Nov 4th, 2008
Sebagai Hamba Setia Neo-Lib Sudah Sepantasnya Begitu
Di tengah krisis global begini adalah tepat jika kita rajin bersyukur. Bukan hanya karena banyak orang tak bosan-bosannya bilang indikator ekonomi dan bank kita bagus. Atau, soal antisipasi pemerintah yang terkesan rapi dan serius. Tapi, mungkin, pertama-tama, kita harus bersyukur karena ekonomi negeri ini tak dipasrahkan ke anak-anak di Tempo.
Coba Anda periksa apa yang mereka tulis di “opini redaksi”-nya itu (Tempo, 3-9 November 2008, hal. 24). Di tengah aneka desakan yang meminta SBY dkk menurunkan harga BBM (bersubsidi), Tempo malah mengusulkan agar subsidi BBM sekalian saja dicabut.
Bagi Tempo, adalah tak bijaksana jika harga BBM bersubsidi – gara-gara harga minyak dunia merosot – lalu diturunkan. Tak bijaksana pula, jika nantinya harga BBM itu dinaikkan lagi ketika harganya di pasar dunia merangkak naik. Yang bijaksana, menurut mereka, ya itu tadi, subsidi BBM dihapus saja.
Lalu, sore kemarin, masuk SMS seorang teman yang mengomentari “opini redaksi” Tempo itu. “Sebagai hamba setia neo-lib sudah sepantasnya begitu,” begitu bunyi SMS itu. Dan teman ini adalah awak Tempo yang mengaku bukan siapa-siapa. Apalagi neo-lib.
Macam-macam kepala, aneka pula suaranya, itu biasa. Biasa pula, jika lalu ada yang dominan, sementara yang lain tak dapat tempat. Jadinya, SMS teman itu kiranya cuma hendak mengabarkan, bahwa hal-hal yang biasa itu – dan terjadi di mana pun – sedang terjadi di Tempo. Dan mungkin dengan cara yang biasa sekali.