Archive for the tag 'Yogya'

Mau memelas, mau heroik, sah-sah saja. Tema sosial atau personal bukan masalah. Sangat inspiring atau nggak, juga bukan tuntutan yang jadi babi buta. Bahkan jika artis “sosial” ngledek artis “memelas” tak mengapa. Biasa. Serahkan saja semuanya pada ahlinya: kuping. Sejauh masih ada kuping, jadilah. Begitulah pop.

Maka sukseslah d’Masive (Perubahan, 2008) lewat Cinta Ini Membunuhku. Bahwa nanti ada kover-version — yang membuat nomor ini agak macho atau bahkan lebih memelas lagi – tapi sukses di pasar, itu bisa saja terjadi. Tapi yang pasti, suksesnya kover-version itu akan tergantung setidaknya pada 2 hal. Siapa artisnya dan pasar mana yang hendak disasar.

Belum tentu pasarnya Wiranto dan Prabowo Subianto bisa rela keplok ketika lagu itu dinyanyikan oleh para korban Mei 1998. Apalagi jika itu dinyanyikan dengan model “ring back tone” yang, misalnya, dengan sengaja memilih hanya mengulang-ulang beberapa bait pertamanya saja.

Kau membuat, ku berantakan. Kau membuat, ku tak karuan. Kau membuat, ku tak berdaya. Kau menolak ku, acuhkan diri ku.

Barangkali pasar Prabowo dan Wiranto akan meminta lagu itu diakhiri saja ketika Aquarius Pondok Indah – yang pernah habis ketika Jakarta menjadi “tanpa pasukan keamanan” – menyanyikannya. Nyanian itu mungkin juga akan ditolak pasar Sutiyoso ketika diputar di tengah gilanya kemacetan sepanjang Pondok Indah akibat proyek busway yang gilanya jauh lebih keterlaluan lagi.

Nyanyian para petani Kulon Progo yang (akan) tergusur pabrik tambang bijih besi (?) mungkin juga akan ditolak pasar Sultan dan para pendereknya. Di situ ada Moeslim Abdurrahman, Sukardi Rinakit, Garin Nugroho, Franky Sahilatua.

Ada juga yang disebut “siluman” (Kompas, 22 November 2008, hal 5). Siapakah mereka? Arifin Panigoro, Beni Susetyo atau kelompok “Memetri Yogya”? Entahlah. Konon “memetri” ini adalah penyelamatkan citra Sultan ketika terjadi gempa dahsyat di Yogya beberapa waktu lalu. Utamanya, di awal paska gempa. Kabarnya, waktu itu, Sultan pas tak ada di Yogya.

Tapi begitulah, negeri ini bukan cuma Jakarta, Kulon Progo atau Yogya. Masih tersedia daerah lain yang bisa “diberantakin”. Karenanya, artis kover-version ring back tone Cinta Ini Membunuhku oleh mereka tak diambil peduli. Bagi mereka, berantakan di tingkat lokal mungkin justru jadi amanah untuk ngurusin hal-hal yang lebih besar.

Bah Reggae

Hip-hop Jowo? Sengkuni Leda-lede

Ini satu lagi dagangan yang serius banget. Hip-hop Jowo. Kompas, di sekitar-sekitar perayaan Urban Fest di Ancol kemarin, kalau tak salah, pernah memberitakannya. Katanya, para penggagasnya (wong Yogya?), hendak menggabungkan puisi, bahkan juga serat Cintini, dengan hip-hop.

Tapi, bahwa hasilnya bisa sedahsyat itu, ini yang mencengangkan. Benar-benar mengundang keplok. Beda jauh banget, misalnya, jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Djaduk Ferianto dkk yang terkesan banyak cengengesannya itu.

Mungkin begitulah pop. Orang kementus boleh saja bilang, tak ada yang baru di situ. Biarkan saja. Yang jelas, di pop ada gelegak kreativitas. Mau dibilang baru atau lama, terserah. Yang penting ini: to create. Dan itu menembus batas. Semua yang mungkin menjadi lebih mungkin lagi. Tak peduli itu indie atau major label.

Contoh paling gres ya “hip-hop Jowo” itu. Saya sendiri baru dengar dari radio. Prambos Yogya sering memutarnya. Salah satu nomor asyik, saya lupa entah judul apa, tapi yang jelas, liriknya ada Sengkuni-nya segala. Unik. Mendut-mendut. Laik untuk kesehatan kuping agar tak hanya dipasok (rock) yang itu-itu melulu.

Sengkuni leda-lede. Melu baris ngarep dhewe. Barisane menggok. Sengkuni malah ndheprok.

Kabarnya, mereka, “hip-hop Jowo” ini, sudah merilis 2 album kompilasi. Dan dalam waktu dekat ini akan keluar album ke-3nya. Benar? Di Jakarta, album-albumnya didagangkan di mana saja yak?

Bah Reggae

Permak Lepis Coldplay

Tak gampang cari tukang “permak lepis” yang pas untuk semua. Tak ada one size fits all seperti judul album Frank Zappa (1975) itu. Pasalnya, masing-masing konsumen punya pilihan yang tak sama. Karena itulah barisan tukang permak di per4an Mirota Kampus, Yogya, jadi ngetop. Laris. Bahkan konon, di situ, kaos pun bisa dipermak sekiranya konsumen merasa nggak pas.

Tapi, belum tentu Mata Dewa-nya Iwan Fals bisa asyik seperti itu – sekalipun vokal Djodi Setiawan tetap saja mengganggu — kalau bukan Ian Antono tukang permaknya. Di tangan Erwin Gutawa (2004), Andaikan Kau Datang (Koes Plus) juga jadi tambah mak nyus. Theme song-nya Meteor Garden juga terasa edan tenan ketika dinyanyikan Yuni Shara.

Untung-untungan jadinya tinggi banget di pop. Permak yang satu sukses, belum tentu yang lainnya juga bgitu. Mungkin Coldplay lagi beruntung. Lewat sentuhan Brian Eno maka Viva La Vida & Death and All His Friends (2008) menjadi megah. Band ini jadi tak seperti sebelum-sebelumnya yang terkesan hanya berniat sebagai substitusi U2 atau Radiohead.

Di album barunya ini Coldplay tambah macak. Ada pameran perkusi dan gesek. Bau orkestra jadi terasa. Bahkan, Cemeteries of London yang mirip House of Rising Sun pun tetap saja asyik. Begitulah gincu Brian Eno. Padahal sebelumnya ia terlihat kerepotan memoles Surprise-nya Paul Simon (2006) yang tetap saja jelek banget itu.

Tapi namanya saja gincu. Terkadang berlebihan. Ketika itu terjadi, ia bukan lagi sekadar gincu, tapi, ibaratnya bakso kebanyakan sambal. Misalnya saja Death and All His Friend. Atau 42. Nomor yang sebenarnya asyik banget ini malah dirusak dengan kemasan refrain yang terkesan jadi sekadar tempelan begitu.

Tapi, benar, lupakan saja itu. Pasalnya, masih ada Lost, Yes, Viva La Vida, Violet Hill dan Strawberry Hill.

Next »