Jun 19th, 2008
Funky Eksperimental. Pameran Bass & Drum
Cerewet tapi nggenah. Mungkin anak-muda seperti inilah yang membuat Bandung tak membosankan. Kota semrawut itu memang belantara outlet, distro, makanan, dan aneka dagangan kreatif. Tapi, aneh, di toko-toko kaset/CD, variasi dagangannya amat memprihatinkan. Untuk soal ini, Bandung jadinya mirip banget dengan Yogya.
Ada sih yang lumayan. Hard & Heavy (Planet Dago), misalnya. Tapi, bandrolnya busyet banget. Sementara toko-toko lainnya, yang jumlahnya paling hanya beberapa biji itu, bisa dibilang ”kartu mati”. Umumnya mereka berkiblat ke model disc-tarra atau toko-toko kaset/CD ”kampung” yang pating tlecek di (pinggiran) Jakarta.
Jika saja masih ada Suara Kenari, Yess, dan Monalisa, mungkin Bandung tak akan ”sekering” itu. Bali pun kering setelah tak ada Mahogani. Begitulah jaman bajak-bajakan yang membuat dagangan musik jadi lebih variatif telah lewat.
Untunglah, di Bandung masih ada toko kecil di jalan Cipaganti itu. Toko kaset/CD second itu nyempil di dekat lampu merah. Tak seriuh Jl Surabaya, Menteng Jakarta. Tapi lumayanlah. Lebih untung lagi, di situ ada si mas yang selalu bertopi, entah siapa namanya, yang melayani konsumen dengan cerewet tapi nggenah. Cas cis cus.
”Nirvana lagi kosong. Tapi, ini ada The Vines. Dijamin mirip,” katanya. Ia juga crita Pearl Jam yang justru malah kelimpungan mencari-cari bentuk padahal sudah OK banget di Ten. Yang paling parah album barunya (Pearl Jam) yang self tittle itu. There is no soul any more, katanya. Busyet.
Lalu apa katanya tentang Primus? Menurutnya, band ini mungkin kalah ngetop ketimbang pemain bola Linvoy Primus yang main di Portsmouth itu. Juga kalah beruntung dibanding Primus Yustisio yang berhasil menikahi sesama pesinetron Jeihan Fahira. Tapi, katanya, Les Claypool dkk inilah yang berani mencampur funky dan eksperimental.
Malah, kalau saja Hillel Slovak tak mati muda, bisa jadi Red Hot Chili Peppers akan berebut lahan yang sama dengan Primus ini. Begitu katanya sambil menyodorkan 2 album lama Primus — Sailing the Seas of Cheese (1991) dan Tales of the Punchbowl (1995) — yang kebetulan ada di situ.
”Sayangnya, tak ada Pork Soda (1993). Ini album yang asyik banget ,” katanya sembari menggoyangkan tubuhnya ngikuti nomor Mrs Baileen. Tangannya serabutan. Sebentar ngebas. Sebentar ngedrum. Mungkin membayangkan aksi Tim Alexander. Lalu ngebas lagi. Lalu ngedrum. Primus memang betotan bas dan ketukan drum yang asyik.