Archive for the tag 'the last supper'

Bah Reggae

Nothing Better The Feeling Is So Fine

Mungkin jaman dulu pun sudah begitu. Tapi di jaman ini, setidaknya terkesan, “nothing better the feeling is so fine” – seperti yang dikredokan Red Chili Peppers di By The Way (2002) – semakin terlihat berhamburan. Selalu begitu. Pendeknya ngoca-cola. Siapa saja, dimana saja, kapan saja.

Tempo, ketika mengangkat The Last Supper Suharto kemarin itu, sangat boleh jadi juga berangkat dari klaim nothing better itu. Celakanya, ada orang-orang lain yang berhak pula bernothing better atas karya Leonardo da Vinci itu. Lebih serem lagi, dasarnya menyangkut sesuatu yang relatif susah dikompromikan.

Bahwa Tempo kemudian “surut”, lewat boks permintaan maaf di edisi berikutnya, itu bagus. Pasalnya, tak semua klaim antar nothing better yang satu dengan pihak lain selalu berakhir damai seperti itu. Di banyak kesempatan, orang umumnya dibiarkan menderita – setidaknya diharap maklum – atas klaim nothing better pihak lain.

Di mal-mal misalnya. Adalah pemandangan biasa ketika si emak bernothing better sibuk milih-milih baju, sementara bayinya ia biarkan tidur digendongannya, dengan kepala kecilnya yang terpental-pental kesana-kemari mengikuti gerakan slawean tangan si emak.

Pihak lain, yang melihat kelakukan si emak itu dan mungkin memiliki nothing better lain — mengklaim lebih sayang anak, misalnya — diminta “harap maklum”. Sejauh ini, belum pernah ada cerita ada orang yang kemudian menjawil pundak si emak itu sambil berkata, “Mbok jangan gitu, Dul”.

Harap maklum personal terpaksa kita produksi ketika di bioskop terlihat bapak-emak dengan cengengesan ngajak balita-nya nonton film horror. Mungkin saja bapak dan mak itu menganggap film itu konyol dan lucu. Tapi bisa jadi, si balita justru ketakutan mengapa konyol dan lucu yang cuma seperti itu rame-rame didagangkan.

Ketika SBY dkk kemarin pamer penghormatan gila-gilaan lewat perkabungan nasional untuk Soeharto, lagi-lagi kita – yang mungkin memiliki pertimbangan nothing better secara lain – dituntut mengerek bendera harap maklum itu tinggi-tinggi.

Ini persis kejadian di kampung saya. Munyuk itu, yang lulus SD saja belum, diizinkan warwer-warwer dengan motor mininya. Sementara munyuk lain, yang usianya sedikit lebih tua dari munyuk satunya – tapi jelas jauh belum layak beroleh SIM – dengan motor tanpa saringan knalpot, yang suaranya asu banget, boleh menggedel kesana-kemari.

Tampaknya, atas nama the art of living, semuanya harus dikembalikan ke harap maklum. Bahwa kita punya ukuran sendiri soal nothing better, dan karenanya kemudian menjadi sedikit atau banyak tersiksa, ya harap maklum lagi. Gampang kan? Atau, gimana kalau apaboleh buat? Busyet deh? Jangan!

Bah Reggae

Perayaan Tak Melulu Pesta

the last supper in cendana

“Yang kami tahu, kami telah tidak sensitif terhadap sebuah keyakinan. …..kepada sidang pembaca, dengan tulus dan rendah hati kami mohon maaf”. Begitulah akhirnya yang ditulis Tempo minggu ini sehubungan dengan sampul The Last Supper Suharto edisi sebelumnya yang banyak diprotes kalangan Kristen.

Permohonan maaf itu juga sekaligus “mengakhiri” hak individual Tempo – lewat argumen panjang lebar — untuk ikut serta perayaan pesta besar-besaran jaman ini dalam memaknai (kembali) ide/teks apapun yang terlanjur ada di pasar, termasuk pula yang berawal dari Leonardo da Vinci itu.

Tapi, namanya saja perayaan. Maka tentunya pesertanya macam-macam. Setidaknya, tak semuanya berkepala seperti Tempo. Terbukti, ada protes itu. Lebih seru lagi, kepala berbeda itu berangkat ke pesta perayaan dengan bekal suatu keyakinan yang sedikit banyak tak bisa diganggu-gugat.

Perbedaan bekal pesta itu pun adalah sah-sah saja adanya. Barangkali masih sah pula jika perbedaan itu – seperti yang ditulis di banyak buku — kemudian dilabeli sebagai pergumulan pasar terus-menerus, dengan hadiah yang bisa tergonta-gantikan siapa penerimanya sebagai pihak yang “menang” dan “ yang kalah”.

Beruntunglah Tempo cukup arif dan tak serta-merta merealisir apa yang dinubuatkan buku-buku yang bersukacita habis-habisan atas perayaan itu. Pasalnya, perayaan itu tetap mengandaikan adanya rasa hormat terhadap peserta lain, yang sama-sama memiliki hak untuk berpartisipasi.

Dan benar, seperti diakui Tempo, sensitivitas itulah kata kuncinya, tapi terlewatkan ketika memutuskan untuk mengkreasi Perjamuan Terakhir Suharto itu. Tapi, sekali lagi, harap maklum, inilah pesta perayaan besar-besaran itu. Kegembiraan terkadang memang jadi seperti itu.