Kali ini, suasana menjelang kenaikan harga BBM berbeda dengan sebelumnya. Tiga tahun lalu (Oktober 2005), kurs Rp, suku bunga (BI rate), dan inflasi ”jelek” banget. Tapi, kali ini ”hanya” inflasi yang jelek. Kurs Rp relatif stabil di kisaran Rp 9,200/dolarnya. Sementara BI rate ”hanya” 8.25% tak setinggi Oktober 2005 yang sebesar 10%.
Ini bisa dipakai untuk berharap SBY dkk tak akan senekat Oktober 2005. Waktu itu, sampai-sampai ada istilah G/30S/SBY segala. Pasalnya, pengumuman kenaikannya dilakukan pada 30 September 2005 tengah malam, dengan % yang gila-gilaan (rata-rata naik lebih dari 100%) pula. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, Maret 2005, harga BBM sudah dinaikkan rata-rata 30%.
Mungkin benar, kenaikan nanti tak akan nekat. Tapi, yang pasti, kali ini, ada kenekatan lain yang sengaja diproduksi oleh SBY dkk beserta mereka yang OK harga BBM naik. Mereka ramai-ramai menggugat kaum yang mereka anggap beruntung. Mereka jadinya mirip Bang Rhoma ketika menyanyikan ”yang kaya makin kaya”, atau Bob Marley dengan Survival-nya.
How can you be sitting there/Telling me that you care/That you care?/When every time I look around/The people suffer in the suffering/In everyway, in everywhere…..I tell you what/Some people got everything/Some people got nothing/Some people got hopes and dreams/Some people got ways and means.
Yusuf Kalla, misalnya, menyebut kenaikan kali ini ala Robin Hood. ”Ini sistem Robin Hood dipakai. Ambil dari yang kaya untuk yang miskin,” katanya sembari cengengesan. Omongan ”kompor” Kalla ini persis dengan Faisal Basri. Katanya, ”Dengan menaikkan harga BBM, kita mengambil uang dari orang kaya untuk diberikan kepada si miskin”.
SBY pun berkompor-ria. Katanya, ”Saya serukan agar yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, dan yang mendapat keuntungan lebih karena naiknya harga energi dan pangan membantu rakyat dan negara. Itu baru adil. Kita tidak ingin makmur sendiri-sendiri, tetapi ingin makmur bersama-sama”.
Kompor juga melanda media. Tempo (28/4-4/5/2008, hal 22), misalnya. Hanya untuk menyatakan dukungannya pada kenaikan harga BBM, majalah ini sampai perlu-perlunya mencomot statistik yang sebetulnya tak bicara apa-apa. Kataya, ”Subsidi minyak sejatinya lebih dinikmati kaum berpunya – para pengguna kendaraan bermotor….. Kaum berduit mengkonsumsi bensin 8,2 kali lebih banyak ketimbang kelompok miskin”.
Inilah sumbu kompor itu. Subsidi BBM dianggap hanya menguntungkan para kaya. Pasalnya, merekalah yang lebih banyak mengkonsumsi BBM (bersubsidi). Padahal, sesungguhnya, si miskin pun menikmati subsidi itu. Meskipun umumnya tak langsung, jika itu diukur dengan berapa konsumsi BBM mereka.
Karenanya, menurut orang-orang semacam Mubyarto, ”Dampak negatif kenaikan harga BBM bagi para non-kaya itu bukan karena mereka mengkonsumsi BBM langsung, tetapi karena kenaikan biaya transpor bahan-bahan pokok kebutuhan mereka, yang secara langsung mendorong harga bahan-bahan pokok tersebut”.
Kemudian ada pertanyaan, bagaimana dengan aneka aksi seperti bantuan langsung, raskin dll? Bukankah ini bisa meredam dampak negatif itu dan semuanya menjadi beres? Jawabnya, mungkin. Tapi yang pasti, aneka aksi itu hanya membenarkan bahwa kompor itu jadinya terlalu berlebih-lebihan.
Tapi, begitulah kompor. Dimana-mana selalu seperti itu. Api tetap yang terpenting. Untuk merayakan kobarannya, fakta lain terpaksa harus disembunyikan. Bahwa kobaran itu bisa dipakai sebagai indikasi bahwa kali ini ada kekalutan yang lebih hebat dari sebelum-sebelumnya, mungkin ini soal lain.