperti itu? Cuma mak plenyik begitu? Nyanian memang selalu indah. Tapi, umumnya, agar semakin banyak lagi orang yang bisa dan rela menikmati nyanyian itu, akhirnya juga tergantung pada bagaimana aksi penyanyinya.

Next »