Archive for the tag 'toko kaset/cd'

Bah Reggae

Funky Eksperimental. Pameran Bass & Drum

Cerewet tapi nggenah. Mungkin anak-muda seperti inilah yang membuat Bandung tak membosankan. Kota semrawut itu memang belantara outlet, distro, makanan, dan aneka dagangan kreatif. Tapi, aneh, di toko-toko kaset/CD, variasi dagangannya amat memprihatinkan. Untuk soal ini, Bandung jadinya mirip banget dengan Yogya.

Ada sih yang lumayan. Hard & Heavy (Planet Dago), misalnya. Tapi, bandrolnya busyet banget. Sementara toko-toko lainnya, yang jumlahnya paling hanya beberapa biji itu, bisa dibilang ”kartu mati”. Umumnya mereka berkiblat ke model disc-tarra atau toko-toko kaset/CD ”kampung” yang pating tlecek di (pinggiran) Jakarta.

Jika saja masih ada Suara Kenari, Yess, dan Monalisa, mungkin Bandung tak akan ”sekering” itu. Bali pun kering setelah tak ada Mahogani. Begitulah jaman bajak-bajakan yang membuat dagangan musik jadi lebih variatif telah lewat.

Untunglah, di Bandung masih ada toko kecil di jalan Cipaganti itu. Toko kaset/CD second itu nyempil di dekat lampu merah. Tak seriuh Jl Surabaya, Menteng Jakarta. Tapi lumayanlah. Lebih untung lagi, di situ ada si mas yang selalu bertopi, entah siapa namanya, yang melayani konsumen dengan cerewet tapi nggenah. Cas cis cus.

”Nirvana lagi kosong. Tapi, ini ada The Vines. Dijamin mirip,” katanya. Ia juga crita Pearl Jam yang justru malah kelimpungan mencari-cari bentuk padahal sudah OK banget di Ten. Yang paling parah album barunya (Pearl Jam) yang self tittle itu. There is no soul any more, katanya. Busyet.

Lalu apa katanya tentang Primus? Menurutnya, band ini mungkin kalah ngetop ketimbang pemain bola Linvoy Primus yang main di Portsmouth itu. Juga kalah beruntung dibanding Primus Yustisio yang berhasil menikahi sesama pesinetron Jeihan Fahira. Tapi, katanya, Les Claypool dkk inilah yang berani mencampur funky dan eksperimental.

Malah, kalau saja Hillel Slovak tak mati muda, bisa jadi Red Hot Chili Peppers akan berebut lahan yang sama dengan Primus ini. Begitu katanya sambil menyodorkan 2 album lama Primus — Sailing the Seas of Cheese (1991) dan Tales of the Punchbowl (1995) — yang kebetulan ada di situ.

”Sayangnya, tak ada Pork Soda (1993). Ini album yang asyik banget ,” katanya sembari menggoyangkan tubuhnya ngikuti nomor Mrs Baileen. Tangannya serabutan. Sebentar ngebas. Sebentar ngedrum. Mungkin membayangkan aksi Tim Alexander. Lalu ngebas lagi. Lalu ngedrum. Primus memang betotan bas dan ketukan drum yang asyik.

Bah Reggae

Sindrom Munyuk dalam Toko

Kaset/CD musik itu mungkin ibarat kartu HP. Ia harus agresif dijajakan. Kalau perlu di tengah jalan umum seperti dagang kartu HP. Dan karena belum terdengar kabar ada pengguna jalan yang menabrakkan kendaraannya pada papan dagang kartu HP, itu berarti cara dagang makan jalan seperti itu OK.

Atau, kalau pun tak sebrutal kartu HP, kaset/CD musik barangkali bisa pula dijajakan seperti dagangan sepatu di toko-toko sepanjang Pasar Baru atau lorong-lorong semrawut di Mal Mangga Dua. Pada setiap (calon) konsumen akan selalu diserukan seruan mendayu-dayu, “Ya, boleh, sepatunya….”.

Boleh jadi mbak dan mas di toko kaset/CD tak akan setuju disebut agresif. Mereka lebih memaknainya sebagai bentuk keramah-tamahan untuk sekadar membantu konsumen. Maka bak mesin otomatis mereka akan bilang, “Bisa dibantu……” pada setiap (calon) konsumen yang masuk ke tokonya.

Memang, belum pernah juga terdengar kabar ada (calon) konsumen batal beli kaset/CD gara-gara keramahan mbak-mbak dan mas-mas itu. Tapi yang pasti, tidak setiap (calon) konsumen, ketika masuk di toko kaset/CD, selalu perlu dibantu. Mereka akan lebih senang jika dibiarkan sendiri mencari-cari pilihannya.

Lebih seru lagi, jika keramahan “bisa dibantu” itu dipraktekkan di toko-toko kaset/CD yang telah melebeli rak-rak dagangannya berdasarkan genre dan “gender” artis, apalagi jika sudah mengurutkan nama artis berdasarkan abjad segala. Itu kan sama saja menganggap konsumen nggak melek huruf.

Yang gombal lagi, ketika terlihat orang tua mengkis-mengkis menanyakan apakah album-album Blur masih ada, maka setelah menjawab “Wah, udah habis, Pak”, mbak/mas itu masih juga dengan ramahnya bertanya, “Buat cucunya ya, Pak?”. Busyet deh, sok tahu benar. “Kalau yang lama-lama, di rak sebelah sanaan, Pak”. Munyuk!