Feb 12th, 2008
Perayaan Tak Melulu Pesta

“Yang kami tahu, kami telah tidak sensitif terhadap sebuah keyakinan. …..kepada sidang pembaca, dengan tulus dan rendah hati kami mohon maaf”. Begitulah akhirnya yang ditulis Tempo minggu ini sehubungan dengan sampul The Last Supper Suharto edisi sebelumnya yang banyak diprotes kalangan Kristen.
Permohonan maaf itu juga sekaligus “mengakhiri” hak individual Tempo – lewat argumen panjang lebar — untuk ikut serta perayaan pesta besar-besaran jaman ini dalam memaknai (kembali) ide/teks apapun yang terlanjur ada di pasar, termasuk pula yang berawal dari Leonardo da Vinci itu.
Tapi, namanya saja perayaan. Maka tentunya pesertanya macam-macam. Setidaknya, tak semuanya berkepala seperti Tempo. Terbukti, ada protes itu. Lebih seru lagi, kepala berbeda itu berangkat ke pesta perayaan dengan bekal suatu keyakinan yang sedikit banyak tak bisa diganggu-gugat.
Perbedaan bekal pesta itu pun adalah sah-sah saja adanya. Barangkali masih sah pula jika perbedaan itu – seperti yang ditulis di banyak buku — kemudian dilabeli sebagai pergumulan pasar terus-menerus, dengan hadiah yang bisa tergonta-gantikan siapa penerimanya sebagai pihak yang “menang” dan “ yang kalah”.
Beruntunglah Tempo cukup arif dan tak serta-merta merealisir apa yang dinubuatkan buku-buku yang bersukacita habis-habisan atas perayaan itu. Pasalnya, perayaan itu tetap mengandaikan adanya rasa hormat terhadap peserta lain, yang sama-sama memiliki hak untuk berpartisipasi.
Dan benar, seperti diakui Tempo, sensitivitas itulah kata kuncinya, tapi terlewatkan ketika memutuskan untuk mengkreasi Perjamuan Terakhir Suharto itu. Tapi, sekali lagi, harap maklum, inilah pesta perayaan besar-besaran itu. Kegembiraan terkadang memang jadi seperti itu.