Mungkin, di Cikeas dulu itu, selain kontrak politik yang mesti diteken, kepada para calon menteri itu SBY juga mengajukan 1 pertanyaan penting. Hanya jika mereka menjawab “bisa”, maka jadilah mereka menteri SBY. Pertanyaan itu adalah, “Apakah Saudara bisa kerjasama dengan Aburizal Bakrie?”.
Lalu, terbukti, Yusuf Anwar ternyata bohong. Ini menteri keuangan pertama SBY. Ia menjawab “bisa”, tapi kemudian berantem dengan Bakrie (waktu itu Menko Perekonomian). Gara-garanya, pajak ekspor (BE) batubara. Yusuf waktu itu bikin aturan, PE batubara 5%.
Bakrie – yang juga bisnis batubara – menolak. Alasannya, karena waktu itu barusan ada kenaikan harga BBM, maka pengusaha jangan dibebani pajak macam-macam. Ia kemudian menyarankan, PE sebesar itu baru berlaku jika harga batubara di pasaran dunia mencapai US$ 50/tonnya. Apa komentar Yusuf?
“Sampai kodok berbulu pun harga batubara tak akan sampai US$ 50/tonnya. Bilang saja tak mau bayar pajak!”.
Dan Yusuf pun didepak SBY. Sementara Bakrie “hanya” digeser jadi Menko Kesra. Sri Mulyani, yang semula KaBappenas, masuk menggantikan Yusuf. Posisi Menko Perekonomian bekas Bakrie diisi Boediono.
Sri Mulyani juga hampir terbukti bohong. Gara-garanya, Bakrie ingin Lapindo ditanggung APBN. Tapi Sri menolak. Bagi Sri, Lapindo – milik Bakrie – hanya bisa masuk APBN jika SBY merubah Inpres tentang siapa yang menanggung biaya dampak lumpur. Lalu Inpres dirubah. Bakrie “hanya” menanggung kawasan lama, APBN kawasan baru.
Bapepam semula pun pusing dengan ulah Bakrie. Pasalnya, Bakrie ingin menjual Lapindo. Bapepam menolak. Alasannya, jika dijual, siapa yang akan menanggung biaya dampak lumpur? Pasalnya, di Inpres lama dinyatakan, semua ditanggung Lapindo. Tapi persoalan lalu beres setelah SBY merubah Inpres. Kawasan lama Bakrie, kawasan baru APBN, seperti tersebut di atas.
Selesai urusan Lapindp, kini Sri berantem lagi dengan Bakrie. Gara-garanya, buy-back saham BUMN. Ada uang APBN sekian trilyun yang bisa dipakai buy-back. Intinya, saham dibeli dengan harga tertentu agar harganya tak semakin melorot. Pasang badan. Masalahnya, saham apa yang dibeli?
Bakrie ingin saham perusahaannya saja yang dibeli. Tapi, Bapepam men-suspens saham Bakrie. Alasannya, rencana bisnisnya – untuk menutup kerugian akibat krisis global — gak jelas. Sri pun ogah memakai uang APBN untuk membeli Bakrie. Bakrie mangkel dan minta bantuan Yusuf Kalla.
Lalu Kalla bilang, perusahaan Bakrie itu aset yang perlu diselamatkan. Sofyan Djalil (Meneg BUMN) sedikit banyak juga OK jika disuruh beli saham Bakrie. Tapi Sri tetap ngotot. Ia usul, beli atau tak beli saham, mau Bakrie atau bukan, yang penting terlebih dulu harus lewat penilaian lembaga independen.
Untuk sementara, usulan Sri itulah yang kelihatannya dipakai SBY. Lalu, “Presiden percaya kepada Ibu Ani. Itu sebabnya beliau diberi kepercayaan menjadi Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian”, kata Andi Mallarangeng Jubir SBY (Kompas, 28 Oktober, hal.17).
Andi juga membantah ada desakan di kabinet agar Sri didepak. “Tidak benar itu. Kabinet tetap solid. Tidak akan ada perombakan kabinet sampai akhir pemerintahan,” katanya. Andi memang banyak tahu. Karenanya, kita tak usah nanya langsung ke Kalla atau Bakrie, siapa yang minta Sri out dari kabinet.